Gema dikala Sepi

Ubai Dillah
Karya Ubai Dillah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 09 Maret 2016
Gema dikala Sepi

Palu telah diketuk hakim tertinggi jagad raya. Waktu dua menit dua puluh detik dikultuskan untuk pertemuan yang dinanti sejak terakhir perjumpaan keduanya tiga belas abad silam. Tanpa letih dan lelah bulan mencari dimana rimbanya sang matahari. Pertemuan yang singkat namun sarat akan hikmah.

Pagi yang tak biasa di hari kesembilan pada bulan ketiga, matahari beranjak dari peraduan dengan perkasa, berdandan begitu rapi, dan menggunakan wewangian mewah. Tak ada hal yang membuatnya bahagia hari itu selain ihwal pertemuannya dengan bulan. Bulan pun serupa dengan matahari. Ia rela bermandikan bunga segar semalam suntuk agar di saat pagi menjelang, diwaktu yang ditentukan hakim tertinggi bulan tampak bugar untuk bersejajar dengan matahari.

Beberapa waktu sebelumnya, khalayak telah ramai memperbincangkan pertemuan keduanya. Gema, begitu cara singkat orang-orang berbincang dan bersepakat untuk menyebut gerhana matahari ini. seperti kisah yang mencair setelah dibekukan berabad-abad lamanya. Berbagai macam perangai khalayak menyiapkan peristiwa itu seperti layaknya sebuah pesta dengan menyiapkan kacamata khusus nan megah, ritual dan sesaji, hingga beribadah sebagai wujud refleksi dan introspeksi akan keagungan sang hakim tertinggi jagad.

Matahari telah beranjak meninggalkan peraduannya setinggi ujung tombak. Menunggu karib jauh yang telah lama ia nantikan. Menurut ketetapan bulan akan menghampirinya dengan perlahan, penuh wibawa dan tak ada keraguan dalam dirinya bahwa bulan telah di utus oleh hakim tertinggi jagad yang bersemayam di arsy. Lamat ? lamat bulan mulai menampakkan diri. Jantung berdegup kencang. Langit menjadi sendu. Keduanya saling bertatap rindu. Menyimpan gema suara, hasrat ingin saling menyapa tapi apa daya pita suara tak bergeming. Seperti ada isakan yang tertahan dari pertemuan keduanya.

Puluhan juta pasang mata khalayak dengan wajah bahagia, dan haru biru hingga tak terasa air mata telah menyentuh pipi turut menyaksikan kisah pertemuan karib yang belum tentu di saksikan bagi generasi berikutnya itu. Mereka berkumpul di hamparan padang, di atas gunung yang menjulang hingga pantai yang berpasir putih lengkap dengan kacamata - untuk sekedar bergaya atau menghindari malu karena mata yang sembab setelah menangis- kamera, bahkan stasiun televisi siap menayangkan secara langsung euforia peristiwa agung ini.

Bulan tampak begitu sendu saat mendekati garis sejajarnya dengan matahari. Sementara karibnya hanya berdiri mematung seperti menekin di etalase toko yang gagah namun tak berdaya. Kedua karib menunjukkan keteduhan mata yang sama persis tiga belas abad silam. Sinar matahari yang setiap pagi ia curahkan kepada manusia, pelan namun pasti diberikan untuk karibnya hingga membuat kota yang indah menjadi redup. Hingga akhirnya bulan berada persis sejajar dengan matahari dan kota benar ? benar gelap gulita walaupun waktu masih pagi hari.

Tiga belas abad hanya berbayar dua menit dua puluh detik. Memang tak sepadan dengan lelah dan jengah keduanya menemukan garis sejajarnya hanya untuk bersua. Namun itulah ketetapan hakim yang tidak mungkin keduanya ingkari. Keduanya berpelukan erat, begitu erat tanpa sepatah kata terucap. Air mata tak tertahan, perjumpaan penuh haru dan bahagia menyelimuti kedua karib ini. Mengisyaratkan kepada manusia bahwa pagi itu mereka meminta waktu sejenak untuk tidak bertugas seperti biasa.

Raut bahagia memancar, keduanya berbincang melalui hamparan cahaya. Karib itu saling bertanya kabar, berapa usia, hingga penyakit apa yang sering menjangkit kala berkeliling di galaksi mencari garis sejajar sesekali terdengar senda gurau hingga keduanya tertawa dalam tangis haru. Waktu yang ditetapkan telah habis. Kedua karib kembali bersiap untuk berpisah. Kembali pada tugas masing-masing kala pagi dan malam menjelang. Matahari dan bulan kembali berpelukan erat. Saling berpesan agar menjaga amanah dengan baik, menjaga kesehatan karena usia semakin senja dengan harap kelak sang hakim tertinggi jagad mengetuk palu untuk mempertemukan karib itu kembali.

Ribuan pasang mata begitu terpana melihat perjumpaan sekaligus perpisahan itu. Tangis pecah hingga kacamata tak mampu membendung air mata yang membludak penuh haru. Hanya isak tangis yang beradu tanpa jeda, entah di hamparan padang, di pantai hingga di atas gunung. Semua makhluk hidup tak berkata. Detik yang sunyi dan sepi. Sementara manusia yang sedang beribadah penuh kekhusyukan mengagungkan asmaNya sebagai wujud keagungan yang telah mempertemukan kedua karib ini untuk mengajarkan kepada manusia bahwa hakim tertinggi jagad maha pengasih maha penyayang dan menganjurkan untuk tetap menjalin silaturahmi seberapapun jauh jarak membentang.

Bulan mulai bergeser pamit penuh takzim dari hadapan matahari. Pelan ia beranjak dengan tetesan air mata yang tetap tak mampu dibendung oleh rasa pilu berpisah dengan karib. Matahari tetap di tempat, dengan melambaikan cahaya tanda perpisahan penuh harap kembali bersua kepada bulan. Ia harus tetap di tempatnya karena tugas rutin dari sang hakim tak mengenal hari libur. Hingga akhirnya bulan benar-benar menjauh kembali ke peraduan dengan berlinang air mata berbalik arah hingga tak nampak lagi oleh matahari bahwa ia pulang dengan rasa bahagia dan sedih yang menyatu. Matahari kembali bersiap menyebar sinarnya ke muka bumi, menatap manusia yang turut bahagia dan haru melihat perjumpaannya dengan sang karib. Hari itu matahari bersinar dengan cahaya sembab sembari menunggu tiga belas abad berikutnya.

?

Hari kesembilan, bulan ketiga.

-Dalam Penugasanku di Medan-

  • view 156