Memutuskan Resign

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 September 2017
Memutuskan Resign

“Kalau kamu keluar dari pekerjaanmu, kamu tak perlu menuliskan harapan kalau seseorang yang lebih baik akan mengganti posisimu .” Teh Srie Mulyati, guru TOEFL saya, masih memegang kertas tugas ketika mengatakan itu pada saya.

 “Gitu ya teh?” saya menggaruk kepala yang tak gatal. Saya belum pernah masuk perusahaan manapun sebelumnya.

“akan selalu ada orang untuk mengganti posisi yang kamu tinggalkan.” Jawab teh Srie.

Ruang kelas berubah hening. Peta Amerika menggantung di dinding, bangku-bangku duduk tanpa suara. Ada yang menggedor-gedor dalam diri saya.

***

Sementara itu beberapa bulan setelah menyelesaikan belajar TOEFL, Saya dan beberapa rekan terlibat dalam sesi mentoring pagi. Di depan saya, seorang mentor duduk di atas kursi kayu dengan kacamata minus menggantung di hidungnya. Beliau adalah pak Indra Laksana-- Direktur PT Sygma Media Inovasi.

“Kalau ada orang yang resign karena sebal pada teman kerjanya” Saya masih mengingat kalimat yang beliau lempar pagi itu, “dia akan mendapati masalah yang kurang lebih sama di tempat kerja barunya.”

Sesekali angin menelusup dari celah-celah pitu kaca. Di luar sana, kendaraan lalu lalang. Pak Indra masih melanjutkan--

Mengapa bisa begitu? Karena dia lari dari masalah. Otomatis, dia masih akan diuji oleh hal yang levelnya sama. Kalau alasan dia pindah kerja karena teman sekantornya menyebalkan, tidak mustahil di tempat kerjanya yang baru ia pun akan bertemu dengan orang-orang semacam itu.

Saya tertawa pelan. Kata-kata itu terus bergaung di dalam kepala, terputar dengan sendirinya. Tanpa sadar, saya membuka berkas ingatan. Satu kalimat dari laman web panduan berkarir ; fresh graduated itu harus bisa memotivasi dirinya sendiri!

***

Jauh-jauh hari sebelum itu, sebuah ruangan nyaris penuh diisi puluhan orang membuat lingkaran. Di tengahnya tersaji berbagai makanan dan minuman. Pada salah satu arah lingkaran, seorang laki-laki membuka pembicaraan.

“Setiap orang punya tempatnya masing-masing. Air panas tak bisa berdiam dalam gelas plastik yang tipis. Pun gelas berlian terlalu mahal untuk jadi tempat cairan yang tergenang dari tetes tets hujan.”

Saya menarik nafas panjang. Membuat jeda, untuk mencerna kata-katanya. Namun beliau masih melanjutkan—

“Ada orang sangat baik kerjanya, tapi lingkungan tak mampu mendukungnya. Maka kebaikan orang itu akan tumpah ruah—meluber ke luar tempatnya. Barangkali, karena sebab itulah Allah kan tempatkan di lingkungan baru yang lebih luas lagi ukurannya.

Saya menekuk wajah. Untuk beberapa jeda, saya terus memikirkannya. Tapi beliau masih melanjutkan—

ada lingkungan yang luas. Namun orang-orang yang mengisinya terlalu kerdil. Jadilah mereka terlalu lelah mengurus semuanya. Dan Barangkali karena itu, Allah kan pindahkan mereka ke tempat yang lebih kecil urusannya—untuk digantikan dengan seseorang yang lebih siap dan lebih mapan.”

Sejak saat itu, saya memberikan dua pilihan pada diri saya sendiri; mundur karena terlalu kerdil bagi sebuah lingkaran, atau memanjat naik menuju tempat yang lebih lapang?

  • view 134

  • Siti Solihat
    Siti Solihat
    2 bulan yang lalu.
    Terima kasih a Trias, tulisan Resignnya membuat saya berfikir ulang kembali dalam mengambil keputusan. Padahal diluar sana masih banyak orang yang belum memiliki pekerjaan. Sementara kita dengan mudahnya mengucapkan kata resign hanya karena masalah sepele.