Hilang

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Renungan
dipublikasikan 17 Februari 2017
Hilang

“Apa yang membuatmu takut di dunia ini?” tanyaku suatu waktu.

“Mungkin kehilangan sesuatu.” Jawabmu pelan “Kehilangan seseorang atau sesuatu adalah bagian dari hidup ini. Di dunia, tidak ada kebersamaan yang waktunya panjang dan berulang, kan?”

Aku menghela nafas panjang. Mendadak kata-katamu melempar ingatanku ke masa lalu. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, kita tetap kehilangan sesuatu.

“Kenapa diam?” tanyamu, memecah lamunanku.

“Guru akan kehilangan muridnya, mungkin saat mereka lulus” Kataku tiba-tiba “Murid pun akan kehilangan gurunya, mungkin saja sebabnya karena pensiun.”

“Itu contoh sederhananya….” Kamu bergumam tanpa sadar. Sementara matamu berkaca-kaca. Ada air mata yang mengintip di sudut matamu.

Saat ini, kita sedang menunggu waktu yang akan memperkenalkan pada keadaan di mana satu sama lain akan kehilangan. Hal yang sama terjadi pada langit dan ketinggian, bumi dan keindahan, sejuk dan pepohonan, gunung dan kesunyian, semua akan berpisah satu sama lain dengan atau tanpa ucapan selamat tinggal.

“Pagi ini aku kehilangan semangat.” Katamu.

“Siapa yang mencurinya?” tanyaku.

“klakson panjang motor” jawabmu agak menggerutu, “mungkin milik karyawan yang terlambat masuk kantor”

“Tapi, mungkin saja Tuhan akan memberikan ampunan sebagai gantinya” kataku sambil memperhatikan nafas yang sedang kau atur, “kalau menyikapinya dengan istighfar dan elus dada sebagai bentuk sabar.”

Kamu mengangguk pelan. Kemudian mengusap dada beberapa kali.

“Adakah sesuatu yang tak akan hilang?” selidikmu.

“Tuhan takkan hilang” jawabku spontan, “Kita akan terus memilikinya selamanya. Ia selalu memperhatikan kapan saja dan di mana saja. Ia lebih peduli dari siapa pun yang kamu dambakan. Boleh jadi kamu kehilangan orang-orang yang kamu cintai, atau kehilangan barang-barang yang kamu rawat sepenuh hati. Tapi, kamu tidak akan pernah kehilangan Tuhanmu. Ia tetap menjagamu tak peduli dirimu sadar atau tidak.”

Kamu tersenyum lagi. Sementara aku masih memperhatikanmu alismu.

“Ada satu hal yang tak boleh hilang dari dirimu.” Kataku.

“apa itu?” tanyamu.

“senyummu.” Jawabku.

“ih gombal!” katamu sambil tersipu.

Aku tertawa. Lalu kamu tertawa.

Tak seperti hari ini, suatu waktu tawa kita pun akan hilang dari tempatnya. Tetapi, jika saat itu tiba, aku akan berusaha meredam sedih, merapikan sesal, kemudian merangkumnya menjadi pelajaran. kemudian menyadari sesuatu bahwa; Mungkin aku kehilangan seseorang atau sesuatu, namun aku tak pernah kehilangan Tuhanku.