Tentang: "Pengen kaya, biar bisa selpih."

Fany Trisfianti
Karya Fany Trisfianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Maret 2016
Tentang:

Akhir-akhir ini mas suami lagi semangat-semangatnya lembur. Lembur dalam arti jam kerja yang diperpanjang sampai tengah malam juga dalam arti sabtu-minggu yang mestinya libur tapi dengan senang hati dipakai lembur. Sesekali nengok ke kamar kerjanya dan mengingatkan khawatir dia kecapean. Tapi yang diingatkan, tanggapannya malah: "Semangat yang.. Kan biar cepet kaya, biar bisa selpih kaya orang-orang, hahaha.." Dia tertawa, saya juga. Kekhawatiran pun meluruh dengan jawaban yang menyiratkan kalau dia memang menikmati 'lembur'nya dan nggak menjadikannya sebagai beban.
?
Biar kaya dan bisa selpih, katanya, yang tentu bukan motivasi sebenarnya buat lembur. Kami memang sedang memiliki target dan dia sedang antusias agar target itu tercapai secepatnya. Sebelumnya, kami berdua memang sering tertawa geli ketika mendapati sebagian orang yang hobi banget selfie di timeline media sosial kami. Sampai-sampai istilah selfie itu sering dipakai buat becandaan.
?
Tentang selfie, hobi yang awalnya hanya ditujukan untuk memajang foto diri sekarang banyak beralih (beralih kah? atau bisa jadi ini tujuan sebenarnya dari si penggagas) menjadi memudahkan mereka men-share apa-apa yang mereka punya, apa-apa yang mereka pakai, apa-apa yang mereka capai, atau apa-apa lainnya yang mereka anggap 'wah' yang bisa jadi bagi sebagian lain biasa saja, juga bisa jadi sangat luar biasa bagi sebagian sisanya. Bukan iri, tapi ya lucu aja. Harus ya? Kalau sekedar aja boleh laah.. Tapi kalau berlebihan ya kelucuan-kelucuan itu bisa jadi nggak lucu. Segala yang berlebihan nggak baik, bukan? Diakui atau tidak, sebagian kita biasanya mampu membedakan mana 'share' yang benar-benar berbagi, 'share' yang merupakan bentuk ekspresi kegembiraan dalam tahap wajar, atau 'share' dengan tingkat berlebihan yang cenderung menjurus 'pamer' atau ujub.
?
Nggak ada maksud untuk menghakimi. Kami mengerti kok dunia maya nggak jauh berbeda dengan dunia nyata. Beragam fenomena sosialnya bikin kita mesti pintar-pintar menyikapinya. Ini justru jadi contoh pembelajaran buat kami. Seenggaknya kalau nanti dimampukan pun, jangan sampai berbuat seperti itu. Apalagi untuk hal-hal yang bersifat privat, mesti pintar memilah mana-mana yang layak di'bagi'. Nggak semua orang bisa menyikapi fenomena selfie, yang cenderung mengarah ujub, dengan baik. Nggak sedikit juga orang yang jadi rendah diri, jadi merasa salah pilih jurusan, salah pilih pekerjaan, salah pilih jodoh. Bahkan yang lebih parah kalau jadi menutup mata atas segala kenikmatan-kenikmatan yang ia rasakan selama ini karena terhalangi oleh foto-foto nan semu itu. Imbasnya menjadi lupa bersyukur, merasa hidupnya bagai butiran debu atau cuma remah-remah rempeyek gara-gara liat postingan betapa bahagianya hidup orang lain.
?
Orang-orang yang dari fotonya terlihat bahagia dengan parasnya, dengan pasangannya, dengan rumah bagusnya, dengan mobil barunya, dengan makanan mahalnya, dengan segala keberpunyaannya. Sangat sayang, kalau makna bahagia yang sebegitu luas dikerucutkan menjadi hal-hal yang bersifat materi. Padahal hidup lebih dari sekedar itu. Hidup bukan tentang berapa banyak yang kita punya, tapi tentang seberapa bergunanya kita bagi sesama, bukan?
?
?
*Ide-ide buat merampungkan draft tulisan yang sebenernya udah agak lama dibuat ini muncul gara-gara curhatan teman. FYI, nggak sedikit loh yang jadi korban 'selfie' ini. Jadi, mari sama-sama belajar, sama-sama mengingatkan.

  • view 180