Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Motivasi 30 Mei 2018   09:06 WIB
Iqra'

(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, (4) yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam, (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-'Alaq: 1-5)

Tidak
didapati kata-kata yang lebih mendalam dan alasan yang lebih sumpurna daripada ayat-ayat ini (Surah Al-‘Alaq ayat 1-5) dalam menyatakan pentingnya membaca dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan bahagiannya. Dengan itu mula dibuka segala wahyu yang akan turun di belakang. (Hamka)

Membaca dan menulis merupakan aktivitas mendasar yang sangat besar pengaruhnya baik bagi personal, maupun secara komunal terhadap kemajuan sebuah bangsa dan negara. Ia menjadi kunci terhadap wahyu pertama yang turun.

Berbicara tentang dunia literasi, atau yang sederhananya biasa dianggap sebagai kecakapan dalam baca-tulis, terpampang jelas dalam teks Surah Al-‘Alaq yang memerintah Muhammad SAW untuk membaca (ketika itu). Hal itu menandakan vitalnya peran literasi dalam Islam (hingga Al-Qur’an pun menyerunya). Ibarat aliran air, maka membaca diibaratkan sebagai sebuah hulu. Ia memegang peranan penting pada konstruksi pola pikir manusia, bagaimana ia memandang segala sesuatu dan permasalahan dengan kepakarannya dan wawasan pengetahuan yang ia dapat dari aktivitas (literasi) itu.

Kemajuan dunia ICT yang cukup pesat melahirkan fakta bahwa dunia kini seolah bisa diakses dengan kelincahan jari-jemari – melalui smartphone canggih dengan konektivitas jaringan (internet) yang luar biasa cepat – hingga dianggap menjadi revolusi industri 4.0 yang dialami manusia. Jarak sudah bukan lagi menjadi halangan dan penghambat interaksi manusia terhadap dunia luar. Kemajuan teknologi transportasi memangkas jarak itu, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi pun bahkan menghilangkan sekat jarak itu, dari belahan bumi bagian timur, kita bisa tau apa yang terjadi di belahan bumi bagian barat dengan cepat, kita bisa berkirim berkas melalui email, telepon lintas negara, bahkan hingga video call. Segala kemajuan itu telah semakin memudahkan manusia dalam berbagai halnya. Apapun menjadi serba bisa, serba ada, dan serba mudah. Dengan segala kemajuan itu, maka muncul pula apa yang disebut sebagai konsumerisme.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menerjemahkan konsumerisme sebagai (1) gerakan atau kebijakan untuk melindungi konsumen dengan menata metode dan standar kerja produsen, penjual, dan pengiklan; (2) paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya, gaya hidup yang tidak hemat (cenderung boros).

Kemajuan teknologi bertransformasi menjadi bukan sekedar kemajuan yang membuat manusia semakin ringan dan mudah dalam beraktivitas, tapi dampaknya juga berpengaruh pada terkikisnya nilai-nilai moralitas dan keagamaan. Eksistensi agama masih tetap dapat terlihat dengan jelas. Tapi nilai-nilai yang terkandung dalam agama semakin memudar. Nilai-nilai perjuangan, kemanusiaan, pembebasan yang merupakan ruh agama mulai terkikis. Agama ibarat hanya menjadi sebuah oase di tengah gurun kering. Nilai-nilai yang terkandung dalam agama dihayati dan diaktualisasikan dengan baik. Mencuatnya budaya konsumerisme menjadi salah satu sebabnya sebagai salah satu akibat berantai dari kemajuan dunia ICT.

Islam yang hadir sebagai pembaharu – dari tradisi dan agama nenek moyang (di Arab), dari kejahiliyahan – harus bisa menyikapi perubahan zaman. Dalam konteks kekinian, maka Islam harus merespon perkembangan dan kemajuan ICT dengan alternatif-alternatif baru yang bernafaskan Islam, sehingga tidak akan menghilangkan nilai perjuangan, pembebasan, dan kemanusiaan dalam Islam itu sendiri. Sebaliknya Islam akan semakin kukuh sebagai sebuah agama yang hak dan menjadi rahmat bagi semesta raya. Bukan hanya Islam dengan kesalehan individual semata, tapi juga islam yang tercermin dalam anggunnya moral, unggulnya intelektual dan salehnya pula dalam kehidupan bermasyarakat (kesalehan sosial).

Dalam Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq (ayat 1-5) memegang peranan penting sebagai landasan teologis dunia literasi secara luas. Bukan hanya dalam konteks membaca dan menulis semata, tapi juga memahami hakikat manusia, hakikat penciptaan, dan aspek kebermanfaatan dalam membaca dan menulis.

(1) Bacalah! dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, (4) yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam, (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-'Alaq: 1-5)

Lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq yang juga lima ayat pertama yang diturunkan Allah SWT itu bisa menjadi dasar jawaban terhadap revolusi industri 4.0 kini.

