Pagi di Kampus UPI

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Project
dipublikasikan 19 September 2017
Terima Kasih

Terima Kasih


Awalnya, buku ini berbentuk cetak. Tapi karena hanya tersedia sepuluh eksemplar, banyak kawan-kawan lain yang tak bisa membaca dengan bebas. Jadilah buku ini saya publish dalam bentuk buku daring. Semoga tetap bisa dinikmati dengan baik.

Kategori Cerita Pendek

579 Hak Cipta Terlindungi
Pagi di Kampus UPI

Pagi di kampus UPI bagiku adalah pagi yang terus berulang. Sesuatu seperti udara mendung Bandung yang dingin. Lalu lintas padat di sekitar jalan Setiabudi. Lantai dan tangga fakultas yang tengah dipel. Beberapa ruang kelas yang masih dikunci. Proyektor yang belum siap dinyalakan. Dan ucapan,”Assalamualaikum.” dari moderator yang membuka presentasi.

Saat presentasi, orang-orang akan memperhatikan pemateri di depan. Setidaknya di lima belas menit awal. Mencatat beberapa bagian penting dalam slide. Membuat beberapa gambar-gambar dan arah-arah panah dalam binder. Diselingi ujung-ujung jari yang sibuk menyentuh layar Smartphone.

Aku selalu suka cara dosen menjelaskan banyak materi. Memulai pembicaraan dengan menjawab beberapa pertanyaan di akhir presentasi. Mengaitkan dengan kejadian masa lalu, kini, dan masa depan nanti. Kemudian memberikan banyak pengalaman dan inspirasi.

Jika seratus menit telah berhenti, semua orang akan keluar kelas dengan mengantre. Membuat barisan ke belakang dengan beberapa buku masih di tangan. Meninggalkan beberapa orang yang masih sibuk berbincang. Memandangi beberapa orang yang keluar duluan sambil menyalami beberapa mahasiswa yang tengah menunggu di lorong dengan sapaan dan senyuman.

Pagi di kampus UPI bagiku adalah sesuatu yang membuatku harus bangun lebih pagi. Menjadikan sarapan dan mandi sebagai dua dari lima aktivitas utama di awal hari. Pergi berdesakan dengan anak-anak sekolah yang dikejar bunyi bel, berhimpitan dengan karyawan yang takut diomeli manajer yang bawel.

Pagi di kampus UPI bagiku adalah waktu mahasiswa dan dosen merayakan semangat baru di awal waktu. Dalam langkah kaki yang lebar dan kuat, dengan sanggaan tulang punggung yang tegak mengangkat print out tugas-tugas yang diketik dengan giat.

Pagi di kampus UPI bagiku adalah pagi yang kurayakan dengan syukur yang sederhana; sebait doa penuh pinta agar ditambahkan ilmu yang manfaat dan dianugerahkan rezeki pemahaman yang berguna hingga akhirat kelak.

Seperti selamanya, tidak semua orang akan mengagumi pagi UPI. Akan ada yang menghindar, sebal bahkan memaki. Namun, dengan atau tanpa mereka -pembenci pagi-, pagi di kampus UPI akan terus berulang. Bersambung menjadi benang-benang kehidupan yang merajut masa depan orang-orang. Menjadi rute wajib bagi siapa pun yang ingin sampai di terminal kesuksesan.

Pagi di kampus UPI akhirnya bagiku adalah keheningan yang dirayakan di sudut ruang administrasi departemen yang belum buka. Ketenteraman dan harapan yang mengisi mihrab dan lantai masjid al Furqan. Dan gairah belajar yang dipersiapkan oleh diri sendiri –sebagai faktor internal- dan semua fasilitas belajar yang dipersiapkan oleh para petugas kebersihan –boleh jadi sebagai faktor eksternal-.

Terima kasih pagi UPI, semoga nanti kita berjumpa lagi.     

  • view 66