Drama Tri Fatmi Humairoh Saputri Asir : Garam Lohayong

Drama Tri Fatmi Humairoh Saputri Asir : Garam Lohayong

Tri Fatmi Humairoh Saputri Asir
Karya Tri Fatmi Humairoh Saputri Asir Kategori Lainnya
dipublikasikan 18 Januari 2018
Drama Tri Fatmi Humairoh Saputri Asir : Garam Lohayong

(Disebuah desa yang asri nan indah hiduplah sebuah keluraga kecil yang hanya terdiri dari Abah, ibu dan seorang anak sulung mereka satu-satunya yang bernana Ineng. Sehari-hari mereka layaknya keluaraga didesa pada umumnya sederhana namun bersahaja, sore hari, diteras rumah)

Ema                 : Ini Aba tehnya

Aba                 : Oh ya, terimakasi Ma

Ema                 : Aba, anak kita si ineng kan sebentar lagi ia lulus SMA

Aba                 : Iya, aba tau, (berhenti sejenak) Terus bagaimana?

Ema                 : kita harus memikirkan masa depannya aba, dengan kondisi kita          yang seperti ini tidak mungkin kita bisa menyekolahkan Ineng.

Aba                 : Jangan putus asa ema, kita harus berusaha untuk menyekolahkan ineng dengan pekerjaan kita yang ada sekarang.

(Pagi hari, didalam rumah ineng sedang membereskan pekerjaan rumah,   tiba-tiba terdengar suara ibunya).

Ema                 : Ineng… Ineng.. ia mendengar suara ibnya dari belakang rumah

Ineng               : Ada apa Ema (kaget), kenapa teriak-teriak?

Ema                 : Abamu Ineng

Ineng               : Aba kenapa Ema?

Ema                 : Abamu terluka, ambilkan obat.

(Ibunya langsung berlari kebelakang gubuk dan ia pun bergegas menyusul ibunya, untuk membersihkan kaki aba lalu diobati)

(Setelah ia membersihkan kaki abanya lalu ia membantu abanya untuk membawa masuk ke dalam rumah dan diduduki abanya dikursi).

Aba                 : Ineng, (dengan separuh hatinya)

Ineng               : Iya aba

Aba                 : Selama aba masih sakit kamulah yang menggantikan aba untuk membantu emamu utnuk memasak garam.

Ineng               : Ya aba, ineng akan membantu Ema,

(Tiba-tiba ema pun memotong pembicaraannya si ineng).

Ema                 : Tidak apa-apa ema sendiri juga bisa aba, ineng kan masih sekolah nanti tergangu dengan pelajarannya.

Ineng               : tidak Ma, Ema jangan terlalu memikirkan sekolahnya ineng, ineng akan selalu membantu Ema dan aba, sekalipun aba dalam keadaan sehat pun ineng akan tetap membantu Ema.

Aba                 : Mungkin apa yang dikatakan ema itu betul ineng.

Ineng               : Aba, kalau bukan ineng yang membantu ema dan aba siapa lagi.

(Ineng merasa sedih jika kedua orang tuanya yang selalu memikirkan akan dirinya ketika Ineng lulus SMA, ia pun berangkat ke kota untuk menuntut ilmu. Aba, ema, sanak saudaranya di kampung mengantar kepergianya).

Ineng               : Aba, ema… ineng pamit ya, doain ineng ya.

Aba                 : Iya nak, hati-hati aba dan ema selalu mendoakanmu, ingat sekolah jangan guyuran saja.

Ema                 : Ingat-ingat pesan abamu nak, (Sambil memeluk anaknya).

(Setibanya di sekolah Ineng merasa kaget. Baru pertama kali ini dia melihat gedung-gedung yang megah biasanya ia lihat ditelevisi, dan juga orang-orang asing yang belum pernah ia temu. Hari demi hari telah berlalu, tak terasa sudah setelah ineng sekolah ke kota. Liburan sekolah pun datang, ineng teringat akan ema dan abahnya yang ada di kampung. Akhirnya ineng memutuskan untuk pulang. Setibanya di kampung ia merasa senang sekolah ketika bertemu dengan kedua orangtuanya).

Ineng               : Ineng sangat sangat merindukan ema dan aba. (Sambil berpelukan dengan emany)

Ema                 : Senang sekali akhirnya kamu juga untuk berliburan nak,

(Di sore hari duduklah seorang abanya di teras rumah sambil sesekali menikmati secangkir kopi dan ditemani emanya, tiba-tiba ineng muncul dari dalam rumah seraya berkata).

Ineng               : Aba, apa aba sama ema masi membuat garam?

Ema                 : Iya nak, sampai sekarang sama masi membuat garam.

Aba                 : Membuat garam itu pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan nak, hanya itu satu-satunya pekerjaan yang bisa ema dan aba kerjakan

Ema                 : kalau ditinggalkan mau cari pekerjan apa lagi, usia ema sama aba semakin tua, hanya ini yang bisa dikerjakan

Aba                 : Dengan pekerjaan ini kamu bisa disekolahkan sampe ke jenjang yang lebih tinggi nak,

Ineng               : Mengangguk kepalanya dan berakata, ineng paham apa yang dikatakan sama aba (Emanya pelan-pelan membelai tubuhnya)

(Ia pun meminta orang tuanya untuk mengajarinya membuat garam, suatu hari ibunya pun mengajarinya cara memasak gara. Satu persatu ibu pun menunjukan sambil menjelaskan).

Ineng               : Iya ema, akan ku cobanya,

(Keesok harinya ineng pun mau belajar tentang cara membuat garam)

Ineng               : Ma, Ineng mau belajar sendiri cara membuat garam.

Ema                 : Kalau begitu Ema akan tunjukan cara membuatnya..

(Ibunya pun mengajarinya cara dengan satu persatu ema pun menunjukan sambil menjelaskan, perlahan ia pun mengerti)

Ema                 : Seperti inilah nak,cara memasak garam dengan cara tradisional, memasaknya dengan mengunakan tungkuh, (jelas ibunya)

Ineng               : Iya Ma, akan ku cobanya.

perlahan ia pun mencoba membuatnya walau tidak semahir ibunya

(Ibunya mulai menunjukan cara pembuatannya yang diawali dengan proses menabur tanah dan menghancurkan gumpalannya yang dalamistilah pengolahannya disebut saket tanah).

Ineng               : Biar selanjutnya Ineng yang membuat sendiri Ema.

(Seketika itu abanya muncula dari gubuk kecil yang terlihat sederhana ketika ibunya menjelaskan).

Aba                 : Ingatlah Ineng, jika suatu hari kamu sudah lulus sekolahmu ingatlah bahwa dari sini, dari memasak garamlah kamu bisa mencapi kesuksesan (Pesan abanya).

Ineng               : Ia pun merenunginya seraya berjanji pada abanya akan kah ia akan mengingatkannya sampai ia sukses nanti.

 

 


 

 

  • view 66