Cerpen Tri Fatmi Humairoh : Garam Lohayong

Cerpen Tri Fatmi Humairoh : Garam Lohayong

Tri Fatmi Humairoh Saputri Asir
Karya Tri Fatmi Humairoh Saputri Asir Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Desember 2017
Cerpen Tri Fatmi Humairoh : Garam Lohayong

Ketika sang senja mulai beranjak ke peraduannya, semilir sang bayu mulai membelai tubuh, dingin yang dirasakan, matanya  tetap memandang indahnya sang surya yang hampir tenggelam di pantai berpasir putih. Setelah menghilang dia mulai beranjak meninggalkan pantai, dengan kaki tanpa alas dirasakan butiran pasir yang lembut ditelapak kakinya. Dia tinggalkan jejak langkah kaki di pasir nan lembut hingga hilang terbawa ombak dan pasir rata kembali. sesampainya di rumah, direbahkan badan di ranjang bambu beralaskan tikar yang sudah cukup tua, bahakan sudah mulai lapuk karena umur usianya yang lama. Matanya terpejam, tak beberapa lama kemudian ia tertidur lelap ditemani hembusan angin malam. Hingga subuh, bunyi ayam berkokok yang membangunkan dari mimpi yang indah.

Pagi-pagi buta ia pun bangun dan menyelesaikan pekerjaan rumah terlebih dahulu, selain mencuci dan menyapu ia juga memasak untuk bapak dan ibunya, sesekali ia pun membantu ibu untuk berjualan di pasar-pasar yang bersebelahan dengan kampungnya. Begitulah kegiatan sehari-hari sewaktu ia pulang liburan di kampungnya, dia adalah seorang gadis yang pergi merantau ke negeri orang guna mencari ilmu meraih cita-cita masa depannya kelak. Ia  seorang gadis yang lahir di kampung kecil, sebuah desa yang letaknya berada di pesisiran pantai, desa ini mempunyai keragaman budaya dan mata penceharian memasak garam. Nama  kampung ini adalah Desa Lohayong. Kegiatan sehari-hari sewaktu ia berlibur ke kampungnya bukan hanya sekedar mambantu orang tuanya mengerjakan pekerjaan rumahnya akan tetapi ia juga membantu ibunya untuk memasak garam.  Ia sekarang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi disalah satu Universitias di NTT. Dan sampai sekarang ia masih mengikuti masa-masa kuliahnya seperti teman-temanya yang lainnya. Ia seorang gadis desa yang sangat beruntung karena bisa disekolahkan ke jenjang lebih tinggi walau kedua orang tuannya hanya bekerja sebagai petani garam atau memasak garam. ia pun hidup dari keluaraga yang sederhana.

Di suatu pagi hari ia sedang membereskan pekerjaan rumahnya, tiba-tiba ia dipanggil oleh ibunya dengan suara yang lembut namun akhirnya ibunya pun berusaha untuk melantangkan suaranya agar bisa terdengar oleh anaknya. Teriakan ibunya pun didengar olehnya.

“Ineng…Ineng…,” ia mendengar suara ibunya dari belakang rumah.

“Ada apa Ema, kenapa teriak-teriak?.”

“Abamu Ineng.”

“Aba kenapa Ema?”

“ Abamu terluka, ambilah obat,”perintah ibunya.

Setelah itu ibu langsung berlari ke belakang gubuk kecil yang beratapkan alang-alang dan dindingnya pun terbuat dari bambu, ia pun begegas menyusul  ibunya. Kaki  ayahnya terkena tofa atau alat untuk mencabut rumbut, sehingga terluka dan berdarah. Ia pun membantu membersihkan luka ayahnya, lalu diobati dan dibalutinya dengan kain bersih yang dibawahnya. Ibu membantu ayahnya berjalan menuju gubuk itu sedangkan ia membawakan peralatan yang digunakan oleh ayahnya untuk bekerja memasak garam. Digubuk itulah tempat orang tuanya untuk memasak garam. Memasak garam adalah salah satu mata pencarian warga Lohayong yang hasilnya baik memenuhi kebutuhan hidup juga menghantar putra-putrinya merai sukses di dunia pedidikan. Garam  merupakan sumber kehidupan tanah berkadar garam yang dibalik deretan bakau diolah dengan pola tradisional akan tetapi masakan garam melalui tungku dan harus melalui caranya yang sudah di turun termurunkan oleh nenek moyang yang terlebih dahulu yang mempunyai cara olahan tersendiri

Sewaktu ia masih duduk di bangku SMA dulu ada seorang guru yang mengajak mereka untuk mengunjungi tempat pembuatan garam dan guru tersebut menerangkan cara untuk memasak garam walau tidak semua caranya si guru ini mengerti. Setelah ia pelajari di sekolah guru tersebut langsung memberikan praktek tentang cara memasak garam akan tetapi ia kurang minat akan memasak garam.

