Bilur

Tuna Layu
Karya Tuna Layu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Desember 2016
Bilur

Jangan menceritakan ke klasikan cinta hari ini. Aku lelah. Selalu saja yang membuat beban hati bertambah dan tubuh semakin ringkih, ya soal cinta. Aku malas bercerita tentang perih, remuk, redamnya hati karena cinta. Mereka bilang aku 'patah hati' padahal aku tidak merasai darah keluar dari mulut atau lewat pantatku. Jika saja hatiku patah, aku tidak akan bisa merasai apa-apa selain bunyi-bunyi empedu, usus yang mulai ikut rontok, lalu organ lain yang ikut menjadi darah dan keluar lewat telinga, mulut bahkan mata. Melalui duburku, aku akan melihat serpihan-serpihan organ keluar dari sana. Bisa jadi, aku akan berteriak-teriak sambil memandangi mereka perlahan-lahan berjatuhan. Siapa bilang hatiku patah. Hatiku utuh, perasaan dan pikiranku yang sakit.

Aku malas menceritakan tentang perjalanan cintaku yang panjang dan menguras pikiran. Saat sepersekian tahun lalu aku mulai bergantung pada cinta. Secara tidak aku sadari kehidupanku terkontrol olehnya, cinta. Saat perasaan perih aku diam saja seperti seorang pesakitan. Saat berbahagia berjingkraklah aku, walau terkadang diatas penderitaan orang lain, gila. Saat bertemu cinta, bercumbulah aku dengan segala cerita yang membosankan, segala hal yang berulang, tapi kataku menyenangkan dan menarik, sinting!.

Cukuplah kita berbicara soal cinta. Mana ada yang menarik dari kehidupan ini? Harusnya Tuhan jangan ciptakan cinta saja, jika banyak orang yang memanfaatkanya untuk menyakiti perasaan orang lain.

Aku letih bicara soal cinta. Mengingatkanku pada kalimat yang disampaikan mbah Suti saat beliau masih hidup "Jangan main-main dengan cinta, jika tidak siap tersakiti jangan pernah mencintai, aku pernah sangat mencintai seorang perempuan, tapi aku tidak bisa bersamanya, katanya cinta tidak memandang kasta atau bahkan jenis kelamin, tapi pada kenyataanya, aku tidak bisa bersama perempuan yang aku cintai. Mereka malah menjodohkanku dengan laki-laki yang setiap hari menganiayaku diatas tempat tidur, menyuruhku membuatkan kopi tanpa sepeserpun uang untuk membeli gula, tapi jika kopinya terlalu pahit aku harus merasakan pahitnya juga lewat tendangan dan tamparan. Padahal yang aku inginkan saat itu sangat sederhana, aku ingin bersama dengan perempuanku. Tapi mereka bilang aku kafir! Padahal aku bersembahyang, aku juga memiliki niat baik kepeda perempuanku. Aku juga kuat bekerja saat itu. Mereka bilang cinta harus suci, apakah cintaku tidak suci? Pada kenyataanya, bagi mereka cinta hanyalah soal menghasilkan keturunan. Maka, ketika aku tahu aku akan menghasilkan keturunan saat bersama dengan laki-laki itu, setiap hari aku makan ragi-ragi tape di dapur. Aku tidak ingin memiliki keturunan dan keturunanku mencintai. Karena aku tahu, cinta akan datang kepada siapapun, tapi cinta bukan kiblat yang tepat untuk dia tetap hidup."

Nanti akan kulanjutkan lagi.... Ini masih pagi.....

  • view 111