Pelajaran Antara Terbit dan Senjanya Matahari

Abu Khatib Kawakibi -
Karya Abu Khatib Kawakibi - Kategori Puisi
dipublikasikan 03 Juli 2016
Pelajaran Antara Terbit dan Senjanya Matahari

             Matahari! Kreasi tuhan semesta alam yang menarik hati, menyinari serta memberikan sumbangsih dalam keberlanjutan kehidupan bumi. Bukan hanya di bumi tetapi bagian dari galaksi bima sakti. Tanpa matahari, tumbuhan tak berfotosintesi lagi, tak menghasilkan bahan makanan, untuk penghidupan. Penghidupan hewan dan manusia, yang tergantung padanya. Matahari! Sinarnya menghangatkan, memberikan harapan. Tak sekedar itu, ia mampu memberikan keindahan, menghias bumi dengan mega merah yang menawan. Baik terbit ataupun senjanya, yang selau menunjukan keindahanya.

            Matahari! Keindahanya di pagi dan sore hari. Banyak tempat di datangi, untuk melihat keindahanya di pagi dan sore hari. Meski harus menempuh jarak yang jauh sekali, tak jarang mengeluarkan biaya banyak lagi. Hanya untuk sekedar menikmati terbit dan terbenamnya matahari. Mereka rela datang ketempat seperti bromo, pantai kuta Bali, untuk sekedar menikmati terbit dan terbenamnya matahari. Namun aku bertanya-tanya? kenapa tidak banyak orang yang terpikat matahari di waktu siang hari? Tidak banyak orang memperhatikanya, apalagi memandangnya? Padahal untuk melihatnya tak membutuh banyak uang, tak harus jauh ke tempat yang menjulang, apalagi  bersusah payah lagi terpayah-payah.  Apa karena ia bersinar begitu lama, hingga terasa biasa dikalangan manusia? Atau ia membuat hitam pada kulit karena panasnya, yang membuat banyak perempuan berlomba-lomba pakai krim tabir surya? Itulah matahari, seharusnya kita bisa mengambil pelajaran dari adanya matahari, ciptaan Sang Ilahi, pelajaran dalam siklus hidup ini. Bak, episode sinetron, yang ada awal, pertengahan dan akhiran.

            Terbit, bersinar dan senjanya matahari, itulah episode yang dijalani. Terbit layaknya lahirnya matahari, bersinar, itulah jalana yang dilalui sedangkan senja atau terbenamnya matahari menandakan waktunya sudah berhenti. Begitu juga hidup manusia, ia punyak jalan episodenya, layaknya matahari atau sinetron di televisi. Manusia ada awalnya, tatkala seperma dan ovum ketemu bersama, dalam rahim wanita. Setelah sembilan bulan lamanya manusia dilahirkan ke dunia, ia bernama balita, mungil lagi jelita, ia suci lagi tak ternoda,  banyak orang yang terpikat denganya, sebagaimana banyak orang terpikat  akan indahnya mentari pagi, lagi berseri-seri. Episode pertama ini berlangsung sampai manusia itu baliq, yang dilanjutkan dengan episode kedua, ia tumbuh dari remja hingga dewasa. Ia bagaikan sinar mentari yang begitu panas di siang hari, panas akan semangat, panas berfikir, hingga ia panas mengukir prestasi, itulah panasnya mentari dan manusia di episode kedua ini, yaitu remaja hingga ia menjadi dewasa.

            Namun seperti mentari yang berada di siang hari, ia tak banyak yang melihat apalagi memandangi. Padahal potensinya jauh melebihi terbit dan terbenamnya, mungkin.. tak banyak memperhatikan lantaran sudah biasa karenaya, atau…umur bersinarnya dianggap begitu lama. Itulah kehidupan manusia pada episode yang kedua, remaja hingga dewasa. Banyak mereka lalai, terbuai, akan gemerlap dunia. Mereka bukannya lalai, dalam mengumpulkan banyak harta, tahta, atau keternaran semata. Mereka juga tidak terbuai oleh rasa malas, justru  mereka semangat untuk meraih sukses. Lantaran difikirnya akan masih bertahan lama, di dunia.

            Sebetulnya, mereka lalai, terbuai bukan masalah dunia, tetapi akhiratnya. Mereka lebih rela meninggalkan salatnya, dari pada pekerjaanya. Mereka lebih rela membuka auratnya, demi limpahan harta serta pujaan kaum pria. Mereka lebih memuja harta, daripada pemiliknya, yaitu Allah. Mereka lebih rela mempertahankan tahta, dari pada membela Agama. Semua, mereka korbankan hanya demi dunia, dunia dan dunia, yang tak begitu lama,

Karena kata Tuhanku, perantauanku, hanya sementara, yang tak menetap selama-lamanya “Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada (malaikat) yang menghitung Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui (TQS al-Mu’minuun [23] : 112-114). Namun banyak dari mereka yang lalai dari memperhatikanya, memandangi setiap langkahnya. Agara selamat dari api neraka, yang begitu membara bahan bakarnya. Oleh karenanya, kita harus menjaga diri, karena episode kedua ini akan segera di akhiri, dengan datang masa tua nanti, sebagaimana akan bersegera datangnya senja mentari, menandakan kehidupan akan segera berganti dengan malam.  

            Begitu juga kehidupan kita, juga akan segera berakhir, sebagaimana berakhirnya mentari yang terik di siang hari, kita akan menghadapi kematian, yang tak tahu kapan, ia akan datang. Celakanya kematian bukan nomor urut, tetapi nomor cabut. Kematian tak dapat di maju atau mundurkan,  layaknya volume yang di dendangkan. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya) (TQS Yunus (10) : 49). Itulah kematian yang akan mengakhiri segala-galanya, bak, setelah senja maka akan datang malam yang gelap gulita. Begitu pula setelah kematian,  maka akan berada dalam gelap gulitanya kuburan.

Sudah siapkah kita menghadapi kematian, yang itu pasti akan terjadi, akan dimintai pertangungjawaban nanti, setiap perbuatan di dunia ini. Disana (akhirat) hanya akan ada dua tempat, surga atau neraka. Kalau kita tidak di surga, maka akan di neraka dan sebaliknya. Itulah yang disampikan dalam kitab yang tidak ada keraguan didalamnya. Kitab(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al Baqarah (02): 02).

Yuk kita bertaqwa, agar kita selamat disana, akhirat! Kehidupan yang panjang lagi lama, dan tidak akan pernah terulang selama-lamanya. Untuk menuju kesana, perhatikan setiap langkah dalam jiwa. Karena tiap-tiap langkah kita hakikatnya menuju ke arah kematian, dan sangat  menentukan, bagaimana keadaan matinya kita. Kalau tiap langkah dihiasi kemaksiatan, ujung hidup dapat di pastikan, dalam keadaan bermaksiat, yang mengikat. Dan itu berlaku sebaliknya, dengan catatan didalamnya, tidak ada perubahan, dalam perbuatannya. Oleh karenanya, yuk segera berubah, perubahan kearah ketaqwaan, ketaqwaan dalam menjalankan seluruh syari’atnya, bukan setengah-setengah menjalaninya. Sehingga, membuat kita berakhir dalam kebahagiaan, yaitu surga, dengan segala kenikmatan didalamnya. (By: tyo)     

 

  • view 284