PART 2 : LOVE PADLOCK

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Project
dipublikasikan 18 Mei 2017
Love Padlock

Love Padlock


Kepingan cerita yang lain dari Project 'Semoga'. Oleh Trias Abdullah dan Co-Creator Egi Rahman Shidiq

Kategori Roman

886 Hak Cipta Terlindungi
PART 2 : LOVE PADLOCK

Ruangan serba putih menyapaku sore itu. Bau obat menguar di hidungku. Di sana, aku menemukanmu sedang berdiri di sampingku.

“Kamu di rumah sakit” katamu, “tadi kamu pingsan.”

 “Kamu siapa?” tanyaku. Dari belasan kemungkinanan pertanyaan, entah mengapa aku menanyakan namamu.

“Aku Ilyas” katamu.

“aku Riana.” Kataku, “salam kenal.”

“Riana Puji Herawati?” kamu tersenyum.

Aku terdiam sambil terus bertanya-tanya. Untuk beberapa alasan yang tak kupahami, aku bahagia mendengarnya. Dari mana kamu tahu nama lengkapku? Bukankah kita baru saja bertemu?

***

Sejak pertemuan itu, aku merasa hari-hari kita begitu akrab, yas. Kamu terus menemukan apa saja saja yang hilang dariku. Senyuman, semangat, harapan, kamu menemukannya untukku.

Kita berjalan sepanjang pedestrian. Eropa memang berbeda, terlebih Belanda. Ada banyak sepeda di sini. Jumlah sepedanya bahkan melebihi jumlah penduduknya. Angin meniup kerudungku, sementara kamu memasukkan tangan ke dalam saku.

“Tak ada gembok-cinta di Belanda ya?” tanyaku, sedikit kecewa, “di novel yang kubaca, katanya di Eropa banyak.”

“Love-padlocks?” kamu mengonfirmasi, “Kudengar ada banyak di Jerman.”

“Tapi sebenarnya aku tak terlalu percaya hal hal semacam itu.” Kataku sambil tertawa. Aku berusaha membuatnya tetap menjadi hal yang biasa-biasa saja.

 “Mengapa?” Kamu menyipitkan mata.

“Itu terlalu mengada-ngada” jawabku, “aku tak percaya hal hal semacam itu. Urusan jodoh itu tentang seberapa kuat kita berusaha dan berdoa, kan? Apa hubungannya antara gembok dan cinta?”

Angin meniup rambut ponimu. Kamu tak menanggapi pendapatku. Roda-roda sepeda lalu-lalang, sesekali ada mobil dan bus berjalan pelan.

“Baru saja aku menuliskan namaku dan nama seseorang di love-padlock.” Katamu sambil tersenyum.

“Nama siapa yang kamu tulis?” selidikku. Kamu terus tersenyum.

“Aku menulis nama...” kamu membuat jeda, “Rahasia!”

Kamu tertawa. Sementara aku cemberut sambil mempercepat langkahku. Dari belakang, kamu memanggil-manggil namaku dan terus tertawa. Ada perasaan asing yang menyelinap di hatiku. Apa aku berharap namaku yang ditulis di love-padlock milikmu? Apa aku takut nama perempuan lain yang ditulis di sana? Bukankah aku tak percaya hal hal semacam itu?

  • view 194