Pentingnya mengukuhkan iman, takwa, dan akhlak

Tri Ilman Almunawarah Fattah
Karya Tri Ilman Almunawarah Fattah Kategori Agama
dipublikasikan 01 November 2017
Pentingnya mengukuhkan iman, takwa, dan akhlak

 

بســـــــــم الله الرحمن الرحيـــــــم

السـلا م عـليكـم ور حـمة الله و بركاته

إنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ , نَحْمَدُهُ , وَنَسْتَعِيْنُهُ , وَنَسْتَغْفِرُهُ ,

وَنَعُوْذُ باِللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا , وَمِنْ سَيِّـــــأَتِ أَعْمَالِنَا ,

مَنْ يَهْـدِ هِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ , وَمَنْ يُضْلِلْ , فَلَا هَا دِ يَ لَهُ ,

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَــرِ يْكَ لَهُ ,

 وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَـمَّــــدً اعَــبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .

اَللَّهُـمَ صَلِّى عَلَى مُحَـمَّــــدٍ وَ عَلَى آَلِهِ

.وَ أَ صْحَابِهِ , وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِ حْسَانِ إِلَى يَوْمِ الْدِّيْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِ يْنَ آَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَا تِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

 

 

            اَلْحَـــمْدُلِلهِ (alhamdulillah), segala puji bagi الله  (Allah) subhanahu wa ta’ala yang telah menjadikan islam sebagai agama yang sempurna dan menyempurnakan dan juga hanya dengan ketetapan kehendaknya yang mahabaik yang masih mempertemukan kita pada kesempatan ini. shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam, Nabi  مُحَمّــــْد (Muhammad) Saw. Beserta keluarga dan para sahabat, juga siapa saja yang mengikuti sunnah beliau semoga mendapat syafaatnya di akhir zaman kelak. Amin.

 Muslimin dan muslimat yang dirahmati الله

            Akhir-akhir ini, dunia Islam tengah mengalami krisis luar biasa yang menyerang hampir seluruh sendi kehidupan kaum muslimin. Mulai dari akidah, akhlak, pola pikir, pendidikan, produktivitas, tradisi, budaya, bahkan hingga ranah sosial-politik, tak ada yang luput dari krisis ini. Buruknya keadaan ini tergambar dalam bait-bait puisi seorang penyair kebangsaan Turki yang mengharapkan sebuah kebangkitan terhadap pengaruh buruk yang berusaha menghancurkan Islam. Kita dengarkan puisinya sebagai berikut:

 

 Rasa malu telah terkelupas dari jiwa manusia

Kehinaan membanjiri pelosok sahara dan desa

Berapa banyak wajah jelek sembunyi di balik tabir kasa

Tak ada kejujuran. Janji jadi bualan. Amanat dianggap mainan.

Dusta dianggap biasa. Pengkhianatan merebak dimana-mana.

Kebenaran enyah tak bersisa. Akal sehat pergi tanpa kata.

Tuhan, betapa menakutkan perubahan ini!

Agama hilang. Iman melayang.

Agama jatuh. Iman pun runtuh.

 

Muslimin dan muslimat yang dirahmati الله

           Dari puisi ini Muhammed Akif Ersoy menggambarkan sebuah kondisi rusak parah yang dilihatnya. Namun segala ketidakjelasan yang telah berlangsung bertahun-tahun ini, tidak akan pernah mampu merasuki semua umat Islam secara keseluruhan, serta tidak akan pernah bisa memadamkan nyala api ajaran Islam yang terang dan kekal. Maka dari itulah kita harus selalu membentengi diri dengan menguatkan Iman, mengerjakan ketakwaan, dan memperbaiki akhlak sehingga kita termasuk orang-orang yang bersama-sama menambah terang api ajaran Islam. Amin.

           Sebagaimana janji الله subhanahu wa ta’ala yang termuat dalam firmannya yang berbunyi:

   (يَآَيُّهَا الّـَذِيْنَ اَمَنُوْااِنْ تَنْصُرُوااللهَ يَنْصُرْ كُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَ امَكُمْ (٧

“ Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”  (QS. Muhammad: 7)

Dan الله subhanahu wa ta’ala menyatakan dalam Al-Qur’an mengenai kuda-kuda perang yang dipersiapkan untuk bertempur yang merupakan kunci bagaimana kita harus memperjuangkan agama الله. الله subhanahu wa ta’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an surah al-Anfal: 60 yang berbunyi:

وَاَعِـدُّ وْا لَهُمْ مَّا اسْتَــطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّ ةٍ ...

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…,”

            Itulah janji Allah bagi siapa yang teguh dalam membela agamanya dan Allah yang Maha Bijaksana juga memberikan solusi yang terbaik dan yang paling baik untuk yang melaksanakannya.

