#2 Katanya, Tentang Sinar

Fany Trisfianti
Karya Fany Trisfianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Februari 2016
#2 Katanya, Tentang Sinar

Aku menahan geli saat dia bergeming padahal sudah kesekian kalinya kugoda dengan sepotong pisang bakar ber-topping keju, susu kental, dan lelehan coklat. Dia masih setia dengan kopi hitam pahit tanpa gula rupanya.

"Udah lewat jam 7," tangkisnya

"Buncit nggak dosa koook," ledekku sambil menyuap potongan pertama pisang bakar yang tadi kusodorkan padanya dan ternyata rasanya tak sesederhana tampilannya.

"Gimana sama yang itu, masih keep contact?" Tanpa basa-basi, seenaknya dia mengganti topik.

"Masih," jawabku singkat karena lidahku masih sibuk menyesapi pisang bakar yang serasa lumer di mulut.

"Tapi dia ga cocok ah sama kamu..."
Aku sudah terbiasa mendengar celoteh soktau-nya. Agak malas sebenarnya, makanya aku mutuskan untuk lanjut melahap.

"...sinarnya cuma satu..." Aku tak acuh menanggapi ucapannya yang mulai absurd. Apalah itu sinar setelah kemarin lalu dibahasnya soal angin, soal bambu. Tetapi memang, empat tahun mengenalnya, sedikit banyak aku jadi terlatih menangkap makna tak sebenarnya dari setiap kata benda yang ia ucap. Baru menangkap, masih jauh dari tahap "mengerti".

"Kamu tiga. Kalah pintar dia." Aku masih diam. Hanya menyangsikan dalam hati tentang korelasi antara sinar dan pintar.

"Makin banyak sinarnya, biasanya makin pintar orangnya." Dia melanjutkan celotehnya, seperti tahu apa yang baru saja kupikirkan. Semakin didiamkan memang biasanya dia makin semangat berkicau dan aku tetap diam, berpura-pura fokus pada pisang bakar yang tinggal setengah porsi.

"Dia cuma punya biru. Labil orangnya. Kamu ada kuning, ungu.. sama emmm.. " Dahinya mengernyit, alisnya berkerut akibat ia terlalu fokus mengamati bola mataku. "Merah," tandasnya.

Aku bingung. Dia mendadak jadi cenayang. Kukeluarkan cermin kecil dari resleting belakang tasku. Aku sampai memicing, mengedip-ngedip, mengangkat kelopak atas-bawah agar lebih lebar, tapi tetap saja tak kutemukan apa yang tadi dia sebut merah, kuning, apalagi ungu.

"Ada kan?hahaa" Ledeknya. Tawanya girang sekali mendapati tingkahku. Lalu sedetik kemudian aku menyesal karena merasa bodoh mau begitu saja mempercayainya.

"Laki-laki itu nggak suka perempuannya lebih pintar."

Oh myyyy.. Dia masih menyerang. Bahkan sengaja memilih kalimat yang dia tahu akan memantik reaksiku.

"Egois." Oke, dia sukses.

"Lho itu kodratnya, laki-laki memang harus selalu di atas." Dia mengulum senyum. Ekspresinya menyebalkan.

"Perempuan rela kok, laki-laki lebih kuat," kutanggapi sedikit ketus.

"Memang harus rela."

"Kok?" timpalku cepat.

"Ya karna perempuan." Lagi-lagi ia mengulum senyum dan ekspresi yang makin menyebalkan. Berbanding lurus dengan jawaban diskriminatifnya barusan. Kuhela nafas perlahan, tak mau terbawa emosi, tak mau juga sampai kehilangan selera makan. Kudapan di depanku ini walau tinggal dua-tiga suapan, tetap sayang kalau tak dihabiskan.

"Selama ini emang nyambung ngobrol sama dia?" Dia mulai lagi dengan pertanyaan yang tak membuatku nyaman.

"Kepo ih." Mestinya ia sadar kalau kalimatnya mengganggu dan enggan kujawab. Kuseruput teh tarik yang mulai kehilangan hawa panasnya. Dia ikut menyesap kopi hitam pekatnya yang bahkan waktu itu aku sampai bergidik mencicipinya.

