Bahagia Dan Sedih Dalam Waktu Yang Bersamaan

Ubai Dillah
Karya Ubai Dillah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Maret 2016
Bahagia Dan Sedih Dalam Waktu Yang Bersamaan

Hiruk pikuk terdengar dari dalam rumah di ujung gang buntu itu. Keheningan malam pecah oleh senda gurau karib kerabat walau tak sedarah yang sedang berpesta. Karib kerabat itu rupanya sedang menikmati sinar rembulan sambil bermain tebak-tebakan -- Permainan yang sebenarnya tidak sesuai lagi dengan usia mereka - . Acap terdengar Gelak tawa, namun sesekali tampak gurat sedih nan haru. Dua Kunang-kunang yang sedang menikmati malam di taman depan rumah itu dengan lampu alami dari tubuhnya tampak kebingungan kala mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Padahal rumah itu selalu tampak sunyi hampir sepanjang malam.

?Ini pesta kebahagiaan atau kesedihan?.?

?Menurutku ini pesta bahagia, lihat saja mereka menjulurkan jari kemudian berebut menjawab, yang terakhir menjawab wajahnya di poles pakai pewarna bibir lalu mereka terbahak-bahak. Begitu seterusnya.? Jawab si kunang jantan

?Aku tidak yakin, coba kau lihat wanita yang memakai penutup kepala itu. Dia tertawa tapi meneteskan air mata seperti ada gurat kesedihan diwajahnya.? Sanggah si kunang betina.

Kedua kunang-kunang itu bersepakat untuk terus mengamati kerumunan yang tak biasa di rumah itu hingga jelas sebenarnya pesta macam apa yang membuat tawa dan tangis beradu dalam waktu bersamaan. Hawa dingin berhembus melewati celah pintu, tanda bahwa hari sudah mulai larut. Sekumpulan karib itu sudah mulai kehabisan kata untuk diadu dan wajah mereka telah penuh dengan coretan pewarna bibir berwarna merah persis seperti coretan di wajah tentara yang akan bertempur di medan perang. Akhirnya, mereka berpamitan, berpelukan sembari berucap terima kasih untuk malam yang tak biasa itu dan wanita dengan penutup kepala itu kembali dirundung sunyi berteman sinar rembulan.

Kedua kunang-kunang itu beranjak dari celah pintu, mencari wanita itu. Alangkah terkejutnya ketika melihat wanita itu menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya. Bersimbah airmata meluapkan kedukaan yang begitu dalam. Kedua kunang-kunang itu semakin bingung, ada apa gerangan dengan wanita ini. Malam semakin larut, kedua kunang-kunang memilih untuk bersitirahat di taman agar esok kala mentari menjelang mereka bisa ikut mengamati penyebab gelak tawa kala berkumpul karib dan tangisan wanita itu dalam waktu bersamaan.

Embun pagi menetes diantara dedaunan di bumi yang tinggi adat itu, tetesan jatuh tepat di tubuh kedua kunang-kunang indah itu. Mereka terbangun, bersijengkat bersiap untuk membasuh jiwa dengan air suci. Keduanya melihat jendela kamar wanita itu terbuka, sesosok wanita yang semalam menangis sedu kini telah berdandan rapi pas dengan penutup kepala yang mereka tidak tahu itu apa namanya ?di dunia kunag-kunang belum ada yang memakainya- . Wanita itu bergegas meninggalkan rumah itu dan menyerahkan kunci pada orang lain. Kedua kunang-kunang itu heran, bukankah rumah itu sejak lama ditempati wanita itu? Karena semakin penasaran dibuatnya, si kunang jantan dan betina itu memutuskan untuk mengikuti wanita itu kemana ia pergi.

Sampai di sebuah gedung lima lantai, wanita itu bergegas masuk dengan sedikit terburu-buru. Dengan sisa nafas yang sudah sampai di kerongkongan dan sisa tenaga yang hampir tiada, keduanya mirip sejoli yang sedang kawin lari karena cinta tak direstui dan lunglai seperti ajal menanti. Matahari kian terik menyinari bumi, ditambah hawa panas dari laut samudera menyerbu daratan membuat keduanya harus segera berteduh sebelum tubuh mungil itu kering seperti ikan teri yang di goreng renyah di sekitar danau maninjau.

Di dalam gedung nan tinggi menjulang, wanita itu berjumpa dengan banyak sekali karib nya yang lain, tampak pula karib yang semalam berkumpul di rumahnya. Gurat senyum dan tawa kian ramai. Mereka berkisah tentang hiruk pikuk pesta aneh malam sebelumnya. tak sedikit pula beberapa karib yang memeluknya erat dan tak kuasa membendung air matanya hingga tumpah ruah membasahi penutup kepala yang panjangnya menutupi hampir separuh badan itu.

