Jadilah PEMALAS, PEMBENCI, PENUNDA dan PELUPA

Suci Ayu Kurniah
Karya Suci Ayu Kurniah Kategori Motivasi
dipublikasikan 14 Juni 2016
Jadilah PEMALAS, PEMBENCI, PENUNDA dan  PELUPA

Jika membaca judul di atas, saya yakin anda akan bertanya-tanya.  Mana ada motivasi untuk menjadikan pribadi yang pembenci, pemalas, penunda dan pelupa. Tulisan ini terinspirasi dari pernyataan dua motivator favorit saya yaitu Mario Teguh dan Bong Chandra. “Jangan salah, malas itu bisa dikondisikan” begitu kata Mario Teguh dalam program TV, Mario Teguh Golden Ways. Saat itu saya sangat terkesima dengan pernyataannya itu. Baru sadar ternyata malas itu ada yang positif juga.

1. Pemalas yang positif

Karakter macam apa ini sebenarnya? Pemalas yang positif? Yap! Malas yang dimaksud oleh Bapak Mario Teguh itu adalah malas melakukan hal-hal yang dapat mengganggu fokus anda pada target yang ingin dicapai. Misalnya anda memiliki target untuk menyelesaikan paper exam malam ini. Maka anda seharusnya bisa mengkondisikan rasa ‘malas’ saat itu. Malaslah untuk bergaul dengan teman-teman yang suka bergosip karena akan menghabiskan waktu anda. Malaslah untuk menonton televisi yang menguras waktu sampai berjam-jam itu hingga anda dapat menyelesaikan tugas sesuai target.

Jadilah pemalas yang positif. Pemalas yang ‘malas’ bergaul dengan orang-orang yang tidak memberikan manfaat pada pengembangan diri. ‘Malas’ untuk menonton program-program televisi yang hanya menampilkan hiburan komersil, fiktif, dan mengumbar harapan-harapan buta. ‘Malas’ untuk duduk berjam-jam di depan komputer untuk berkenalan dengan orang-orang yang kerjanya cuma say hi, malas mencari gambar-gambar negatif dan membaca ramalan-ramalan palsu. Dan berfokuslah pada teman-teman yang memberikan dukungan moral, sugesti, motivasi dan inspirasi. Berfokuslah pada acara-acara inspiratif, berita-berita terkini, dialog sosial dan buatlah inovasi, karya-karya dan kreatifitas saat anda memutuskan untuk duduk sejenak melapangkan pikiran dan mengisinya dengan ilmu-ilmu dan menuangkan hasil penalaran, analisa dan kreativitas dalam bentuk tulisan, dan yang lainnya. Bukankah itu malas yang positif?

2. Pembenci yang positif

Pembenci juga ada yang positif? Ada. Kenapa tidak. Jujur, saya sendiri termasuk karakter seorang pembenci. Sangat benci dengan kekerasan, ejekan, sinetron, dan hal-hal yang berlebihan. Benci pada orang yang suka merendahkan orang lain, benci mendengar kata-kata kotor dan juga sangat benci akan konflik dan pemutusan silaturrahmi. Hanya saja ada beberapa konflik yang justru saya dukung yaitu perlawanan kepada pemerintah/raja yang lalai akan tugasnya dan lengah atas bawahan yang tidak becus. Saya juga mendukung perlawanan terhadap guru yang tidak mau dikritik dan memberi penilaian yang tidak sesuai kepada siswa bahkan mendukung perlawanan terhadap orang tua yang menyesatkan dan mengajarkan anak-anaknya sesuatu yang sesat. Saya mendukung perlawanan-perlawanan itu. Yang penting dengan perlawanan yang benar dan tidak semena-mena. Tetap dalam koridor dan jalan kasih sayang. Jika penggambaran di atas menunjukkan seorang pembenci yang positif, maka anjurannya:

jika ingin menjadi seorang pembenci yang positif, maka bencilah yang negatif-negatif dan cintailah yang positif-positif.

