Terima Kasih

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Project
dipublikasikan 19 September 2017
Terima Kasih

Terima Kasih


Awalnya, buku ini berbentuk cetak. Tapi karena hanya tersedia sepuluh eksemplar, banyak kawan-kawan lain yang tak bisa membaca dengan bebas. Jadilah buku ini saya publish dalam bentuk buku daring. Semoga tetap bisa dinikmati dengan baik.

Kategori Cerita Pendek

858 Hak Cipta Terlindungi
Terima Kasih

Air di kolam partere pagi itu masih tenang seperti biasanya. Sesekali ia beriak terkena hembusan angin. Beberapa saat kemudian ia menahan daun-daun yang gugur, yang jatuh dari ketinggian. Pada beberapa bagian kolam, ada berkas cahaya pukul sembilan  yang bersinar keemasan menelusup dan memantul di punggungnya.

Aku baru saja menyelesaikan mata kuliah di kelas. kemudian kuputuskan pergi ke taman sendirian, untuk merayakan beberapa perasaan gelisah yang sesekali merusak kebahagiaan di bangku kuliah.

Tap. Aku sampai di ujung taman. Menduduki punggung bangku yang sejak tadi berjongkok menghadap kolam. Aku memandangi air yang tenang, yang sesekali bergerak ditiup angin dan sesekali silau ditempa sinar-sinar.

Ada kenangan dan perasaan yang hinggap di kepalaku. Ingatan ini dari masa lalu, rupanya ia telah menembus beberapa dimensi waktu dan akhirnya sampai di benakku. Ingatan tentang empat tahun yang lalu, saat jadi mahasiswa baru. Memang benar, untuk beberapa alasan, aku diterima sebagai mahasiswa dengan jalur masuk yang tidak begitu normal. Hal-hal ini terkait dana pendidikan.

“Ini adalah jumlah yang harus ibu lunasi sekarang, sisanya boleh dicicil.” Seorang bapak dengan jas hitam dan dasi berkata pada ibuku sambil menyodorkan secarik kertas yang tidak begitu besar. Aku mengintip kertas itu terletak tak berdaya di atas meja, memuat angka dalam rupiah yang jumlahnya 11 kali lipat lebih besar dari uang pensiun ibu setiap bulannya.

Ibu tak henti bersyukur karena telah diberi kesempatan menyicil banyak kekurangan dana pendidikan, kemudian berpamitan. Aku menunduk ditimpa banyak kebingungan, dan hampir saja dihujani keputus-asaan.

“Apa yang harus aku lakukan?” kataku di suatu pagi. “Apakah aku keluar saja? Aku tak punya uang sebanyak itu!” Timpal diriku sendiri.

Beberapa imajinasi melintas terbang di kepalaku. Imajinasi terbesar menggambarkan keadaanku yang berdiri di depan kelas, menghadap pada semua teman-teman. Bukan sedang mempresentasikan materi-materi yang menarik disimak, namun tengah berpamitan dengan suara pelan dan malu-malu,” maaf mulai besok, untuk beberapa alasan, aku tak akan masuk kuliah lagi.”

Aku menggelengkan kepala sambil memejamkan mata. Berharap imajinasi itu tak pernah terwujud. Aku ingin tetap menjadi mahasiswa, kemudian belajar banyak hal. Udara rasanya tak cukup banyak untuk mengisi dada yang sesak, langit nampak lebih kelabu dari biasanya.

Pagi itu aku berdoa lirih,” Ya Allah.... jika memang tidak ada biaya untukku melanjutkan kuliah ini, tak apa, aku keluar saja. Namun, jauh di dasar hatiku, aku berharap bisa melanjutkan kuliah. Sungguh Engkau Maha Kaya...”.

Allah berkata,”YA.”, tentu saja.

Suatu hari, ada pesan masuk di ponselku. Menjelaskan sesuatu yang tidak kumengerti. Membuat dadaku berdebar lebih kencang dari biasanya. Isi pesan itu menyuruhku datang ke aula gedung Geugeut-Winda.

Tap. Satu langkah mendaratkan jejak pertamaku ke dalam ruangan. Kulihat ada banyak orang di sana, termasuk beberapa rekan kelasku. Mereka semua tersenyum lebar, saling bersalaman.

“Anda semua yang dikumpulkan di ruangan ini akan mendapat Bidikmisi.” Seseorang pria paruh baya berbicara dengan mic di tangan kanannya, setelah acara dibuka dan dimulai. “karenanya, hari ini saudara dimohon untuk melengkapi beberapa syaratnya.” katanya lagi.

Ternyata orang-orang yang dikumpulkan di sana akan dibebaskan dari tunggakan uang masuk yang harus di bayar di awal, bahkan dibiayai sampai lulus dilengkapi dengan uang saku!

Mendadak ruangan yang dipenuhi banyak orang itu menjadi ruangan yang kelebihan oksigen untuk mengisi bagian dada manapun yang masih sesak. Mendadak langit lebih cerah dari biasanya untuk Bandung yang berawan. Mendadak bumi ini lebih indah dari biasanya, ada ribuan kupu-kupu yang terbang di atas bunga-bunga mekar dan rumput yang hijau.

“Bu! Kita tak usah membayar sisanya!” kataku di suatu malam. Kali ini aku berkata dengan semangat pada ibu. “Bahkan ibu tak usah memberikanku uang bulanan!” mataku masih berbinar.

“Ah yang benar?” kata ibu. Ia bahagia sekaligus bingung.

“Benar bu!” kataku lagi semakin bersemangat.

Alhamdulillah.....” ibu mengucap syukur. “Ayo sujud syukur!” katanya dengan semangat.

Sesaat kemudian aku tersungkur di hadapan Tuhan dengan ucap syukur yang panjang. Menyebut banyak kebaikan yang telah Tuhan berikan, kemudian berterima kasih karena telah memberikan kelapangan.

***

            Barangkali ini adalah cerita yang biasa saja dilihat dari sudut manapun. Namun bukan menjadi alasan untuk tidak mengucapkan terima kasih kepada banyak orang yang kukenal (dan lebih banyak lagi orang yang tidak kukenal) yang telah menjadi jalan bagi nasib yang telah Tuhan tentukan.

            Aku harus mengucapkan terima kasih kepada presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta menteri pendidikan & kebudayaan bapak Muhammad Nuh yang telah berkenan merancang dan merealisasikan program Bidikmisi, tentu saja. Kemudian mengucapkan terima kasih kepada jajaran direktorat kemahasiswaan yang telah menjalankan program ini di tingkat grass root, hingga akhirnya rekan seperjuangan mahasiswa yang memberikan informasi ini padaku. Semoga kebaikan senantiasa tercurah padamu, baik di saat hidup hari ini pun pada waktunya mati nanti.

Terima kasih!

  • view 169