Sambil berteduh di bawah pendingin ruangan, kedua kunang itu mengumpulkan tenaga sembari beristirahat dengan tatapan penuh takjub akan peristiwa itu. Keduanya kembali terbenam dalam kebingungan bagaimana tangis dan tawa, bahagia dan sedih bisa hadir dalam waktu yang bersamaan. Mungkin hanya manusia yang bisa melakukannya, ataukah di dunia kunang-kunang tidak pernah ada kesedihan?. Bisa jadi. Lamat-lamat terdengar ucapan kesedihan penuh haru diantara kumpulan karib itu. Lebih kepada doa kepada wanita itu semoga selamat sampai tujuan, doa agar selalu sehat dan sukses dimanapun bertugas. Setiap karib yang ditemui wanita itu hampir semuanya mengucap harapan dan doa yang sama dengan berurai air mata. Tak salah lagi, pesta semalam adalah pesta perpisahan wanita itu dengan karib kerabatnya di bumi nan elok ini.

Setelah semua karib di gedung itu ia temui, dan air matanya telah habis di kucurkan wanita itu bersama beberapa karibnya mendekati mobil berwarna coklat muda yang telah bersiap dengan pintu yang terbuka, lengkap dengan sopir yang telah menunggunya dengan penuh haru seperti hamba sahaya yang akan kehilangan majikan yang baik hati. Tanpa terkecuali wanita tukang parkir gedung yang datang memeluknya dengan erat walau dengan baju lusuh dan keringat yang bercucuran,tak menghalangi keduanya untuk mengucap salam perpisahan dan permohonan maaf atas segala khilaf.

Kedua kunang-kunang itu menatap haru, mereka saling melempar pandang kali ini dengan penuh keyakinan bahwa baru kali ini menyaksikan manusia yang tinggi budi ternyata di jamu dan di lepas pula dengan penuh rasa hormat dan cinta yang mendalam. Sayangnya, keduanya tak punya air mata untuk di teteskan, tenaga mereka hampir habis. Selain itu kunang-kunang tidak menggunakan tenaga matahari, tapi tenaga bulan di kala malam menjelang dengan cahaya dari tubuh mereka maka mereka harus mengatur sisa tenaga dengan baik. terlalu lama keduanya tenggelam dalam peristiwa itu hingga wanita itu memasuki mobil dan beranjak pergi. Mereka tersadar, mereka lupa tidak ikut menyusup kedalam mobil itu.

?Aku akan mengikuti mobil itu hingga dimana berhenti, maukah kau ikut denganku??

?Tapi angin begitu kencang dan panas, dengan sisa tenaga ini apakah yakin kita bisa menyusul mereka??tanya si kunang betina

?Ini bukan tentang bisa atau tidak, tapi ini tentang nilai persahabatan, cinta, dan rasa hormat, kita akan bawa kisah ini kedunia kita, tapi kita harus tuntaskan kisahnya?jawab kunang jantan dengan bijak.

?Baiklah, aku ikut denganmu kali ini.? Kunang betina menjawab yakin.

Keduanya terbang meninggalkan gedung itu, walau dengan sayap kecil dan tenaga yang pas-pasan namun keyakinan telah membuat keduanya percaya bahwa kelemahan tidak boleh menjadi penghalang dalam sebuah perjuangan. Nafas mereka naik turun, jauh rupanya mobil itu pergi, kadang mereka lihat dari kejauhan dan seringkali kehilangan jejak karena kalah cepat namun kedua kunang-kunang itu tetap mampu membuntutinya. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah hamparan padang luas, terik, burung besi berjejer rapi dan presisi. ?Ternyata ini yang di sebut-sebut bandara.? Gumamnya.

Tiba-tiba si kunang betina terjatuh di jalan beraspal yang panas menyengat, ia tak sanggup lagi mengepakkan sayapnya. Si kunang jantan langsung menghampirinya, menepuk-nepuk pipinya, ia tak bergeming. Lalu di gendongnya si kunang betina sekuat tenaga menuju gedung bandara itu, ia mencari pendingin ruangan yang bisa menyadarkan kembali si kunang betina. Tak lama berselang si kunang betina membuka mata nya perlahan, tampak gurat senyum terpampang di depan wajahnya ternyata si kunang jantan menyeringai penuh bahagia karena ia telah siuman.

?Kita sudah tiba karibku, perjuangan kita tak sia-sia, kita akan bawa kisah haru ini kepada kaum kerabat kita di dunia kunang-kunang.?

?Itulah watakmu sejak kecil karibku, kemauan dan keras kepalamu untuk tahu hal-hal baru tak akan bisa kubendung, walau aku harus merengek sekalipun.?Si kunang betina berkata pelan sambil tersenyum.

Dengan dipapah si kunang jantan, kunang betina di ajaknya untuk duduk di pendingin ruangan yang lain sembari menyaksikan wanita bertutup kepala itu dengan karib nya di dalam bandara. Tiba-tiba dari pengeras suara terdengar lantunan kata yang rapi tertata seperti memanggil para penumpang burung besi untuk segera menaikinya.

