PART 3 : PESAWAT

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Project
dipublikasikan 20 Mei 2017
Love Padlock

Love Padlock


Kepingan cerita yang lain dari Project 'Semoga'. Oleh Trias Abdullah dan Co-Creator Egi Rahman Shidiq

Kategori Roman

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
PART 3 : PESAWAT

Pukul 16.30, bandara Schiphol Amsterdam masih sibuk seperti biasanya. Seorang perempuan memeluk erat ibu paruh baya yang sedang mengelus ngelus punggungnya. Sore itu, aku mencari langkah kakimu di pintu Bandara. Menantimu bersama angin dan cahaya senja.

“Beneran kamu mau nunggu Ilyas, Ri?” tanya Anna ragu, “Kita bakalan telat.”

“tunggu sebentar lagi boleh?” tanyaku agak malu.

“Kalau lima menit lagi Ilyas belum datang, aku tinggalin ya?” Anna mengintip jam tangannya, “masa waktunya balik ke Indonesia gini dia telat?”

Aku tak menjawab apa-apa. Sedikit kesal. Kemudian melemparkan pandangan kembali ke pintu bandara. Ada laki-laki sedang berlari dengan ransel dan koper di sana. Itu kamu, yas. Kamu selalu datang terlambat untuk acara apa saja. Sampai aku bisa menebak kata yang akan kamu ucapkan di langkah pertama datang.

“Maaf aku terlambat....” pasti kamu mengatakan itu.

“Kebiasaan” jawab Anna sambil membuang nafas panjang, “Macet lagi, yas? Atau bangun kesiangan? Halo... jam berapa ini?”

Maaf ya An” Kamu menatap Anna dengan wajah bersalah, “Maaf juga Ri”

Aku tersenyum tak natural. Sedangkan Anna terus membuang kesal sambil meninggalkan kita. Aku tertinggal dua langkah di belakang Anna. Sedangkan kamu masih mengatur tali tas ranselmu.

“Kenapa terlambat lagi?” desisku, “bukannya kamu udah janji ga akan telat?”

Kamu memalingkan wajah. Nampak merasa bersalah.

“Ini yang terakhir” katamu, “Aku takkan terlambat lagi”

Pesawat akan segera take off. Video animasi petunjuk keselamatan memutar dirinya sendiri. Memberi tahu apa saja yang harus dilakukan penumpang jika hal hal buruk terjadi. Anna duduk menyender di samping kirimu. Aku duduk dekat jendela. Sementara kamu langsung tertidur setelah mengatur kursimu lebih rendah.

“Ri” tiba-tiba Anna memanggil namaku sambil menunjuk ponselnya, “matiin”

Aku memasukan tangan ke dalam saku kecil di dalam tas. Meraih ponsel di sana. Ada tiga notifikasi. Dua teks dan satu foto. Semuanya datang darimu, yas. Aku melewatkan pesanmu sejak satu jam yang lalu.

“Aku agak telat” katamu dalam pesan, “Aku menemui temanku yang akan pergi ke Jerman. Setelah itu aku akan segera ke Bandara”

Aku  menoleh ke arahmu. Kamu tertidur dan tak sempat membuka kacamatamu. Bahkan kamu lupa menyisir rambutmu. Aku meneruskan isi pesanmu. Ada satu gambar di ujungnya. Foto sebuah gembok dengan dua nama; Ilyas – Riana.

  • view 224