Seminggu Bersamamu

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 3 bulan lalu
Seminggu Bersamamu

Kita akan tiba ke suatu minggu. Di mana kita berdua akan selalu bertemu. Aku akan menggenggam tanganmu, membekaskan senyum di lesung pipimu.

Tidak ada yang tahu kapan Minggu itu tiba. Yang jelas, kita di sini sedang menantinya. Dengan bisik doa yang diam-diam. Dengan menambah bekal ilmu, perlahan-lahan.

Dalam penantian Minggu, kelak akan datang senin pertama. Di pagi hari, mungkin aku lupa di mana letak kacamata atau jam tanganku, sebelum tanganmu menemukannya. Aku akan terus bertanya apa saja yang hilang, agar kau terus menemukannya untukku.

Setelah itu, kita akan tiba di hari selasa. Kamu sedang sibuk mencicipi sup di ujung mangkuk, sementara aku mencucikan piring-piring atau gelas. Kamu berkata, “makan ya banyak ya?” dan aku jadi tak punya pilihan untuk tidak berkata, “ya, tentu saja”.

Ketika lidahku mencicipi masakanmu untuk pertama kalinya, bayangan hari rabu melintas di kepalaku. Kamu menyender tepat di sampingku ketika kita memutuskan menonton film berdua malam itu. Aku akan tertidur sambil terduduk, setelah kamu tidur lebih dulu di bahuku.

Tak lama lagi, hari Kamis akan datang. Mungkin ia akan datang bersama gerimis. Di jalan, Kita akan berebut payung yang kita pegang, sekali pun akhirnya aku yang menang. Aku yang akan memayungimu. membuatmu tersenyum malu-malu.

Di hari Jumat, mungkin ada alasan yang membuatku harus tetap di rumah dan memimpinmu salat berjamaah. Kita akan berusaha berdoa dengan khusyuk, berterima kasih atas karunia yang ia curahkan, dan meminta maaf atas dosa yang kadang luput-terlupakan.

Tanpa sadar, akhirnya kita tiba di hari Sabtu. Seperti keluarga lainnya, mungkin kita akan berlibur ke luar kota, ke tempat yang kau suka; pantai, gunung, danau, perkebunan, atau apa saja. “Mau ke mana kita?” tanyamu dengan senyum lebar. Kemudian aku akan membuat jawaban norak seperti anak anak remaja, “ke hatimu.” Kamu berusaha mencubit lenganku. Kemudian aku akan pura-pura tak menghindar, agar bisa memelukmu lebih dalam.

Kemudian, akhirnya kita akan sampai ke hari Minggu; hari di mana kita berdua bertemu, untuk menambatkan rindu atau untuk bertukar senyum malu-malu. “Bagaimana rasanya seminggu denganku?” tanyaku. “menyenangkan.” katamu.

Seminggu bersamamu artinya tujuh hari sebagai sahabat yang tak kesepian atau kekasih yang tak berjarak dengan kerinduan-kerinduan. Untuk seminggu ini, aku ingin menghitung berapa kali senyummu kemudian mengalikannya dengan senyumanku. Dari hasil perkalian itu, aku mengetahui jumlah yang harus kusyukuri; karena Tuhan takdirkan kamu untukku.

Bandung

Trias Abdullah

Dilihat 142