Jika Kamu Merasa Jenuh

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Motivasi
dipublikasikan 27 September 2017
Terima Kasih

Terima Kasih


Awalnya, buku ini berbentuk cetak. Tapi karena hanya tersedia sepuluh eksemplar, banyak kawan-kawan lain yang tak bisa membaca dengan bebas. Jadilah buku ini saya publish dalam bentuk buku daring. Semoga tetap bisa dinikmati dengan baik.

Kategori Cerita Pendek

838 Hak Cipta Terlindungi
Jika Kamu Merasa Jenuh

Suasana pagi itu nyaris sama seperti biasanya. Lorong-lorong fakultas yang sepi di pukul 07.15, jalanan pinggir museum pendidikan yang dipenuhi beberapa mahasiswa yang panik karena tugasnya belum sempat di print out. Dan beberapa mahasiswa mengenakan pakaian olahraga di sudut jalan, sesekali menunduk dan sesekali menerawang ke depan.

Kini semuanya nyaris tak istimewa. Hampir setiap hari kejadian yang sama berulang, memutar kembali kenangan yang sudah disimpan di dasar pikiran. Kemudian hilang begitu saja, tak berkesan.

Selalu ada alasan untuk mengubah hari baru menjadi hari yang biasa-biasa saja. Kehilangan semangat mengerjakan semuanya yang semula menyenangkan. Sesuatu yang semacam membaca banyak buku, kemudian merangkumnya menjadi kepingan-kepingan gagasan yang ditulis ulang menjadi karya-karya ilmiah yang dipresentasikan.

Namun kini semuanya berubah mengerikan, tak menarik dan membosankan.

“Mungkin aku jenuh.” Begitu beberapa orang bilang. mewakili semua perasaan dalam sebuah kalimat yang tidak disadari semua orang.

“Aku tak tahu kenapa, tapi aku merasa malas mengerjakan tugas-tugasku.” Beberapa orang nampak kebingungan, tapi tahu apa yang dirasakan sekalipun tak tahu namanya.

Barangkali semacam keinginan hanya diam di tempat tidur seharian. Menelentangkan badan, dipeluk erat selimut yang hangat kemudian memimpikan banyak hal indah.

Atau barangkali semacam keinginan naik ke puncak gunung, berdiri di tempat paling tinggi kemudian berteriak mengeluarkan semua perasaan. Meneriakkan semuanya dengan satu huruf saja yang dipanjangkan “Aaaaaaaa !!!!.”

Sesuatu yang tidak mungkin. Tidak akan ada tugas yang selesai selama selimut masih memelukmu erat, punggungmu belum tegak dan hatimu tidak punya tekad yang bulat. Hanya beberapa filosof saja yang mendapat pemikiran hebat di atas ranjangnya. “kamu bukan filosof hebat kan?” barangkali akan ada orang memarahimu seperti itu jika kamu hanya ingin diam; melakukan revolusi di atas tempat tidur atau meneriakkan satu huruf saja beserta perasaan kesel dibaliknya.

Ada saatnya bagi seorang pendaki gunung untuk diam sejenak, berkemah di lereng gunung, istirahat dan memasak beberapa makanan dan minuman hangat. Setelah itu melanjutkan perjalanan hingga sampai puncak gunung.

Ada saatnya bagi sebuah mobil untuk parkir seharian, melakukan service rutinan. Membersihkan beberapa bagian mesinnya dan mengganti beberapa sparepart yang telah usang.

“Kita semua bukan pendaki gunung apalagi sebuah mobil.” barangkali kamu akan mengatakan itu.

Seperti halnya pendaki gunung atau mobil, barangkali kita perlu istirahat atau melakukan Service berkala setelah melakukan perjalanan jauh dan terjal.

Seorang pendaki gunung butuh tempat untuk beristirahat di tempat yang berbeda. Bukan di track pendakian, tapi barangkali di balik semak belukar yang menghadap pemandangan yang membuat hati bergetar seraya bergumam,”Allah Maha Besar!”.

Setelah melakukan perjalanan panjang, barangkali mesin sebuah mobil akan lebih panas dari suhu normalnya, menghanguskan beberapa komponen yang telah dimakan usia. Karenanya ia butuh sebuah tempat mendinginkan suhu mesin, memberhentikan sejenak kerjanya. Sebuah tempat yang jauh lebih dingin dan rileks dibanding jalanan hitam beraspal.

Kita memang tak selalu mendaki gunung, atau tak selalu mengendarai mobil. Tapi seperti halnya seorang pendaki yang kelelahan atau mobil yang suhu mesinnya meningkat dari suhu normal, kita pun butuh istirahat di tempat yang nyaman. Sekedar untuk sejenak memandangi banyak keindahan yang setiap hari kita lewatkan, atau sekedar diam di tempat yang lebih dingin dan menenangkan.

Ada banyak orang yang sedang berada di titik jenuh, tapi tak semua orang bisa berdamai dengannya. Ada banyak orang yang berada di titik jenuh, tapi tak semua orang bisa menjalaninya tanpa keluh kesah.

“Barangkali cara melewati masa jenuh adalah dengan sabar.” Orang-orang banyak memberikan nasihat itu. Sesuatu yang sering di dengar.

Barangkali air yang menjelaskan apa itu sabar secara teknis. Ia mengalir sesuai lintasannya dari ketinggian, meliuk jika dihadang ranting tanaman, berhenti sejenak mengumpulkan tenaga dan keberanian jika dibendung bebatuan hingga akhirnya meluap keluar.

Ia tak pernah mengeluh sekalipun dihadang tanaman atau dibendung bebatuan. Air mungkin saja punya pendapat; sabar adalah tak banyak bicara tapi bergerak mencari solusi, bukan banyak bicara tapi diam tak ada aksi.

Jika jenuh adalah ranting pepohonan atau bebatuan yang terjal, maka bisa jadi kita yang jadi airnya. Meliuk-liuk di antara rutinitas yang membosankan, dan bersabar mengumpulkan kekuatan dan keberanian kemudian meluap keluar melewati bebatuan jenuh yang memuakkan.

Tujuan semua air yang terjun dan meluncur dari ketinggian adalah lautan. Tempat di mana semua air yang sukses menghindari hadangan ranting dan batuan berkumpul dan bersiap menjadi hujan.

Kalau saja di depan masih ada ranting atau bebatuan,  tugas kita adalah bersabar melewati keduanya. Terus meliuk dan mengumpulkan tenaga dalam diam sampai kita semua sampai di lautan; tempat di mana tak ada ranting dan batu yang cukup berarti untuk dihindari atau dilewati, semua mudah saja dihempas dan ditenggelamkan.

Seolah air menepuk pundak kita yang kelelahan sambil mengatakan,” Bersabarlah dalam jenuh, kita akan sampai ke laut pada waktunya.”

  • view 97