Muslimin dan muslimat yang sama berbahagia

            Tiga hal yang perlu selalu kita perbaiki di dalam diri ini di zaman yang penuh kezaliman yaitu seperti yang tersebut sebelumnya   iman; takwa; dan akhlak. Terlebih dulu kita harus mengetahui hakikat iman, takwa dan akhlak agar kita paham dan berusaha untuk mengamalkannya. Seperti ucapan seorang tabi’in Fudhail ibn ‘iyadh rahimallah.

            “Seorang berilmu belum beranjak dari kebodohan atas apa yang diilmuinya, hingga dia mengamalkannya.”

 

Muslimin dan muslimat yang dirahmati الله
Hakikat Iman

 tentang hal ini, K.H M. Quraish Shihab, pengarang تَفصير Al-Misbah memberikan penjelasan yang menarik tentang keimanan. Menurutnya,  “Keimanan menjadikan seseorang merasa optimis.”

Kita dapat simpulkan sikap optimis inilah yang pada akhirnya mengantarkan seseorang dalam kondisi ketenangan hidup. Orang-orang yang hidupnya tenang, orang-orang yang hidupnya nyaman, ia dapat berkonsentrasi dalam menjalankan usahanya. Konsentrasi ini tentu akan sangat membantu dalam memaksimalkan segala potensi yang ada. Dan orang semacam ini pastilah akan mudah dalam menghadapi setiap persoalan, dengan demikian ia telah menggenggam kesuksesan dan terhindar dari berbuat kezaliman.

Keimanan juga akan menggerakkan manusia melakukan penghambaan diri kepada Allah, mematuhi seluruh perintahnya, dan menjauhi larangan-larangannya. Orang-orang semacam ini Allah akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi serta Allah akan menganugerahkan ilmu pengetahuan kepada mereka.

Jika kita ingin mendapatkan keutamaan Iman diatas segeralah perbaiki iman kita, lalu sempurnakan-lah. diriwayatkan dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  Rasulullah صلّى الله عليه وسلّم , bersabda, “Perbaharuilah Iman kalian!” belia ditanya, “wahai رسوْلُ لله, bagaimana kami memperbaharui Iman kami?” beliau bersabda, “Perbanyaklah oleh kalian ucapan  لَآاِلَهَ اِلاَّللهُ”

(HR. Ahmad dan Thabrani)

 

 

            Kedua, Hakikat Takwa.

Saudara-saudariku yang seiman

          Kata takwa dalam istilah syar’i adalah menjaga diri dari perbuatan dosa. Ibnu Abas رَضِيَ اللهُ عَنْهُ menyatakan, “orang bertakwa adalah orang yang takut dari Allah dan siksaan-nya”

            Khalifah Ali bin Abi Thalib رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  pernah ditanya tentang takwa, lalu beliau menjawab, “takut kepada Allah, beramal dengan wahyu (Al-Qur’an dan sunnah) dan ridha dengan sedikit serta bersiap-siap untuk menghadapi hari kiamat.”

            Berkenaan dengan takwa, sebagai contoh atas ketakwaan generasi-generasi Islam terdahulu, marilah kita simak renungan luar biasa dari imam besar, penghulu ulama Salafush-shalih, Imam Hasan Al-Basri.

            Pada suatu hari Hasan Al-Bashri ditanya, “Hari apa menurutmu yang patut dikatakan hari raya itu ya Abal Hasan?”

            Hasan Al-Bashri menjawab, “Setiap hari pada hari itu aku tidak melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala.”

            Mereka bertanya lagi kepada Hasan,”Apa rahasia zuhudmu dalam dunia ini ya Abal Hasan?”

            Hasan Al-Bashri menjawab,”Aku tahu rezekiku tidak akan diambil oleh orang lain, karena itulah kalbuku selalu tenang. Aku tahu amal perbuatanku tidak akan dapat ditunaikan oleh orang lain, karena itulah aku sibuk mengerjakannya. Aku tahu Allah subhanahu wa ta’ala. Selalu mengamatiku , karena itulah aku selalu merasa malu bila dia melihatku dalam keadaan maksiat. Dan aku tahu kematian itu sudah menunggu, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah Azza wa jalla.”

            Dan ada sepetik kalimat dari sahabat Nabi Abdullah ibn ‘Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  yang menunjukan ketakwaannya. Dia berkata:

            “Demi Allah, memastikan halalnya satu suapan kemulutku, lebih aku sukai daripada bershadaqah seribu dinar.”

