PART 5 : KEMAH

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Project
dipublikasikan 05 Juli 2017
Love Padlock

Love Padlock


Kepingan cerita yang lain dari Project 'Semoga'. Oleh Trias Abdullah dan Co-Creator Egi Rahman Shidiq

Kategori Roman

965 Hak Cipta Terlindungi
PART 5 : KEMAH

Kereta berlari mengikuti rel. Sesekali menerobos pinggaran komplek. Anak-anak mengintip dari balik jendela rumah, sementara motor-motor berbaris di belakang palang pintu rel.

Aku menyender ke kursi kereta. Sedikit mengantuk. Dadaku masih terasa sesak. Masih ada air mata yang mengintip di sudut mataku. Jika aku bisa memutar waktu dan kembali ke masa lalu, aku memilih untuk tak bertemu denganmu. Mungkin aku terlalu suka padamu.

***

“Kamu kedinginan?” Suaramu bergetar ketika memanggilku dari balik kemah.

Aku terbangun di lima bulan setelah kunjungan ke Belanda selesai. Kita sedang menjalani program lanjutan, semacam kemah team building atau semacamnya. Sinar bulan mencetak bayangan kita malam itu. Tiga langkah di depan kita berdua, teman-teman sedang berusaha menyalakan api unggun.

Sedikit...” jawabku sambil memasukan tangan ke dalam saku jaket tebal.

Perhatikan aku” katamu. Aku menajamkan mata, merekam apa saja gerakanmu, “tiup telapak tanganmu, kemudian usapkan ke pipi.”

 “Gini?” kataku sambil menoleh ke arahmu. Kamu mengangguk.

“Kemudian.... usapkan ke pipimu.” Katamu sambil mengulangi gerakan mengusap-usap pipimu sendiri.

                Malam itu kamu mencuri detak jantungku sekali lagi. Dengan cara-cara yang tak kuketahui, dengan sebab-sebab yang tak kumengerti. Mengubahnya menjadi debar yang tak pernah khatam kueja. Menjadi rasa yang tak bisa kulupa.

“Sekarang mendingan?” Tanyamu.

Lumayan” jawabku. Tanganku masih menempel di pipi.

“Aku pergi dulu” katamu sambil mengambil langkah mundur, “jaga kesehatanmu”

                Api unggun menyala. Beberapa orang mendekat untuk menghangatkan badan. Apakah aku perlu datang ke sana juga? Mencari-cari alasan agar bisa bersama? Apakah aku harus mengajakmu menatap jutaan bintang untuk kuambil salah satunya dari matamu? Apakah harus kubilang malam ini jika aku suka kamu?

***

Esok paginya dadaku berdebar cepat, darahku mengalir lebih deras. Apa aku cemburu? Rasanya aku ingin mendorongmu ke jurang, tapi di saat yang sama aku akan menunggu di bawah untuk memelukmu, kemudian menangis di bahumu.

Aku belum selesai mengenakan jaket ketika peserta lain sudah keluar dari kemahnya masing-masing.

                Aku menemukan senyummu di tepi lapangan berumput itu. Ada perempuan membawa gelas sambil tersenyum ke arahmu. Sementara kamu masih sibuk dengan bukumu.

                “terima kasih” katamu pada perempuan itu, “simpan saja dulu”

                Perempuan itu segera mendekatimu, kemudian menyimpan gelas di dekatmu sambil duduk tepat di samping kirimu. Ia berusaha mengintip isi buku yang sedang kamu baca.

                “Serius banget” perempuan itu menggoda. Kamu tak membalas apa-apa. Asap masih mengepulkan gelas di sampingmu.

Melihat kalian, rasanya aku ingin pergi ke tempat yang lebih lapang. Ke mana saja, yang penting tak ada kamu dan perempuan itu. Apakah aku benar-benar cemburu?

“Riana” tiba-tiba kamu berteriak ke arahku, “ayo sini!”

Aku berusaha menjauhi langkahmu. Sementara kamu setengah berlari mendekatiku. Aku mempercepat langkah. Namun sia-sia saja, langkahmu jauh lebih cepat.

                “Love padlock ku baru tiba di Jerman” katamu antusias, “Temanku menggantungkannya di Hohenzollern Bridge!”

                Aku memalingkan wajah. Berusaha mengusir air mata yang sejak tadi berusaha mengintip di sudut mataku.

                “sudah kubilang aku tak percaya dengan hal semacam itu.” Aku berusaha terlihat baik-baik saja.

 “Kamu kenapa Ri?” kamu mencari pandanganku. Aku masih tak mau menatapmu.

“aku ga apa-apa” jawabku sambil mengambil langkah menjauhimu. Kamu berdiri tanpa bicara apa-apa lagi.

Pagi itu, kita disekap diam.

  • view 81