"Nggak nyambung kan?" Tebaknya sok tau.

"Nyambung-nyambung aja kok."

"oh ya?"

"Iya, dia pendengar yang baik, kita hampir nggak pernah berdebat malah."

"Nah!" Dia seperti mendapati kartu As. "That's the point!" Ia mengacung-acungkan telunjuknya. Lalu dengan cepat menyeruput kopi dan lanjut berbicara. "Dia cari aman, karena memang merasa nggak mampu menanggapi apa yang kamu omongin. Takut salah, makanya cenderung permisif."

"Hmm.. gitu ya?" Aku masih mencerna kalimatnya barusan. "Tapi bisa aja kan maksudnya untuk menghargai."

"Bukan.. emang nggak nyampe aja dia."

"Ish.. Dia nggak sebodoh itu kali Maaas,"

"Iya, nggak bodoh, cuma kalah pintar. Nantinya malah kamu yg dominan, mau?"

"Enggaaaak," sahutku cepat. Bagaimana pun perempuan punya sisi ingin didominasi, ingin ada yang mengatur dan ada yang dijadikan andalan, bukan sebaliknya.

"Yaudah." balasnya santai. Padahal sepotong kata tadi malah membuatku bingung: yaudah apanya?? Seenaknya dia memaksakan topik lalu menggantungnya begitu saja.

"So?" kupasang mimik bingung karena memang benar bingung.

"Kalau emang nggak 'klik' ga usah dipaksakan. Nggak baik. Nggak 'all out' nanti jadinya."

Beberapa tambahan kalimatnya sama sekali tak membuat kebingunganku berujung paham.

"Kamu biasanya tegas. Tau kapan waktunya berhenti. Tau kapan harus maju atau mundur. Tapi akhir-akhir ini engga, lebih suka cari aman. Ketularan dia tuuuh." Belum selesai kucerna, dia menambahkan lagi, "Kamu cuma takut sepi. Makanya bertahan, ya kan??"

Aku menunduk. Diam. Serasa pahit menelan kalimat terakhirnya. Takut sepi, katanya. Benarkah? Sebagian diriku menyangkalnya. Aku punya banyak teman, dia salah satunya. Ikut beberapa komunitas dengan seabrek agenda yang tak bisa dibilang monoton. Pekerjaanku pun menyenangkan. Tapi entah, sebagian lain seperti terhasut mengiyakan. Kalau apa yang tampak di luar itu belum tentu bisa dijadikan indikator sepi itu sendiri.

"Memang sinarmu berapa?" langsung kupotong sebelum ia melanjutkan ocehannya.

"Lima," katanya sambil membentangkan telapak tangan kanannya. Ada gurat-gurat bangga di wajahnya.

"Hahahaa" aku tertawa meledek. "Pantes aja.. "

"Pantes apa?" Sekarang gantian dia yang memasang tampang bingung. Dan aku suka melihat orang bingung, hahaa

"Kamu kepinteran, Maaas. Dari seribu, paling cuma satu yang bisa nyambung tanpa mabok sama kejeniusanmu." Sengaja kupilih kata "jenius" yang lebih menyenangkan didengar dibanding kata "aneh". Dia hanya tertawa. Sepertinya menangkap maksud dari kata paling akhir tadi.

"Aku sih santai.. Nggak buru-buru. Nggak kaya kamu," makin puas tawanya dan aku cuma bisa ikut tertawa.

"Cepat atau lambat, kamu bakal merasa perlu untuk berhenti." Tawaku langsung terhenti. Kupikir dia lupa topik itu. Lalu lanjutnya, "Tapi harus cepat deh, karna Bambumu makin dekat sekarang. Tunggu aja.."

"Sok tauuu!" Aku hampir selalu menyangsikan ucapannya.

"Tinggal percaya aja susah amat sih."

"Asal bambunya bukan kamu ya Mas, hahahaa.." Aku berharap tak ada yang salah dengan kalimatku barusan. Dia balas tertawa. Seperti biasa, tawa yang lepas, yang membuatku mesti pintar-pintar mengatur napas untuk menikmatinya.

  • view 168