            Subhanallah, dengan contoh ketakwaan –ketakwaan semacam itu, wajar saja di masa-masa dahulu, Islam selalu jaya dan bersinar. Peradaban maju di bawah panji-panji Islam. Wahai kaum Muslimin, sadarlah! Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat sangat dekat bagi haamba-hambanya yang bertakwa. Seperti firman Allah yang berbunyi:

وَ مَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَ جًالا (٢) وَ يَرْ زُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ...(٣)

            “barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan dia memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya…”

(QS.Ath-Thalaq: 2-3)

 

 

Muslimin dan Muslimat yang dirahmati الله

 

Satu hal lagi yang perlu kita perbaiki untuk menjadi muslim sejati yaitu akhlak. Kita tahu akhlak seseorang dari adabnya atau tingkah lakunya. Menjadi pribadi yang baik tentunya harus memililiki akhlak yang baik. orang-orang yang memiliki akhlak baik tentunya menjadi teladan yang baik di saat dunia mengalami kebobrokan akhlak.

Nabi مـُحَمَّــدْ Saw adalah contoh nyata dalam akhlak. Sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul Muhammad Saw terkenal dikalangan kafir Qurais sebagai orang yang sempurna akhlaknya yang terlihat dari kejujurannya dan dalam bermuamalah sampai-sampai ada yang pernah mengatakan “jika kamu berpergian maka kamu  titipkanlah barangmu atau istri-mu kepada Muhammad sungguh dia tidak akan mengambil sepeserpun hartamu dan dia tidak meminta imbalan serta dia tidak akan menyentuh istrimu sedikitpun atau berbuat maksiat kepadanya hingga kamu kembali.” Hal tersebut tertulis dalam biografi Muhammad Saw. Yang ditulis oleh Muhammad Fethullah Gulen.

Subhanallah. Akhlak telah memunculkan ketidakraguan orang-orang terhadap Muhammad hingga saat Muhammad Saw menyiarkan agama Islam orang tidak ada yang ragu atas ucapannya dan berbondong-bondong memeluk Islam. Pentingnya adab yang baik atau pengaplikasian dari akhlak yang baik pernah terucap dari lisan Imam ‘Abdullah ibn Al-Mubarak,  dia berkata:

“kita lebih berhajat pada sedikit adab, daripada berbanyak pengetahuan. Adapun ilmu yang kuhimpun dari seluruh penjuru raya selama dwidasawarsa, sama sekali tak bernilai tanpa adab yang kulatih sebelumnya.”

Sebelumnya dia pernah mengatakan bahwa dia belajar adab selama 30 tahun dan belajar ilmu pengetahuan selama 20 tahun.

 Dikisahkan dalam sejarah sebagai renungan umat saat ini, menurut telaah Imam Al-Ghazali dalam salah satu bagian Ihyà ‘ulumiddin, ”Di antaranya sebab saling menjelekan para ahli ilmu yang memilah-milah bidang menjadi duniawi dan agamawi. Kala itu, mereka yang menekuni ilmu fiqh merendahkan pembelajaran ilmu hitung, tata perbintangan, ketabiban dan lain sebagainya. Mereka disebut ‘budak dunia’ dilekatkan pada yang tidak melanjutkan pendalaman diniah meski mereka telah mendasari diri dengan hafalan Al-Qur’an dan pemahaman dasar-dasar agama. Sebaliknya para ahli fiqh dihujat ‘munafik’, dianggap menjual ilmu agama untuk kepentingan dunia, mencari harta dan kuasa dari jabatan qayyim hingga qadhi, wazir atau mufti.”

“ahli fiqh harus menghargai ilmu lain. Sebab sesungguhnya, urusan ibadah pun tak bisa lepas dari aneka pengetahuan di luar kekhususan fiqh.demikian juga dengan ilmu pengetahuan yang lain.” Demikian kata Imam Al-Ghazali.

 Nasihat dari Imam Al-Ghazali tadi serupa dengan yang terjadi pada 4 Imam Mahzab .  K.H. Hasyim Asyari pernah mengatakan, telah terjadi perselisihan pendapat antara Imam Abu Hanifa dan Imam Malik dalam berbagai masalah yang jumlahnya mencapai 14.000 yang menyangkut Bab ibadah dan muamalah, dan antara Imam malik dan gurunya dalam berbagai masalah yang jumlahnya mencapai 6.000. demikian pula Imam Ahmad dan Imam Syafi’i. Namun tidak ada seorang pun yang saling memusuhi. Tidak seorang pun mencaci maki yang lain.  Subhanallah.

 Mengenai adab  berbicara atau berkata ada Hadis yang diriwatkan Imam Muslim:

“barang siapa berkata,’Hancurlah manusia itu,’ maka kehacuran itu akan menimpa diri mereka sendiri.”

Naudzubillah minzalik. Dewasa ini banyak kita lihat orang-orang yang berbicara kasar tanpa tahu konsekuensinya di akhirat nanti.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an surah an-Nahl ayat 125:

 

اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِوَالْمَوْ عِظَةِ الْحَسَنَةِوَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ط...

“Serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.”