3.  Penunda yang positif

Ini lagi. Bukankah menunda waktu itu tidak pernah dianjurkan? Kok bisa ada lagi penunda yang positif? Awalnya pertanyaan seperti ini juga yang timbul dalam benak saya. Tapi Bong Tjanra, sang motivator termuda di Asia, telah merubah pandangan saya terhadapan kata ‘menunda’. “Tundalah untuk menunda” kata Bong Tjandra di acara Apa Kabar Indonesia pagi beberapa waktu silam. “Tundalah untuk menunda” dalam artian “BERSEGERALAH dalam kebaikan”.

Ilustrasinya:

a. Jika anda memiliki tugas kuliah atau tugas kantor, dan terbesit dalam pikiran anda untuk menunda sejenak, maka tundalah rencana anda untuk menunda. Segeralah selesaikan tugas-tugas anda dan tersenyumlah lebar ketika tugas anda telah selesai.

b. Jika anda memiliki ide cemerlang yang anda pikir akan bermanfaat, maka tundalah untuk menunda. Segerakan kecemerlangannya. Jika pun salah, itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. Lebih cepat salah akan menyegerakan kebenaran. Iya kan?

c. Jika anda melakukan kesalahan terhadap diri anda sendiri, kepada Tuhan atau kepada orang lain, maka segerakan bertaubat, minta maaflah dan lakukan perbaikan SEGERA. Tundalah rencana anda untuk menunda perbaikan.

Mulai hari ini, aku akan SEGERA menunda penundaan, sehingga SEGERA pula aku terlibat dalam tindakan dan pekerjaan baik yang membebaskanku dari rasa minder karena malas, dan dari rasa gelisah karena ketidak-mampuan.

Semua ini, aku lakukan sebagai pemenuh syarat, bahwa jika aku berupaya, Tuhan akan memperbaiki kehidupanku, mendamaikanku dalam keluarga yang penuh cinta, dan menyejahterakan keluargaku dengan rezeki yang penuh berkah. Aamiin (Mario Teguh)

4. Pelupa yang positif

Nah, pelupa yang positif. Anda punya masa lalu yang buruk? Punya teman-teman yang pernah menyakiti hati anda tapi tidak mau minta maaf? Apakah anda baru saja tersinggung? Jika anda merasa demikian, maka lupakanlah semua itu. Disinilah awal untuk menjadi pelupa yang positif. Tetapi, sepertinya untuk menjadi pelupa yang positif, diperlukan kerja keras dan tekad yang kuat. Karena, ‘mengingat’ itu lebih gampang daripada ‘melupakan’.

Saya mengajar di sebuah institusi swasta. Mengajar anak-anak SD yang nakal, tidak mau mendengar guru dan banyak yang lainnya. Kadang-kadang saya enggan untuk menghadapi mereka. “Kalau ini bukan kewajiban dan tanggung jawab saya, saya tidak akan mengajar di kelas ini” begitulah yang timbul di benak saya. Tetapi, apakah saya harus menyerah pada anak-anak itu? Bukankah tugas saya untuk mendidik dan membaikkan mereka? Sempat juga ketika itu timbul dendam dalam hati saya. Sangat memalukan. Kenapa tidak saya lupakan saja rasa sakit hati saya dan menyejukkan hati yang panas dengan semangat pelayanan prima. Tentu lebih baik bagi saya dan mereka. Jadi, lupakan saja. Akhirnya saya bisa melewati dan menamatkan mereka dengan hasil yang baik. Sekiranya saya masih dendam dan acuh tak acuh di kelas, entah apa yang akan terjadi. Mungkin saat itu malaikat enggan lagi mendo’akan kebaikan untuk saya yang keras hati dan menyesatkan anak-anak negeri ini. Lupakanlah.

Termasuk lupa akan masa lalu dan orang-orang yang pernah menyakiti hati anda. Maafkanlah diri anda dan orang lain. Mulailah pembaruan hidup dengan semangat menggapai kebaikan di masa depan. Jadilah pelupa yang positif.

Bersahabatlah dengan kehidupan dan berdamailah dengan masa lalu. Semua itu terlalu berharga untuk dimusuhi.

Sekian tips dari saya. Semoga dapat memberi manfaat terutama untuk diri saya sendiri. Jika ada perbedaan persepsi dan tidak menyetujui penjelasan ini, bisa diberi komentar tapi harap dengan jalan kasih sayang. Mengkritik yang membangun. It’s all about perception. Think Positive ^_^

2011

  • view 386