BAPAK PRESIDEN SAYA JUGA

Netriani Sukmawati Ube Pama
Karya Netriani Sukmawati Ube Pama Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Januari 2018
BAPAK PRESIDEN SAYA JUGA

 

Bapak Presiden Saya Juga

Wanita yang foto bersama Pak presiden itu namanya Ibu Ambu Retang atau biasa disapa Ibu Ambu. Ambu itu panggilan sayang atau panggilan khas perempuan Sumba. Dia pegawai di dinas pendidikan kabupaten Sumba Timur. Selain bekerja di kantor beliau juga ibu rumah tangga dan tampilannya sangat sederhana menunjukkan kekhasan perempuan Sumba.

Suatu hari di pulau Sumba diadakan event terbesar dan bersejarah. Kehadiran Pak Jokowi ke Sumba kali ini dalam rangka festival tenun ikat se-Sumba. Dan sekaligus penutupan rangkaian parade 1001 Kuda Sandalwood. Festival Tenun Ikat se-Sumba ini diikuti oleh ribuan peserta. Tepatnya 2017 peserta. Baik peserta festival tenun ikat dan peserta parade 1001 Kuda Sandalwood ini berasal dari empat kabupaten yang ada di Pulau Sumba.

Selain keunikan beragam jenis kain dan Kuda Sandalwood, keunikan lain adalah kubur batu besar (Megalitik). Sampai hari ini masih banyak orang Sumba membuat kubur batu ukuran besar. Tapi itu khusus diperuntukkan bagi kelompok masyarakat kelas atas. Mereka bilang kaum maramba atau bangsawan. Dan masih banyak keunikan lainnya yang sudah mendunia seperti Danau Wekuri, Pasola dan Kain Kaliuda.

Saat Ibu Ambu mengetahui bahwa Pak Joko Widodo akan datang ke pulau Sumba tepatnya di kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), ia sangat gembira.  Ia berpikir bahwa itu adalah kesempatan untuk melihat langsung bagaimana  sosok sang inspirator. Sepulangnya dari kantor Ibu Ambu langsung membicarakan keinginannya kepada sang suami untuk berkunjung ke kabupaten Sumba Barat Daya agar dapat bertemu langsung dengan Pak Joko Widodo.

 

“Pa…nanti kita pergi di Sumba Barat Daya pergi lihat Pak Jokowi e,” katanya penuh semangat.

“Iya Ma…tanggal berapa kita pergi?” jawab sang suami.

“Tanggal 12 nanti, kita ajak mama Jeferson supaya sama-sama pergi di Sumba Barat Daya,” kata Ibu Ambu menatap suaminya.

“Mama pergi kasih tahu sudah sekarang,” kata suaminya mendukung rencana sang istri.

Sore harinya Ibu Ambu berkunjung ke rumah Ibu Dea, sang ipar. Kedatangannya tak lain untuk mengajak Ibu Dea dengan suami dan anaknya agar bersama-sama pergi ke kabupaten Sumba Barat Daya untuk menyaksikan acara festival tenun ikat se-Sumba dan penutupan parade 1001 kuda sandalwood yang dihadiri oleh Pak Joko Widodo.

“Mama Jeferson…ada buat apa?” tanya Ibu Ambu begitu tiba di rumah Ibu Dea.

“Baru habis kasih mandi Umbu Jeferson,” jawab Ibu De, “Ada perlu apa Rambu?” lanjutnya.

“Mari kita pergi di Sumba Barat Daya. Pergi nonton festival, Pak Jokowi ada datang,” kata Ibu Ambu.

“Iya mari kita pergi, tapi saya kasitahu Bapa Jeferson dulu pasti dia mau ikut,” jawab Ibu Dea.

“Betul e, kalau begitu saya pulang dulu,” kata Bu Ambu sembari berjalan pulang.

Hingga tepat di hari itu, Ibu Ambu bersama suami dan keluarganya pergi ke lokasi festival.  Dalam perjalanan Ibu Ambu selalu berkata dalam hati “Sebentar saya harus foto dengan Pak Jokowi”. Ucapannya itu yang menjadi penguat hingga perjalanan yang lumayan jauh dilaluinya dengan mudah. Sesampainya dilokasi festival, Ibu Ambu sedikit kebingungan. Hatinya bertanya-tanya “Dimana Pak Presiden Jokowi berada?”

Ia mencari dan terus mencari, Tanpa berpikir panjang Ibu Ambu memberanikan diri untuk menerobos orang-orang yang sudah ada di depannya. Namun naas, Ibu Ambu terjatuh karena didorong oleh salah seorang yang sudah terlebih dahulu menempati tempat tersebut.

Dalam keaadaan itu ia berteriak histeris memanggil sang presiden “Bapak presiden, saya juga…foto sama presiden,” suara panggilan itu terdengar beberapa kali, dan suaranya bergetar.

Ada harapan dan hasrat kuat kalau boleh, ia bisa foto bersama presiden. Dan puji Tuhan, presiden kita peka dengan suara-suara dari tengah kerumunan massa. Dan Pak Jokowi memberikan isyarat. Ibu Ambu diperkenankan foto bersama dirinya.

Usai foto bersama Pak Jokowi Ibu Ambu dan suami beserta keluarganya segera bergegas pulang. Dalam perjalanan pulang tak henti-hentinya ia memuji sosok sang presiden.

“Pak Jokowi ini sosok presiden yang mau membaur dengan rakyat kecil. Dia presiden yang mau merasakan bau keringat rakyatnya. Yang tangannya tak sungkan menyentuh kulit kasar rakyatnya. Hari ini sebagian anak bangsa tidak merasa disepelekan lagi dengan kunjungan seorang presiden. Apa yang dilakukan oleh presiden bukan pencitraan. Tapi ini yang dinamakan kerja, kerja dan kerja,” kata Ibu Ambu pada suaminya.

“Mudah-mudahan kedatangan Pak Jokowi ke Sumba kali ini bisa menjadikan beliau sebagai duta merek untuk produk-produk unggulan lokal Sumba,” lanjut Ibu Ambu sembari tersenyum menatap sang suami.

 

 

 

 

THANKS TO : Kak Bonefasius Sambo yang sudah mengijinkan saya untuk mengubah   Tulisanmu menjadi sebuah cerpen

 

 

  • view 56