Bagaimana Jika Dosenmu bukan Dosen Terbaik di Dunia?

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Project
dipublikasikan 27 September 2017
Terima Kasih

Terima Kasih


Awalnya, buku ini berbentuk cetak. Tapi karena hanya tersedia sepuluh eksemplar, banyak kawan-kawan lain yang tak bisa membaca dengan bebas. Jadilah buku ini saya publish dalam bentuk buku daring. Semoga tetap bisa dinikmati dengan baik.

Kategori Cerita Pendek

867 Hak Cipta Terlindungi
Bagaimana Jika Dosenmu bukan Dosen Terbaik di Dunia?

Barangkali dia mengkritikmu dengan kata-kata tajam, menyayat hatimu menjadi irisan tipis tipis. Dia juga tidak segan memberikan kritik padamu di depan orang lain, dengannya harga dirimu terasa jatuh diinjak injak orang yang melihatmu menunduk dengan mata berkaca-kaca.

Sialnya, dia baik sekali pada orang lain. Mungkin pada rekanmu, atau temanmu yang lain yang punya citra baik dan mengagumkan. Mungkin saja dadamu sesak melihat banyak kalimat baik melompat dari lidahnya untuk temanmu. Kalimat-kalimat yang tidak sering kamu dengar dari mulutnya untukmu.

Barangkali dia bukan dosen yang berjiwa keibuan, penuh kasih sayang dan berbicara perlahan sekaligus anggun. Atau bukan juga yang berjiwa kebapakan yang bijaksana dan hangat. Sialnya, kita tidak bisa memilih siapa dosen kita sejak pertama masuk kuliah hingga kita lulus.

Lebih sialnya, bagaimanapun dia adalah dosenmu! Dia tidak pernah berkata-kata ke mana kita harus melangkah melanjutkan hidup setelah kuliah. Namun jika sukses nanti, menjadi keharusan untuk menyebut namanya dalam ucapan terima kasih pada sambutan-sambutan.

Di masa setelah kuliah, kamu masih mendengar kabar tentangnya. Masih saja membuat mahasiswanya muak dengan kritik kritik yang tajam. Tapi di saat yang sama, kamu tetap tidak bisa menghindari bersalaman saat berpapasan dengannya.

Jika dosenmu bukan dosen yang terbaik di dunia,

barangkali kini kamu dan dosenmu sudah cukup lelah menjalaninya. Barangkali inilah saatnya untuk membuka hubungan antara guru dan murid yang baru, kemudian berkata “Aku adalah aku pak, dan bapak pun adalah bapak. Kita adalah dua orang berbeda yang berada dalam satu garis irisan waktu jenjang sarjana. Aku mahasiswa, dan bapak dosennya. Aku memaafkan semua kesalahan dan sikap-sikap burukmu. Aku memaafkan segala hal buruk yang ada dalam dirimu. Maka, maafkanlah aku atas segala perlakuan dan kata burukku. Maafkanlah marahku yang pernah kuungkapkan di depan atau di belakangmu.

Terima kasih telah menjadi dosenku. Terima kasih, karena bagaimanapun tidak ada legitimasi untuk membuatku bisa belajar secara intensif dan lulus sebagai sarjana dari dosen lain selainmu. Tuhan selalu memberikan kekuatan untuk dosen yang memiliki mahasiswa dengan pikiran macam-macam dan menjengkelkan.

Kini, Aku ingin memulai hidup yang baru. Sesuatu yang kelak jika aku ditanya oleh anak-anakku, aku ingin menceritakan dengan perasaan bangga tentangmu. Maka, akan kuperkenalkan engkau sebagai dosenku, guru yang pernah mengajari ayah dan ibunya.

Barangkali, bapak dan ibu bukan dosen terbaik di dunia, sebab aku pun bukan mahasiswa terbaik di dunia. Mari pak, bu, kita ucapkan selamat tinggal pada masa lalu, dan mari ucapkan selamat datang pada kehidupan yang baik di depan.

  • view 88