Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 21 Mei 2017   20:55 WIB
PART 4 : PANTAI

Cahaya berpendar di antara ombak lautan, ketika kita berdua melintasi pesisir pantai dengan sepeda sore itu. Kamu terus mengayuh sepeda yang membawa kita ke pantai lainnya, sementara ombak menghapus jejak roda sepeda kita. Kamu terus tertawa tanpa suara. Aku sesekali memukul pelan punggungmu, kemudian tertawa. Sementara kamu pura-pura meringis kesakitan, hanya untuk membuatku tertawa lebih dalam.

Dua orang yang saling jatuh cinta. Terlebih dua anak muda seperti kita, bukankah kita masih harus belajar apa itu arti cinta sebenarnya?

Kamu mengulurkan tangan. Ombak memeluk mata kaki kita berdua. Ke mana kamu akan membawaku, yas? Ke tengah lautan kemudian menenggelamkanku bersama sesamudra sesal? Atau ke pelabuhan untuk menaiki perahu yang akan kita gunakan untuk mengarungi lautan?

Percaya padaku” katamu sambil terus mengulurkan tangan, “jangan ragu.”

Aku memejamkan mata. Aku bingung harus berbuat apa. Tapi kamu terus mengulurkan tangan. Sambil terus memanggil namaku.

Ombak terus berderu. Mendebarkan dada kita yang dipenuhi rindu.

Aku menarik tanganku, Berjalan mundur menjauhimu. Aku suka kamu, yas. Tapi bukan berarti seperti ini. Aku mengerti jika cinta kadang mensyaratkan kita bersama. Namun, bukankah itu salah jika belum waktunya?

“Percaya padaku” katamu, “pegang tanganku”

Aku menyambut tanganmu dengan ragu. Kamu tersenyum menatapku. Kamu takkan menenggelamkanku, yas? Kamu takkan mencelakaiku?

Kamu mengangguk pelan. Tersenyum tanpa suara. Hingga tiba-tiba suara perempuan terdengar keras memanggilku dari arah atas. Itu suara Anna. Mengapa ia bisa ada di sini? Bukankah hanya kita berdua? Kita saja, dengan sepeda dan pantai senja?

Kini suara Anna semakin keras. Bahkan tangannya terasa sedang menggoyang-goyangkan bahuku.   

“Ayo bangun, Ri.” Anna menepuk-nepuk pundakku, “Kita belum shalat Isya.”

Aku mengangguk masih dengan wajah mengantuk. Anna sedang mengusapkan tangannya ke tempat menempelnya debu. Sedangkan kamu, yas, baru saja bangkit dari ruku dalam shalat di perjalananmu.

Pesawat melintas di antara awan-awan. Sesekali cahaya kota bersinar dari kejauhan. Menjelma setitik cahaya, seperti bintang gemintang bertabur di bawah langit dunia. Masih tersisa 10 jam lagi pesawat akan landing di Jakarta. Tiba-tiba aku mengingat lagi kalimat dalam mimpiku.

“Kemana kamu akan membawaku, yas? Ke tengah lautan dan tenggelam, atau mengarunginya dengan sampan pernikahan?”

Karya : Trias Abdullah