Ketika Kamu Berencana untuk Lari dari Masalah

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 April 2017
Ketika Kamu Berencana untuk Lari dari Masalah

Suatu sore di hari ketika saya remaja, saya pulang ke rumah dengan gelisah. Waktu itu, saya baru saja terpilih sebagai calon ketua Rijaalul Ghad (setingkat OSIS di SMA). Karena status itu, saya harus bicara di depan orang banyak; untuk acara-acara semacam tanya jawab kandidat, menyampaikan visi-misi, dan lain lain.

Sebenarnya tidak ada masalah kalau saya se-percaya diri dua calon lainnya. Masalahnya, saya takut bicara di hadapan orang banyak. Karena tangan dan kaki saya selalu gemetar ketika bicara di depan orang banyak. Bisa dibilang, saya mengalami demam panggung yang parah.

 “Bagaimana kalau saya tak hadir saja?” suatu hari, saya memilih bertanya pada ibu. Saya ingin tahu, apa pendapatnya untuk masalah saya ini. Ia tahu kalau saya selalu gugup bicara di depan orang banyak. Tapi Ia pun tahu kalau musyawarah ini penting untuk sekolah.

“Gimana bagusnya aja” jawab ibu saya, “tapi, kamu punya rencana untuk melarikan diri?”

Saya terdiam ketika ibu menanyakan itu. Saya tak punya jawaban yang cukup bagus. Saya hanya bisa mengangguk pelan, kemudian menarik nafas panjang.

***

Hari musyawarah tiba. Hari yang bagi sebagian orang ditunggu tunggu. Hari yang, bagi saya pribadi, ingin segera dilewati.

Apakah pada hari musyawarah semuanya berjalan lancar?

Tidak bagi saya waktu itu. Jangankan untuk bicara di hadapan orang banyak, saya bahkan merasa gugup walaupun hanya berdiri di depan peserta musyawarah. Ketika saya menjawab pertanyaan atau menjelaskan sesuatu, beberapa peserta terlihat menundukkan kepala. Mereka tak tahan dengan keadaan saya yang menyedihkan.

Akhirnya, kandidat yang terpilih adalah satu dari dua kawan saya yang lain. Dari awal saya memang tidak mau menjabat sebagai ketua Rijaalul Ghad. Menjadi ketua hanya akan membuat kesempatan saya bicara di depan orang banyak jauh lebih sering lagi. Sesuatu yang sebenarnya saya hindari.

***

Apa yang terjadi jika saya memutuskan untuk tidak hadir di hari musyawarah? Apa yang terjadi jika saya lari dari masalah? Barangkali, saya tidak akan sampai pada kesadaran seperti hari ini.

Andai saja ibu mengatakan, “Tetaplah di rumah. Tak usah datang ke musyawarah”, barangkali saya hanya menjadi laki-laki yang selalu lari dari masalah-masalah.

Namun, beruntung trias remaja adalah trias yang memilih gugup setengah mati walaupun hanya diam berdiri di depan orang-orang, dibanding harus bersembunyi di kamar—duduk di atas zona nyaman.

Kemudian hari-hari setelah itu, saya masih gugup ketika bicara di depan orang-orang. Namun, jauh di lubuk hati saya yang terdalam, ada sebuah kebanggaan; Hari itu aku telah menghadapi masalah dengan gagah!