Awal dari Banyak Cerita

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Project
dipublikasikan 17 September 2017
Terima Kasih

Terima Kasih


Awalnya, buku ini berbentuk cetak. Tapi karena hanya tersedia sepuluh eksemplar, banyak kawan-kawan lain yang tak bisa membaca dengan bebas. Jadilah buku ini saya publish dalam bentuk buku daring. Semoga tetap bisa dinikmati dengan baik.

Kategori Cerita Pendek

685 Hak Cipta Terlindungi
Awal dari Banyak Cerita

Barangkali aku tak pernah berfoto di depan Isola mengenakan jas warna biru hampir abu-abu sore itu. Foto yang membekukan senyum kita dan yang lainnya di sana, menjadikan suasana di sekelilingnya tak bergerak, kaku.

Jurusan ini saja ya?” kamu memilihkan jurusan kedua untukku. Suatu jurusan yang tak pernah aku berpikiran akan belajar di sana. Aku akhirnya setuju. Huruf-huruf dalam ponsel mengatakannya padamu.

Aku selalu percaya Tuhan memilihkan yang terbaik melaluimu. Sesuatu yang tak pernah punya kekurangan sedikit pun. Pilihan yang sempurna, sekalipun aku selalu cacat memahami semuanya.

Aku memang tak belajar di jurusan yang aku inginkan, namun Tuhan punya hal yang lebih membahagiakan.

Kini ku bisa mengeja banyak huruf yang tak biasa. Memahami makna dari bahasa tertua di dunia. Menyelami banyak hikmah di dalamnya. Sesuatu yang tak bisa kudapatkan jika bukan Tuhan yang memilihkan melalui ujung ujung jarimu. Sebuah pilihan yang baik bagiku. Sesuatu yang sempurna dengan semua Skenario-Nya, sekalipun pada awalnya aku cacat memahami semua maknanya.

Ini adalah ungkapan terima kasih yang sederhana, untuk perbuatanmu yang luar biasa.

Aku tak tahu akan jadi apa jika dulu tak memilih jurusan yang kamu pilihkan. Mungkin saja jadi semacam orang  yang hanya duduk di bangku kamar merayakan kesepian bersama secangkir kopi dan sepotong kesedihan yang dinikmati setiap pagi, setiap hari. Meratapi banyak hal yang tidak kumengerti, kemudian memaki keadaan dengan kata-kata,”mengapa ini harus terjadi?!” Sesuatu yang bisa kujawab bila aku terus belajar lebih tinggi lagi.

Lebih dari itu, aku tak perlu membayar biaya sedikit pun untuk menuntut ilmu di sini, di jurusan yang kamu pilihkan. Sesuatu yang artinya aku bisa mempelajari banyak hal tanpa bingung harus dari mana dan harus pada siapa meminta biayanya. Sesuatu yang tidak semua orang mendapatkannya.

Seseorang tengah menyebut namaku dalam sujud-sujud panjangnya, dalam tiap tetes air matanya, dan tangis harunya. Seseorang yang Tuhan jadikan permintaannya sebagai prioritas. Seseorang yang aku tak tahu siapa saja, dan tak tahu berapa jumlahnya. Tapi barangkali satu dari seseorang itu adalah kamu.

Jika suatu hari ku mengingat “kebetulan” ini sebagai kebetulan, kuyakini bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Bahkan daun kering yang jatuh dari atas pohon pun tidak lepas dari pengawasan Tuhan.

Terima kasih telah memilihkan untukku. Pilihanmu yang bukan kebetulan, yang memulai banyak perjalanan panjang.

  • view 101