Suatu ketika ia pulang liburan ke kampungnya, ia sadar bahwa dengan memasak garam ia bisa disekolahkan oleh orang tuanya. Ia pun ingin belajar dengan lebih sungguh- sunguh dan memahami makna dari memasak garam.

Suatu hari ibunya pun mengajarinya cara  untuk memasak garam, satu persatu ibu pun menunjukkan sambil menjelaskan.

“Seperi inilah Ina, cara memasak garam dengan cara tradisional, memasaknya dengan menggunakan tungku,” jelas ibunya

“Iya Ema, akan kupelajari dengan sungguh-sungguh.”

Ia pun bergegas dan berusaha memahami apa yang akan diajarkan oleh ibunya.

“Pertama, Ina harus mempersiapkan garam dan air laut yang akan dimasak nanti.”

Ibunya mulai menunjukkan cara pembuatan yang diawali dengan proses menabur tanah dan menghancurkan gumpalannya yang dalam istilah pengolahan disebut saket tanah. Tanah lalu dijemur kemudian ditumpuk dan di masukan ke dalam penyaringan yang di dalam istilah pengolahan disebut rera ma’a. Selanjutnya tanah ditata pada bagian pengiringan untuk menahan air agar jangan mengalir keluar yang dalam istilah pengolahannya disebut  leppe ma’a.

            “Biar selanjutnya Ineng yang membuat sendiri Ema, Ema berikan arahan,” tuturnya sambil mengambil alih perlengkapan untuk membuat garam.

 “Setelah itu masukan air ke dalam penyaringan untuk diambil sarinya, ampas tanah lalu dibongkar dan dijemur kembali. Istilah  pengolahan ini disebut “doke ma’a,” lanjut ibunya. Ia mengikutinya dengan sungguh-sungguh proses pembuatan garam. Dari situlah ia mengerti bahwa hidup yang dilalui orang tuanya itu tak mudah akan tetapi seberat yang ia ibaratkan dengan pekerjaan kedua orang tuanya. Ia pun bertekad akan belajar dengan giat dan akan membantu pekerjaan kedua orang tuanya.

Hari demi hari yang ia lalui. Waktu liburan diisinya dengan membantu ibunya memasak garam. Cara memasak sudah diajarkan  ibunya. Ia pun tak kenal lelah dengan terikan matahari yang begitu panas ia abaikan. Begitu  pula panasnya api tak ia hiraukan. Terbesit rasa haru di dalam hatinya, begitu mulia seorang ibu yang tak pernah pantang menyerah dengan kerja keras seharian penuh, penat lelah tak terasa, keringat mengalir tak kenal henti,

“Ingatlah Ema jika suatu hari kamu sudah lulus sekolah ingatlah bahwa dari sini, dari memasak garamlah kamu bisa mencapai  kesuksesan,” pesan ayahnya pada suatu hari. Ia pun merenunginya seraya berjanji pada ayahnya bahwa ia akan mengingatnya sampai ia sukses nanti.

Hari demi hari yang ia lewati, Ia teringat kembali akan pesan kedua orang tuanya, dan  merasa bersyukur karena ia termasuk wanita yang beruntung karena pendidikannya tidak hanya putus di SMA. Orang tuanya masih mampu untuk menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia adalah seorang gadis desa yang terkenal akan lugu dan baik hati, walaupun terlahir dari keluarga yang sederhana. Ia juga mempunyai orang tua yang mempunyai pekerjaan sebagai petani garam. Mengolah garam merupakan mata pencaharian masyarakat Lohayong selain bekerja sebagai nelayan dan petani. Walau hanya dengan membuat garam, Ia dapat menikmati dan menjalani hidup yang lebih baik dibandingkan teman-teman seusianya di desa Lohayong. Masyarakat Lohayong pun masih melestarikan pembuatan garam secara tradisional seperti ini, dan inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi desa yang terletak di ujung timur pulau Flores Kabupaten Flores Timur.

 

  • view 93