Sajak tentang, Dek.

Tyas Riyana
Karya Tyas Riyana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Februari 2016
Sajak tentang, Dek.

Sajak tentang, Dek.

Dek...
Mumpung di luar sedang hujan deras maukah kau mendengar sebuah cerita?
Bukan, bukan cerita tentang pertarungan hujan tadi sore, bukan itu, lagipula aku tidak pernah merasa harus bertarung dengan hujan, karena aku selalu bersahabat dengannya, bersahabat dengan teramat sangat baik grin emoticon
Apa?Ahh.. itu juga tidak, aku tidak akan bercerita tentang serunya melewati genangan air sungai dadakan 2 jam yang lalu, tidak, tapi meski saat ini hujan, aku tidak akan bercerita tentang kesyahduan seperti biasanya smile emoticon

Dek, aku ingin cerita sebuah kenangan, kenangan puluhan tahun silam. Mungkin kamu juga pernah mendengarnya dari ayah atau ibu, tapi kau harus dengar cerita ini dariku juga, ini mungkin akan jadi sebuah persembahan dari secuil kenangan yang harus kubagi denganmu wink emoticon

Pada suatu waktu, aku ingat saat itu aku baru saja selesai menutup pintu setelah lelah berkeliling kampung mentakbirkan hatiku untuk-Nya. Masih terjaga hingga larut, berniat menyambut matahari 1 Syawalku yang ke 13. Aku diam mengangankan sebuah keindahan, keindahan yang kubenarkan sendiri melalui akalku, keindahan yang selalu aku semogakan di setiap hentak kaki, di setiap sunggingan senyum, di setiap kedipan kelopak mata, di setiap degup aliran darah yang dipompa jantung, di setiap dengungan yang memekik dan pada setiap-setiap yang lainnya. Tidakkah kau ingin tahu keindahan macam apa yang seniat itu aku ciptakan? kedewasaan smile emoticon

Dek, membayangkan kedewasaan di masa depan yang memesona masa remajaku sangat menarik sekali kala itu. Bagaimana tidak, melihat wanita-wanita hebat itu pulang sore dengan raut muka lelah yang menyimpan kesuksesan adalah kehebatan tersendiri menurutku. Pulang ke rumah membawa cerita-cerita atau kisah-kisah luar biasa di luar sana, yang sebelumnya belum pernah aku dengar, tampaknya itu keren sekali. Entah, sengatan jenis apa yang saat itu menjalari tubuhku hingga aku bersemangat berkali-kali lipat di keesokan harinya, hingga doa-doa itu kupaksakan mustajab menurut definisi otakku grin emoticon Ahhh...sangat menggelorakan sekali saat itu.

Hingga pada suatu waktu aku harus berhenti, berhenti bersama semua langkah yang dari awal sudah kucuri dari waktu. Berhenti di antara kilatan-kilatan kisah yang telah membekaskan makna di setiap potongannya. Wualahh....aku keliru. Sedari awal harusnya tidak begitu. Kadewasaan yang dari dulu selalu aku itu-itu-kan ternyata tak lebih sederhana dari sikap yang selama ini aku cita-citakan. "Kedewasaan memang bukan sebuah pengandaian", gumamku. Bukan sebuah kesalahan mengandaikan masa dewasa, tetapi kau layak dan patut bersyukur berada masa kanak dan remajamu ini. Percaya padaku, Dek.

Singkat saja, Dek. *Apanya yang singkat? pacman emoticon
Boleh saja kau merindui masa depan yang kau angankan, tapi kau harus tahu, masa depan itu diperjuangkan dari masa sekarang. Aku sudah melewati masa ini, masa yang sekarang sedang kau tulisi. Tulisi masamu ini dengan keindahan-keindahan yang membaikkan, tidak hanya untuk dirimu, tapi juga untuk membersamakanmu dengan mereka yang selalu setia mendayung asa itu. Tersenyumlah, ini akan indah. Yakinlah, kau tidak akan menyesal. Kau tidak perlu buru-buru. Ini akan akan keren jika masamu ini mampu mendewasakanmu dengan seutuhnya waktu yang sudah kamu tempuh, bukan sebaliknya. Ayo semangat, Dek!

?
?

  • view 132