Ayat pertamanya memerintahkan dan menegaskan kepada manusia untuk membaca. Membaca bukan hanya dalam teks, tapi juga membaca lingkungan sekitar dan realita, sehingga dapat memahami kehadiran Allah SWT dalam setiap kondisi. Melalui aspek membaca ini pulalah, perkembangan agama (Islam) terbuka.

Ayat keduanya kembali menegaskan kepada manusia untuk memahami realitasnya, memahami hakikat penciptaannya. Bahwa manusia adalah segumpal darah. Artinya adalah dengan membaca dan memahami sekitarnya dan realitasnya, manusia akan memahami hakikatnya, memahami dirinya yang hanya segumpal darah. Memahaminya berarti memahami hakikat penciptaan secara luas yang berarti juga membuka cakrawala ilmu pengetahuan (sains).

Ayat ketiganya berbicara dengan perintah membaca (lagi) – sebagaimana perintah di ayat pertama – tapi, dengan memberikab batasan bahwa manusia sebagai makhluk Allah SWT, manusia tunduk pada Allah SWT, manusia berada dalam kuasa Allah SWT. Maka, esensinya adalah bahwa manusia dituntun untuk membaca dalam berbagai hal, dalam rangka memahami dirinya dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Memahami materi dan eksistensi manusia itu sendiri sebagai makhluk Allah SWT.

Ketiga ayat pertama tersebut menjadi landasan utama dalam membaca. Bukan hanya membaca teks, tapi membaca berbagai hal dan fenomena serta realita yang terjadi. Membaca adalah gerbang utama ilmu pengetahuan. Dengan membaca maka sains dan kebenaran ilmiah akan dapat ditemukan. Ia (membaca) juga membuka keterbatasan-keterbatasan manusia. Membuat manusia memahami batasnya dan melampaui keterbatasan itu. Penemuan-penemuan sains yang terjadi merupakan contoh bagaimana manusia mampu memahami itu semua melalui membaca secara luas.

Sementara itu, ayat keempat dalam Surah Al-‘Alaq menegaskan peran qalam (semacam pena) sebagai instrumen atau alat pendukung. Allah SWT mengajarkan banyak hal pada manusia dengan menuntut manusia untuk membaca. Membaca apa yang tertulis (oleh pena). Manusia dituntut untuk membaca namun bukan hanya secara individual, tapi juga secara kolektif, membaca sebagai aktivitas sosial, dengan perantaraan sang pena. Di ayat ini, secara mudah sejatinya bisa dipahami sebagai motivasi dan dorongan bagi manusia untuk menulis. Menulis untuk menyebarluaskan wawasan pengetahuan dan menyampaikan ide atau gagasan. Pramoedya Ananta Toer, bahwa menulis adalah mengabadikan ide dan gagasan, berbagai hal ditulis untuk diwariskan pada masa depan (generasi selanjutnya). Tanpa tulisan, tak akan ada sejarah.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. (Pramoedya Ananta Toer)

Terakhir, ayat kelima menegaskan Allah SWT sebagai yang maha tau. Dia (Allah SWT) mengajarkan apa-apa yang manusia tidak tau sehingga menjadi tau. Di sisi lain, ayat ini mengandung nilai penting berupa tradisi mengajar atau dalam kata lain tradisi belajar bersama, atau dengan diksi lain bisa kita sebut dengan diskusi. Ayat ini juga menyiratkan pentingnya untuk menyebarluaskan apa yang kita memiliki pengetahuan atasnya, tentunya dalam rangka menebar manfaat, membuat kehidupan manusia yang lebih baik.

Maka dalam memahami kelima ayat perdana yang turun di muka bumi ini, saya memahaminya dalam suatu siklus. Dimulai dengan membaca sebagai aktivitas pertama dan paling utama, sebagai pondasi intelektual dan tradisi literasi serta keilmuan. Dilanjutkan dengan berdiskusi sebagai ajang bertukar wawasan dan ide atau gagasan, sehingga kita dapat lebih memahami segala sesuatunya secara holistik. Lalu aksi sebagai aktivitas ketiga, yang salah satunya diwujudkan dengan menulis dan mengajarkan. Aktivitas ketiga bertujuan untuk menyebarluaskan pandangan kita, ide dan gagasan kita, pengetahuan-pengetahuan kita sehingga terjadi apa yang disebut dengan transfer pengetahuan. Langkah keempat dalam siklus ini adalah dengan evaluasi, yakni mengevaluasi apa yang sudah kita kerjakan, gagasan yang kita usung, dan sebagainya. Siklus membaca-diskusi-aksi-evaluasi ini adalah siklus yang terjadi dan berputar terus-menerus dan harus dipahami oleh setiap personal, terutama para pegiat atau aktivis sehingga mampu menghasilkan gagasan-gagasan atau ide-ide luar biasa.

Lantas bagaimana untuk kembali membudayakan literasi di tengah kondisi literasi di Indonesia yang lemah? Bagaimana menggalakkan literasi sebagai hal primer yang diperintahkan dan dituntunkan oleh Al-Qur’an langsung bahkan sebagai ayat yang pertama-tama diturunkan?

