Ku menantimu, setiap saat dalam nafas hidupku

Abu Khatib Kawakibi -
Karya Abu Khatib Kawakibi - Kategori Puisi
dipublikasikan 02 Juli 2016
Ku menantimu, setiap saat dalam nafas hidupku

Cerita ini berawal dari pertemuanku denganmu. Aku dikenalkan dengan dirimu, yang membuat diriku terpukau lagi tersipu. Aku terpukau akan kepribadian, akhlak serta tutur katamu. Bukan engkau berucap dalam kata, tanpa makna, yang ada kebenaranlah yang engkau sampaikan disana. Bukan hanya engkau sampaikan, tetapi juga engkau laksanakan tutur katamu, dalam derap kehidupan nyata. aku tersipu lagi malu, itu bentuk kegaguman ku terhadapmu. Begitu luhur kepribadiaan mu, memperlakukan orang disekitar dirimu, entah itu musuh, teman atau shabat sejatimu.

 Disaat ada orang yang bukan dari kalanganmu, dia buta mata lagi berucap buruk terhadapmu. Engkau perlakukan dia begitu santun, sehingga membuat dia kagum. Setiap katamu adalah menyeru dalam kebenaran, untuk menyembah hanya kepada pencipta seluruh alam, pencipta bumi, matahari serta bulan. Engkau tidak peduli dibuli, dalam menyampaikan kebenaran hakiki, yang engkau selalu ingin lakukan adalah menyampaikan kebenaran ini. Agar semua orang  mendapat jalan terang di penghujung hidup yang terlalu singkat ini. Entah berapa banyak perih dalam dada yang engkau simpan melihat banyak orang yang menolak kebenaran, yang telah engkau sampaikan. Yang pasti aku dapati engkau begitu sabar dalam menjalani printah ini.

Ya sekali lagi, engkau begitu sabar! Itu yang membuat ku terkagum-kagum dalam dada hingga berasa berdebar-debar. Fikiranku berucap, bagaimana bisa disaat orang yang diajak dalam kebenaran malah menolak, lagi tertawa terbahak-bahak, engkau masih saja menyerunya untuk berajak menyambut seruan kebaikan. Engkau tidak peduli meski diri, dipukuli oleh kerabatnya sendiri, baik mengunakan ocehan atau pukulan. Kudapati engkau selalu menahan amarah dalam dada, untuk tidak membalasanya, meski terkadang dalam dada terasa sesak, hingga terkoyak-koyak, melihat penderitaan orang-orang yang mengikutimu disiksa, hingga rasa perih, pedih berkumpul dalam jiwa.

Duhai aku merindukanmu…

Akau bertanya-tanya, kapan aku bisa berkumpul denganmu? menatap wajahmu? Kapan bisa bersanding denganmu? Bertanya sepuas diri tenatangmu, Dan kapan akau bisa satu rumah dengamu? Rumah impian penuh kebahagiaan. Itulah yang tersimpan dalam benak fikiranku, impianku, dan semangatku, untuk selalu mengikuti langkah demi langkah agar diri bisa bersama yang tercinta, dirimu, yang kunanti sepanjang hidupku. Terkadang ada yang mebuatku risau lagi galau, apakah diri ini bisa meraih cintamu, hingga aku bisa duduk bersama mu? Lantaran masih banyak diri ini kekurangan, kelemahan, serta kealphaan, takluput juga diri ini terasa masih jauh dari kreteria untuk mendapatkan cintamu, meski begitu aku tak boleh putus asa meraih cintamu,  ku bergegas berjuang dengan segenap tega yang kumiliki, hingga mendapatkan cintaku ini, karena aku paham senja akan segera datang, ketika itu datang maka kesempatan ku hilang, untuk selama-lamanya, meraih cinta nya. Cinta Rasulullah Muhammad SAW. dengan melaksanakan Al-Quran dan sunnahnya.

 

  • view 191