Asal Aku bisa Tidur

Triska Saragi
Karya Triska Saragi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 November 2016
Asal Aku bisa Tidur

Jakarta, 28 November 2016

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحيمِ 

 

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

(QS. Ar-Rahman: Ayat 36)

 

Miris itu ketika selalu lupa kenikmatan yang didapat sesuai porsinya masing-masing. Terkadang masih suka menyisakan makanan? Untuk menu makan saja masih suka ribet? Untuk pekerjaan yang dipunya tidak dilakoni sebaik-baiknya, Keluarga yang sudah ada, disia-siakan? Apa yang dimiliki selalu tidak memuaskan? Masih suka begadang untuk hal yang sia-sia? Masih lalai terhadap kesehatan? Dan lain sebagainya. Baiknya, periksa kembali hati kita, apakah gaya hidup yang 'terlalu' tidak sesuai sudah merusak pola berpikir dan hati kita, bisa saja tidak cukup ilmu atau bisa saja sudah berjarak dengan Allah Swt? Hanya kita sendiri yang memahaminya.

Yuk, kita lihat sebentar. Pemandangan ini, bukanlah pemandangan hina (yang kebanyakan orang meremehkan dengan komentar sinis), coba kita pandang dari sisi yang berbeda, boleh saja menambahkan sedikit rasa kasihan untuk 'dia' atau bahkan untuk diri sendiri yang terkadang lupa atas nikmat dan karunia dari Allah Swt.

'Asal Aku bisa tidur'..

Itulah yang terlintas saat memandangnya dari kejauhan dikala pagi itu, sebut saja 'dia', pagi itu 'dia' terlihat tidur sendirian, usianya sekitar belasan - dua puluhan tahun, orang tua atau saudaranya tidak terlihat,  'dia' tidur di pinggiran Rel Kereta Api yang aktif, dengan polusi suara yang tinggi, getaran lalu lintas Kereta Api dan bahaya apa saja yang sewaktu-waktu dihadapinya tanpa sadar, hanya beralaskan terpal tanpa atap apa pun menutupinya, sarung dan alasnya terlihat berembun bahkan basah sisa hujan tadi malam. Mungkin saja 'dia' menikmati situasinya yang sekarang hanya untuk sekedar bisa 'tidur' dimana pun tempatnya (banyak orang yang hanya untuk tidur saja memerlukan beberapa jenis makanan, obat dan treatment).

Bukan berarti sebagai 'dia' harus pasrah dengan keadaan, yang mana banyak situasi bisa digolongkan berdasarkan ujiannya. Saat kita Mapan (versi Manusia pada umumnya) itu juga ujian, begitu juga dengan 'dia' yang sedang tertidur pulas (versi Manusia pada umumnya) 'dia' sangat jauh dari kata Mapan tetapi siapa yang tahu usaha, kegigihan dan Doa yang sudah dipanjatkannya kepada Allah Swt untuk kemapanan dirinya sendiri? Bumi terus berputar, bisa saja Allah segera menjawab doanya. Semoga ya?

Karena itu selalu bersyukur ya?Alhamdulillah itu tak hanya diucapkan namun juga dilakukan, contohnya banyak, seperti merubah perilaku yang tidak sesuai 'negatif', lebih sayang terhadap diri sendiri karena tubuh kita juga seharusnya hanya diberdayakan untuk hal-hal yang positif, lebih memberdayakan otak kita untuk ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan bahkan bisa diamalkan juga, yang belum terbiasa bersedekah bisa melakukannya karena ini bagian dari rasa syukur, lebih peka terhadap perasaan keluarga sendiri (Orang Tua,Istri/Suami, Anak, Saudara, dan sebagainya) dan sekitar serta tidak memandang remeh siapa pun yang 'sekarang' posisinya dianggap jauh dibawah kita, Mau itu Jabatan, Status Sosial, Tingkat Perekonomian, Usia, dan sebagainya. Semoga bermanfaat.


#PinggiranRelKAStasiunSenen

#Iniadadisekitarkita

#SelaluBersyukur

#Alhamdulillah

#LebihPeka

#27112016

  • view 184