Dua prototipe iman

Trisno Sutanto
Karya Trisno Sutanto Kategori Agama
dipublikasikan 11 April 2016
Dua prototipe iman

Apakah seseorang harus melihat dulu baru dapat beriman? Atau sebaliknya, justru karena imannya orang dapat melihat? Mungkin keduanya. Narasi Injil Yohanes melukiskan dua prototipe itu.

Pertama, pada Minggu kedua Paskah (Hari Raya Kerahiman Ilahi dalam kalendar liturgis Katolik), Tomas harus melihat dulu sebelum percaya kebangkitan Sang Guru. Saya menyebutnya prototipe manusia modern yang selalu meragukan segala sesuatu, namun terus mencari.

Kedua, Minggu ketiga Paskah, sang "murid yang dikasihi" (the beloved disciple) itulah yang pertama melihat, lalu berkata ke Petrus, "Itu Tuhan!" Kita tak pernah tahu siapa orang yang dijuluki "murid yang dikasihi" itu. Ada yang bilang Yohanes sendiri, tapi banyak pula yang meragukan. Mungkin julukan tersebut tidak merujuk pada sosok tertentu, melainkan pada suatu prototipe. Saya ingin menyebutnya prototipe "sang pencinta" yang, karena cinta yang berkobar pada Sang Guru, langsung menyadari kehadirannya.

Sebab cinta tidaklah buta, tetapi memberi kita mata batin untuk melihat Sang Kekasih.

 

[Minggu Ketiga Paskah, Tahun C]

  • view 106