Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project
PART 1 : SEPEDA

Aku masih terisak sambil menyender ke jendela kereta sejak detik pertama membaca suratmu. Dadaku bergemuruh saat membacanya. Ada perasaan bersalah menggedor-gedor hatiku saat membaca tiap paragrafnya. Pelan-pelan air mata meleleh di pipiku.

Kereta terus bergerak menjauhi stasiun Bandung. Meninggalkan pohon, awan dan rumah-rumah yang berlarian di bibir jendela. Petugas memeriksa tiket. Beberapa orang masih sibuk mencari tempat duduknya. Sementara bibirku masih tertahan di paragraf terakhir suratmu.

“aku pun mencintaimu...” gumamku tanpa sadar.

Jakarta terus mendekat. Kenangan tentangmu berubah menjadi slide-slide yang berputar dan berganti di dalam kepala. Caramu tersenyum, caramu menjelaskan sesuatu, caramu berjalan, kamu yang selalu datang terlambat, semua bergerak secara acak.

Entah bagaimana cara kita mendefinisikan cinta. Namun, dari jutaan cerita cinta yang ada, perpisahan selalu jadi bagian yang paling sulit dijalani. Dan kali ini, waktu memilihku untuk memerankannya. Aku hanya bisa berusaha memerankannya dengan baik. Sebaik yang dilakukan oleh seorang pecinta yang tengah kehilangan. Sebaik yang dilakukan pemeran perempuan yang sabar dan berusaha terus berjalan.

 

***

Ilyas,

Aku ingin mengajakmu kembali ke hari saat kita berdua bertemu. Kamu menemukanku siang itu, ketika aku tertinggal dari rombongan dan tersesat di tengah kota Den Haag. Aku masih ingat nafasmu yang terengah-engah itu, langit Belanda yang cerah itu, sepeda-sepeda yang lalu lalang itu. Aku mengingat semuanya, yas. Semua tentang hari kita bertemu.

“Sorry” seorang laki-laki segera berlari ke arahku sesaat setelah ia menabrakku dengan sepeda, “Ben je oke?”

Pinggangku sakit. Kurasa aku tertabrak setang sepeda. “I’m fine.” Jawabku sambil menoleh pelan. Ternyata laki-laki bule yang menabrakku. Ia nampak sangat menyesal.

 “Ben je oke?” laki-laki itu mengulangi pertanyaanya sambil mengulurkan tangannya.

Aku menolak, kemudian berusaha bangkit sendiri. Sebenarnya aku tak baik-baik saja. Aku ingin mengomel padanya. Tapi lupakan. Aku tak bisa marah-marah dalam bahasa Inggris, apalagi bahasa Belanda.

Kemudian tiba-tiba kamu datang, yas. Kamu berlari mencariku. Aku tahu dari irama nafasmu.

 “Wat gebeurt er?” tanyamu pada bule yang menabrakku tadi.

Bule itu nampak menjelaskan sesuatu padamu. Sementara aku memperhatikan wajahmu yang khawatir itu. Aku suka bingkai kacamatamu. Aku suka caramu menemukanku.

“Kamu Riana?” tanyamu ragu, “kamu rombongan mahasiswa Indonesia?”

Aku mengangguk pelan.

“alhamdulillah” kamu tersenyum lega, “syukurlah aku tak terlambat.”

Aku tersenyum juga. Hari itu senyum kita bertemu. Aku tersesat di bola matamu. Sementara kamu, terus menemukan apa saja yang hilang dariku.

***

Riana?” tanyamu lagi. Entah mengapa, kamu terdengar panik.

Kepalaku terasa berat, agak pusing. Mengaburkan apa saja di sekelilingku. rambutmu yang tertiup angin, roda-roda sepeda yang berputar lambat, awan yang mengarak ke barat.

“Is she okay?” bule itu bertanya padamu dengan suara pelan. Aku tak bisa mendengar jawabanmu.

Tiba-tiba semuanya melambat, sementara kamu terus memanggil-manggil namaku. Kemudian suaramu berpindah ke dalam kepalaku.  Suaramu terus melambat, semakin tanpa suara. Dan semuanya gelap.

Karya : Trias Abdullah