Ketika Kita Memiliki Tuhan

Suci Ayu Kurniah
Karya Suci Ayu Kurniah Kategori Agama
dipublikasikan 10 Juni 2016
Ketika Kita Memiliki Tuhan

Seorang Ahli Hakikat berkata: "Tuhan itu ada di pikiran manusia. Jika saat melakukan sesuatu, saat berbicara, dan melakukan apa saja tanpa memikirkan Tuhan, maka pada saat itu ia tidak memiliki Tuhan"

Saya merenung sejenak. Apa benar ?
Saya kemudian teringat dengan ungkapan lain:
Agama menganjurkan kita untuk melibatkan Tuhan di setiap perbuatan. Saat makan, minum, tidur, bersuci, semua perbuatan baik disunnahkan untuk membaca basmalah, menyebut nama Allah.
Bahkan seorang ulama pernah berkata "bahkan untuk berbuat maksiat pun bacalah basmalah, insya Allah perbuatan maksiat itu tidak akan terjadi. Coba aja suruh pencuri sebelum mencuri baca bismillah dulu. Insya Allah gak jadi nyuri" ^_^

Saya mencoba merenungkan hal ini. Benarlah. Kita memang harus memikirkan Tuhan sebelum melakukan sesuatu karena ketika tidak memikirkan Tuhan, kita berpeluang untuk melakukan maksiat. Kalau sampai maksiat itu terjadi, maka tentu pada saat itu kita tidak memikirkan Tuhan, pada saat itu kita tidak memiliki Tuhan. Yang menjadi Tuhan kita adalah HAWA NAFSU.
Saya lalu teringat gambaran Allah firman-Nya

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah : 23)

Al-Hafizh Abul Fidaa’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata, “Maksudnya, ia hanya mengikuti keinginannya (hawa nafsunya). Apa pun yang dipandang baik oleh keinginannya, maka ia lakukan dan apapun yang ia pandang buruk, maka ia meninggalkannya”. [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (7/268) oleh Ibnu Katsir, cet. Dar Thoybah]

Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pengatur dirinya, yang mengarahkan dirinya kepada segala yang diinginkan oleh jiwa, tanpa memandang batasan-batasan Allah, maka pelakunya telah mempertuhankan hawa nafsunya.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata,“Barangsiapa yang mencintai dan menaati sesuatu; ia mencintai dan membenci karena sesuatu tersebut, maka sesuatu itu adalah tuhannya. Barangsiapa yang tak mencintai dan membenci, kecuali karena Allah serta ia tak berloyal dan memusuhi, kecuali karena Allah, maka Allah adalah ilah-nya (Tuhannya) yang sebenarnya. Barangsiapa yang mencintai dan membenci sesuatu karena hawa nafsu (keinginan jiwa)nya serta ia berloyal dan memusuhi (sesuatu) karena hawa nafsunya, maka tuhannya adalah hawa nafsunya”.[Lihat Jami' Al-Ulum wal Hikam (hal. 210), cet. Dar Al-Ma'rifah, 1408 H]

Subhanallah, ketika kita makan mengingat Allah tentu kita berusaha untuk tidak mubadzir dan serakah, ketika minum mengingat Allah tentu di dalamnya ada rasa syukur dan do'a semoga air itu memberi manfaat bahkan obat, saat kita berbicara mengingat Allah tentu kita senantiasa lemah lembut, takut berbohong, menghindari ucapan yang buruk, semuanya yang kita katakan hanyalah kebenaran dan kebaikan, saat kita menulis mengingat Allah, tentu yang kita tulis hanyalah yang baik-baik, yang menenangkan, memberi semangat, do'a, tidak menyakiti orang lain. dan sebagainya.

Jadi, yuk sama-sama berusaha melakukan sesuatu dengan tidak melupakan Allah dan selalu melibatkan-Nya bahkan saat di dunia maya sekalipun, saat update status, upload foto, beri komentar, masuk ke grup, bermain game Libatkanlah Allah. Jangan libatkan hawa nafsu dan syaithonirrojiim. Insya Allah yang kita peroleh adalah kebaikan. ^_^

Picture Source: Here

  • view 66

  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    @Uchie Ayu, Firman Allah => ???????????? ???? ???????? ???????? ??????? ??????????? ??????? ????? ?????? ???????? ????? ???????? ?????????? ???????? ????? ???????? ????????? ?????? ????????? ???? ?????? ??????? ??????? ???????????? [??????? : 23]
    .
    .
    #TandaTanya?