Jogja

Fany Trisfianti
Karya Fany Trisfianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Februari 2016
Jogja

Kau ingat?
?
Malam itu kami batal makan di Raminten. Berbalik menepi, memilih makan di pinggir kali Code demi meredam perut yang mulai berisik. Misbar, istilah mereka, gerimis bubar. Remang-remang, duduk bersila hanya beralas tikar, dan penerangan sebatas lampu jalan yang bersaing dengan pepohonan tua. Sepi tapi ramai. Sepi dari hingar bingar dan gemerlap, tetapi ramai (oleh angin yang menggelitik daun; oleh tawa norak kami yang tertangkap lensa; oleh bisik-bisik jangkrik; dan oleh lelaki bergitar yang berpindah dari tikar satu ke tikar yang lain). Bisakah kau bayangkan? Menurutku, romantis ya seperti ini : natural, terbatas, indah tanpa rekaan.?
?
Aku pesan seporsi 'magelangan' dan segelas teh tarik. Tampilannya sederhana saja, standar normal makanan kaki lima. Tapi kau tau? rasanya nikmaaaatt sekali.. Dan sepaket kenikmatan berharga itu cuma seharga 11ribu.?
?
Sayang rasanya melewatkan malam yang terlalu langka itu. Di sela gurauan bersama mereka, aku pun terus meramu rasa, agar kau di dekatku. Duduk menjejeri, melangkah beriring, dengan sesekali mencubit. Menyusur aspal, bertapak-tapak sampai ke Tugu. Berdiri-duduk-bersandar sejenak disekitarnya, membuat jejak.?
?
Lanjut melarut malam di Malioboro. Dapat ditebak, langkah kaki wanita umumnya melambat ditempat seperti ini. Aku dapat merasa kau berdiri di belakangku. Melipat tangan di depan dada, sabar menunggu aku yang serius bernego. Walau kuakui sebenarnya sedikit canggung ditunggui seperti itu. Walau kutahu, kau yang dibelakangku itu hanya sebatas imaji.?
?
Tapi.. tapi.. tapi tunggu.. Ternyata ada yang tak sebatas imaji. Suaramu sekian menit kemudian menggaungi rongga telingaku. Suara yang keluar dari kotak hitam-kecil-penuh tombol-tanpa kabel itu. Nyata! bukan maya. Nyata! bukan semu.?
?
Aku jatuh hati. Kota itu penuh eksotika ditambah jejakmu yang tertinggal di sana.
?
Jogja.

  • view 75