                                                                                                                                                                       

 

Saudara-saudariku yang seakidah

Sebagai kesimpulan

 Kita dapat lihat bahwa iman dan takwa saling melengkapi. Jika seseorang tanpa iman, dia adalah musuh Allah dan jika seseorang dengan sedikit takwa, dia termasuk orang yang tidak disukai Allah meskipun nantinya dia tertolong karena imannya.

Hamka, ulama kharismatik Indonesia dalam تفصير  Al-Azhar mengatakan,”keimanan dan ketakwaan kepada Allah  membuat pintu rezeki terbuka. Tatkala orang telah beriman dan bertakwa, pikirannya akan terbuka dan datanglah ilham. Iman dan takwa yang menggerakkan seseorang suka bersilaturahim, lantaran hal tersebut timbullah saling kerja sama yang baik. Dengan demikian, turunlah berkah dari langit dan menyemburlah berkah dari bumi.”

dalam kitab karangan Muhammad Fethullah Gulen Wa Nahnu NuqÎmu Sharh ar-rÛh  dia mengatkan, “Erosi spiritualis dan moral yang terjadi di dalam diri sebuah masyarakat, pasti akan menyebabkan terputusnya anugerah Ilahi.” Itulah mengapa pentingnya mengukuhkan akhlak yang di padukan dengan iman dan takwa.

            Ketahuilah wahai saudara-saudaraku! Sesungguhnya ada tiga perkara yang akan menghancurkan kita. Yaitu, ketamakan yang dipatuhi, hawa nafsu yang dituruti, dan kesombongan seseorang atas dirinya sendiri. Katahuilah riya’ itu, walaupun sedikit adalah tetap sebuah kemusrikan. Ada sepatah dua kata sebagai nasehat dari  penghulu ulama Salafush-shalih, Imam Hasan Al-Basri untuk umat sekarang maupun yang akan datang, dia bernasihat:

            “perbanyaklah kawan-kawan yang shalih. Sungguh mereka memiliki syafa’at di Hari Kiamat.”

            “Hai anak Adam, kalian tak lain hanyalah kumpulan hari-hari. Tiap berlalu sepetang dan sepagi, telah hilang sebagian diri.”

 Maka perbaikilah dirimu untuk akhiratmu,

            “setiap orang diantara kamu sekalian melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.”     
      (HR. Ahmad)

“Dijadikannya untukku bumi sebagai tempat bersujud; ia suci, alat bersuci yang mensucikan.”

(Muttafaq ‘Alaih)

هل أنت إلّا أصبع د ميت

و يـــــف سبيل الله ما لقيت

“Dikau tak lain hanyalah jemari berdarah. Tak mengapa jika di jalan Allah ia bersimbah.”
(Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)
 
Demikianlah saudara-saudaraku, Generasi kemenangan islam adalah generasi impian kita bersama. Mereka adalah umat yang sengaja disimpan Allah untuk membawa “ruh” Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menghadapi orang-orang murtad dan serangan orang-orang kafir.  Semoga kita menjadi umat yang selalu menambah terangnya api ajaran Islam di karenakan telah kukuhnya iman dan takwa, serta akhlak yang baik.Amin. kisah-kisah orang-orang terdahulu yang sempat saya jabarkan semoga menjadi contoh teladan bagi saya dan hadirin sekalian.
Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan berkesan dalam hati. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan.
 

بَارَكَ اللهُ لِـيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْ آنِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ

وَإِيًاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذَّكْرِ الْحَكِيْم.

أقُوْلُ قَوْ لُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُللهَ الْعَظِيْمَ لِـيْ وَلَكُمْ وَلِسَا ءِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ

فَا سْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُالرَّحِيْمِ

 

             

 

 

Khutbah Ke-2

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ , نَحْمَدُهُ , وَنَسْتَعِيْنُهُ , وَنَسْتَغْفِرُهُ ,
وَنَعُوْذُ باِللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا , وَمِنْ سَيِّـــــأَتِ أَعْمَالِنَا ,

مَنْ يَهْـدِ هِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ , وَمَنْ يُضْلِلْ , فَلَا هَا دِ يَ لَهُ ,

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَــرِ يْكَ لَهُ ,

 وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَـمَّــــدً اعَــبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلَا ةُ وَالسَّلَا مُ عَلَى

مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَقَالَ اللهُ {تَعَا لَى} :وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

إن الله وملا ل ءكته يصلون على النبي, يا أيهاالذين ءامنو صلوْا عليه وسلموتسليمًا

اللهم صل على محمد وعلى آلِ محمد كماصليت على إبراهيم وعلى آلِ إبراهيم, إنك حميد

مجيد. وبا رك على محمدوعلى ألِ محمد كما باركت على إبراهيم وعلى  آل إبراهيم, إنك حميد

مجيد

  • view 216