Bulan Ramadhan : Saat Mewujudkan Ketakwaan

Abu Khatib Kawakibi -
Karya Abu Khatib Kawakibi - Kategori Agama
dipublikasikan 17 Mei 2017
Bulan Ramadhan : Saat Mewujudkan Ketakwaan

Bulan Ramadhan akan segera datang. Bulan penuh ampunan dan lautan pahala untuk bekal memasuki surga. Bulan yang mengajari manusia untuk taat kepada pencipta dan menundukan syahwat serta hawa nafsunya. Pada bulan tersebut banyak orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan, semata-mata hanya ingin meraih ampunan dan limpahan pahala, serta untuk menjalankan kewajiban yang dibebankan pada dirinya, yaitu berpuasa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu ….”  (TQS. Al-Baqarah [02]: 183) dan tak lupa untuk mendapatkan gelar ketakwaan. “agar kamu bertakwa..” (TQS.[02]: 183). Bagi seseorang yang bersegera menuju jalan ketakwaan, Allah telah menjanjikan surga yang luasnya seluas langit dan bumi “dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa(TQS. Ali Imran (3): 133).

Surga. Sebuah tempat yang di inginkan  banyak orang, agar bisa tinggal dan kekal di dalamnya, lantaran tempat tersebut dipenuhi dengan kenikmatan, sebagaimana Allah SWT mengambarkan nikmatnya surga “di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya(TQS. az-Zukhruf [43]: 71). Surga sebuah tempat yang dijanjikan kepada mereka yang bertakwa, yang menjalankan printah dan menjahui larangan-Nya. Janji tersebut (surga), pasti akan ditepati oleh pencipta alam semesta, kehidupan dan manusia, yaitu Allah SWT. Pertanyaannya apakah ketika Allah berjanji akan di ingkari ? Tentu tidak! “Sesungguhnya  Allah tidak menyalahi janji (TQS. Ali Imran (3): 03). Hal ini pertegaskan di dalam sebuah kitab yang tidak ada keraguan akan kebenaran informasi di dalamnya “maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya(TQS. an-Nisa [4]: 82),  di perkuat pula oleh firman  Allah dengan menantang kepada semua yang ada di alam semesta, untuk membuat yang semisal dengan Al-Quran, jika mengangap bahwa Al-Quran adalah sebuah kitab yang tidak benar informasinya “dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (TQS. Al-Baqarah [02]: 23).

Maka bagi siapa pun yang tidak mampu membuat yang semisal dengan Al-Quran maka pada dirinya tidak patut sedikit pun memiliki rasa sombong, yaitu menolak kebenaran informasi Al-Quran dan tidak melaksanakan printah Allah SWT tatkala kita menginginkan surganya. Allah SWT berfirman “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui  (TQS. Al-Jaatsiyah [45]: 18). Kita memahami, tatkala seseorang mengingin masuk dalam surga dan kekal di dalamnya, serta dijauhkan dari neraka, maka jalan satu-satunya adalah menjadi orang yang bertakwa, yaitu orang yang melaksanakan perintah-Nya (syariat) dan menjauhi lanrangan-Nya. Diantara perintah Allah selain puasa di bulan Ramadhan adalah  “hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh…(TQS.[02]: 178). Pertanyaan apakah sudah dilaksanakan? Jika belum, kenapa tidak laksanakan?  Bukankah itu perintah Allah yang wajib dilaksanakan? Sebagaimana perintah Allah untuk menjalankan kewajiaban puasa di Bulan Ramadhan yang terdapat di dalam Al-Quran? Bukankah itu perintah pemilik surga, yang kita banyak berdoa untuk bisa memasuki surganya-Nya? Wahai kaum muslimin apakah engkau juga sudah melaksanakan perintah Allah dalam urusan muamalah (hubungan manusia dengan yang lainya) seperti “perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera…”(TQS. An-Nuur [24]: 02). Bukankah Allah telah menyampaikan “(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya….(TQS. [24]: 01). Lantas bagaimana dengan perintah Allah dalam Al-Quran surat Al-Maidah (05): 38 ? Surat At Taubah (09): 29? Serta surat Al-Maidah: 48  yang menegaskan” dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…”  Apakah seruan tersebut sudah dilaksanakan juga? Jika belum bersegeralah melaksanakan perintahnya, lantaran kita akan di tanya, ketika kita kembali di akhirat disana. Apakah perintah Allah pemilik surga dilaksanakan semuanya ? sebagaimana perintahnya di dalam Al-Quran Al-Baqarah [02]: 208 Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. Pelaksanaan hukum-hukum  Allah pada dimensi hubungan manusia dengan yang lainya hanya bisa diterapkan melalu sebuah Negara.

Oleh karenanya yuk, bersegera menjalankan perintah pencipta kita, Allah SWT. Lantaran dunia tak selamanya. Dunia hanyalah sementara. Ia  hanya fatamorgana. Jangan  pernah terpalingkan oleh dunia. Lantaran kenikmatan ia hanya sementara. Tak pernah kekal selamanya. Karena yang kekal itu akhirat disana. Mau di surga atau neraka ? Tergantung jalan yang kita lalui. Karena jalan itulah penentu akhir cerita hidup ini. Kalau jalan yang kita lalui sebagai aktor penentang hukum Allah, maka ambilah belajaran dari akhir cerita hidup firaun dan orang-orang yang menentang hukum Allah yang berakhir menderita. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,(TQS. At-Tahrim (66): 6) Sebalik kalau akhir cerita hidup kita ingin bahagia, ambilah pelajaran dari  perjalanan cerita hidup sahabat Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Jadi segeralah kembali, jangan melupakan jati diri, sebagai muslim sejati, yang menerapkan perintah ilahi. Yaitu Allah SWT! Dalam semua sendi kehidupan di dunia ini (Islam kaffah (Islam menyeluruh)). AKK17/05/17

  • view 95