Wanita itu hanya di antar seorang lelaki dan seorang perempuan dengan penutup kepala berwarna hijau hingga kedepan pintu keberangkatan, sementara karib yang lain hanya bisa memandang dari kejauhan. Wanita itu kembali memeluk erat kedua karibnya dengan isak tangis yang tak terbendung lagi secara bergantian. Sayup terdengar oleh kedua kunang-kunang itu bahwa wanita itu berharap mereka akan kembali bersua, tak lupa ia menitipkan pesan agar kedua karibnya itu untuk saling menjaga dan menyayangi sambil menyatukan tangan keduanya sebagai tanda bahwa itu bukan sekedar permintaan tetapi sebuah janji sebagai karib kerabat.

Wanita itu berjalan pelan menuju pintu keberangkatan dengan menuntun koper kecilnya, sesekali ia menyeka air mata perpisahan itu dengan penutup kepala yang panjang itu, begitu sedih dan dalam rupanya sebuah perisahan dengan kaum kerabat. Begitu indah tuhan mencipatakan rasa senang dan sedih. Membolak balikkan keduanya dalam waktu yang bersamaan. Wanita itu melambaikan tangan terakhirnya dari dalam ruang pemeriksaan sebelum menaiki burung besi nan gagah itu. Kedua kerabat membalas lambaian tangan itu dengan tertunduk menyeka air mata yang mengucur deras membasahi pipi sebelum akhirnya wanita itu lenyap dalam pandangan menuju kedalam perut burung besi.

Tanpa disadari kedua kunang-kunang itu bersimbah air mata, keduanya saling bertatapan, memandang penuh haru, dan berpelukan begitu erat. Ternyata beginilah manusia berkaum kerabat, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, setiap ada kebahagiaan pasti juga ada kesedihan. gumam si kunang jantan dalam batinnya.

Lama kunang berkarib itu berpeluk haru, tiba-tiba pelukan si kunang betina mengendur dan terlepas dari tubuh si kunang jantan. Terhenyak si kunang jantan, di goyang-goyangnya tubuh si kunang betina, di tepuk ? tepuk pipinya lalu ia periksa detak jantungnya. Tak bergeming. Tak berdetak. Si kunang jantan berteriak, meminta tolong, tapi tak ada satupun manusia yang mendengar jeritannya. Tak ada kunang-kunang yang lewat di siang hari, semuanya terlelap hingga malam tiba. Si kunang jantan berteriak histeris,

?Oh tuhan, mengapa engkau ambil karib ku ini, disaat kami baru belajar kepada manusia tentang cinta, persahabatan dan ketinggian budi??teriaknya dengan berurai air mata.

?Tuhan, belum sempat kami kabarkan kepada kaum kami bahwa ketinggian budi akan mendatangkan cinta dan rasa hormat yang begitu tinggi.? Si kunang jantan bersimpuh di depan karibnya si kunang betina yang terbujur kaku.

Sebagai wujud rasa hormat kepada karibnya itu, si kunang jantan tak akan membiarkan tubuh karibnya kaku dibawah pendingin ruangan bandara. Dengan tatap penuh keyakinan walau jarak tempat mereka tinggal nun jauh disana, walau untuk mengayun sayapnya sendiri ia sudah tak sanggup, ia bertekad membawa karibnya ini untuk dikuburkan dengan terhormat bagaimanapun caranya. Maka di gendongnya tubuh karib yang tiada itu terbang menuju rumah kaum kunang ? kunang.

Ditengah terik sinar matahari yang menusuk tubuh hingga ke tulang, membakar ubun-ubun hingga mendidih si kunang jantan mengayuh sayapnya dengan tertatih, sesekali ia hampir terjerembab dalam panas jalanan beraspal seperti penggorengan yang siap menyantapnya untuk dijadikan penganan ringan yang gurih.

Kepakan sayapnya kian melambat, tubuhnya tak mampu lagi menahan terik dan berat bebannya. Tubuhnya lemas, matanya menjadi sayu, hampir saja ia pingsan sebelum akhirnya terjerembab ditengah jalan beraspal. Dan benar, begitu panas, seperti wajan dengan pembakaran sempurna. Tak kuasa ia menahan lelah, ia peluk karibnya dengan begitu erat dan ia mulai tersadar bahwa ajal sepertinya telah datang di pelupuk mata.

?Tuhan, terima kasih telah engkau ajarkan kami tentang berjuang dalam keterbatasan, terima kasih telah ajarkan kami tentang cinta, berkarib kerabat dan persahabatan sejati. Dan sepertinya ini pembelajaran yang kami dapatkan untuk terakhir kalinya. Seperti manusia, kami harus merasakan bahagia dan sedih dalam waktu yang bersamaan.? Kalimat itu ia ucapkan dengan terbata seraya memeluk erat karibnya si kunang betina sebelum akhirnya ajal menjemput menuju alam nan abadi.

- Medan, 13 Maret 2016 -

  • view 400