Ketika kita telah memahami kondisi literasi di Indonesia, gempuran budaya barat, mulai bertransformasinya buku (hard copy) menjadi artikel-artikel blog, video, status-status media sosial yang kurang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, mulai terkikisnya nilai-nilai keagamaan karena timbulnya budaya konsumerisme sebagai akibat dari kemajuan teknologi, dan bilamana kita telah memahami secara tekstual maupun kontekstual terhadap ayat-ayat yang pertama turun di muka bumi (Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5) maka sudah semestinya kita bergerak untuk memperbaiki itu semua, sebagai langkah awal menuju kehidupan dan peradaban yang lebih baik. Aspek membaca, aspek pena (menulis), dan aspek pengajaran (pewarisan atau transfer pengetahuan dan gagasan) adalah kunci dari itu semua. Dan ini semua juga sudah menjadi salah satu “pekerjaan rumah” para aktivis, pegiat literasi, dan umat islam, serta seluruh elemen bangsa dan negara tentunya. Namun, petutlah kiranya bagi kita untuk memprakarsai dan menjadi pionir suatu gerakan untuk menggalakkan kembali gerakan literasi itu.

Turunnya Surah Al-'Alaq (ayat 1 hingga 5) menjadi pertanda akan urgensi tradisi ilmiah. Ia memerintahkan dan menegaskan Muhammad SAW untuk membaca, untuk memandang realitas dan membuka jalan bagi wahyu-wahyu lain yang turun setelahnya.

Oleh karenanya, Islam yang mendaulat diri sebagai rahmatan lil 'alamin dituntut untuk mampu mengatasi problema yang dihadapi umat manusia dan meluruskan kembali jalan yang telah melebar. Bagaimana semakin bergeliatnya kapitalisme dan neo liberalisme, kemajuan ICT dan revolusi industri 4.0 yang berdampak pula memunculkan budaya konsumerisme dan menggeser nilai-nilai moralitas dan keagamaan. Berbagai "perang" dilakukan di media online seolah tak mencerminkan adab atau etika komunikasi, hujatan-hujatan terlontar bebas, fake news dan hate speech tersebar dengan liar.

Berdasarkan pada wahyu perdana dalam Surah Al-'Alaq, langkah penyadaran terkait pentingnya literasi menjadi misi yang sangat urgent. Pemahaman terhadap wahyu perdana tersebut harus ditransformasikan dalam kehidupan manusia. Menggalakkan dan mengkampanyekan budaya membaca harus dilakukan sehingga juga akan memicu geliat penulisan.

Belakangan mulai bermunculan kalangan-kalangan baik secara personal ataupun secara komunal yang menyadari pentingnya membaca dan mulai menyediakan fasilitas baca berupa buku-buku bacaan yang disewakan bahkan digratiskan untuk dibaca. Mereka mendirikan rumah baca, taman baca, perpustakaan jalanan, pustaka bergerak, perpustakaan bergerak, dan lain-lain semacamnya. Itu semua dalam rangka kembali memunculkan minat dan budaya baca masyarakat. Dengan banyak membaca, tradisi ilmiah akan berlangsung dan masyarakat akan mempunyai wawasan luas serta pemahaman yang holistik dalam memandang suatu hal. Melalui itu pula, akan muncul para pemikir atau intelektual, cendekiawan dengan pemikiran-pemikiran dan ide-ide atau gagasan-gagasan yang sudah barang tentu menopang kemajuan Indonesia dalam rangka menggapai cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

Selain daripada itu, memasifikasikan majelis atau forum-forum ilmu, diskusi, dan semacamnya juga menjadi salah satu alternatif cara untuk kembali menggeliatkan intelektualitas masyarakat.

Islam adalah sebuah guidance atau pedoman, petunjuk bagi umatnya. Ia menjelaskan dan mengatur segala aspek kehidupan. Maka, dengan landasan Surah Al-'Alaq ayat 1 sampai ayat 5 itu harus terus dipegang erat sehingga literasi yang menjadi salah satu faktor penting dalam kemajuan suatu bangsa dan negara bisa diperbaiki.

Gempuran teknologi informasi dan komunikasi yang demikian hebat tidak lantas membuat kepakaran dan tradisi intelektual serta nilai-nilai moralitas dan agama manusia memudar. Sebaliknya, kemajuan ICT harusnya mampu dimanfaatkan dengan bijak. Berbagai informasi yang beredar di dunia maya pun harusnya mampu difilter dengan baik sebab bagaimanapun, bebasnya interaksi dunia maya seolah telah menghilangkan gap dan tabir pemisah antara kebenaran dan kepalsuan. Kebeneran bisa jadi akan tertutupi oleh kelihaian para buzzer yang menyebarkan hoax demi suatu kepentingan kalangan tertentu.[]

Karya : ubay nizar