Kisah Tentang Abstraknya kehidupan Dan Tulisan

Tsabita Rahima
Karya Tsabita Rahima Kategori Renungan
dipublikasikan 21 Oktober 2017
Kisah Tentang Abstraknya kehidupan Dan Tulisan

               Ini cerita tentang kisah si laki laki penakluk bumi yang katanya paling hebat dimata istrinya. Bukan istri orang atau manusia, katanya. Tapi istri "aku" katanya lagi sambil  memaparkan tawa pada dirinya sendiri di penghujung senja. Dia lupa seakan-akan dia benar-benar sedang tertawa menonton humor kalau manusia dibumi sedang perang. Apalagi kalau tentang Indonesia. Udah pasti gaji dapat, tidur pulas, rakyat terjajah, mereka konglomerat. Biasa, Negeri kami tidak miskin. Buktinya banyak tikus tikus rakus berdasi yang JUJUR, katanya lagi. Kalau Kaya, ya tentu saja. Memang, dengan duit hidup dan perut dapat senang. 
                Kembali pada si laki-laki yang tengah berjalan menelusuri langkahnya dalam kenangan, memikirkan bagaimana ia menjaga bumi kedepannya, ia berfikir bagaimana jika bumi rusak, takutnya istrinya kena rusaknya juga. Tapi istrinya cantik, jangan dirusak katanya. Mahal. 
               Sambil berjalan diatas bumi di dekat laut. Tapi tenang, dia gak nyelam jadi masih bisa cerita. Dia melihat bagaimana cara ombak menyapu pasir pasir pantai, membawanya dan kemudian mengembalikannya. Ia geluti dan asiki dulu biar dia senang, lepas kembali. Dilihat lagi ada karang karang yang terhantam ombak, "Kalau aku jadi karang di lautan aku tak mau, menyakitkan untuk bertahan dalam kerasnya kehidupan" . "Tapi kalau tak mau merasakan kerasnya kehidupan, dan pilihannya hanya satu lagi yaitu MATI, aku belum siap. Amalku belum cukup banyak. Tapi dimana mana MATI ya HARUS SIAP. Jadi aku lebih baik berlari dan menjelma menjadi karang di pipi istriku saja". Itu lebih baik, katanya. 
            Istriku cantik, jadi ingat ketika malam lalu aku dimarahi ibu bapaknya gara gara tanganku tak sengaja ingin membelai rambutnya. Abisnya dia wangi abis shampoan. Tapi tidak jadi, karena kena marah ibu dan bapaknya. Yasudah aku tak mengulanginya lagi, bagaimana bisa hasrat cinta aku redakan begitu saja. Karena aku cinta istriku, jadi aku menikahinya. Aku takut dengan zaman ini. Nanti dia keluar malam, dengan sangat cantik tanpaku sang suami. Lalu besoknya dia membawa anak dan dibuang bagai sampah di dalam kardus. Itu tak bermoral, seperti banyaknya manusia masa kini yang bergaya tinggi tapi berkelakuan lebih rendah dari binatang. Disuatu negara? Iya. Kalau negeri sendiri? Hmm,, mungkin iya mungkin tidak. Tapi jika dilihat dengan banyaknya racun tv kemungkinan besar sih IYA. Kasihan negeriku. Maafkan aku, katanya lagi. 
             Begitulah katanya. Dia jatuh cinta sama istrinya, dia bilang akan menjaga cinta abadinya itu. Biar si istri ga kecewa, dan piring di dapur tetap aman. Dia jatuh cinta pada tarikan senyum indah di bibirnya. Apa jawaban sang istri? Dia tersenyum balik. Mungkin karena melihat aku yang tampan kali, Katanya. Aku dan si istri berpelukan. Dan merasakan betapa besar anugerah-Nya yang membawa kebahagiaan tak terkira.
              Sekian dan jangan sedih. Ini bukan kisah cinta alami, ini cinta buatan. Buatan yang Maha Kuasa, pemilik dunia-akhirat, pemilik bumi, pemilik indonesia, pemilik jajanan kantin dan juga pemilik aku, kamu, juga dia. 
              Ini cerita paling abstrak yang tidak tahu. lagi bagaimana untuk menyusunnya. Mungkin bisa dengan beberapa ketikan. Tapi Ini bukan tulisan ajaib yang bisa langsung ada dengan cara copy paste. Ini tulisan ibarat kuah ditambah bumbu masako penyindir. Ngga lupa pakai bumbu hiburan. Biar jadi orang ga lupa sama refreshing. Kalian tahu ini nyindir siapa kan? Hooh menyindir Tikus kubangan, si penguasa bumi.
              Oh iya saya lupa. Harusnya sebelum nulis tadi, saya beritahu kamu agar tak baca sampai akhir. Tapi,  yasudah bagaimana lagi sudah terlanjur. Baca saja sampai akhir, jangan lupa nafasnya tetap berjalan,  nanti kalau terpotong takutnya jodohnya diambil orang. Haha. Baca dengan khidmat tapi jangan lebay juga. Ngeganggu sampai kesini. Makasih. 

  • view 39