Gema

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Renungan
dipublikasikan 15 Februari 2017
Gema

Untuk trias kecil,

Aku  masih mengingat suatu pagi ketika kamu naik ke bukit bersama teman-temanmu. Kalian berdiri di sana sambil memandangi kota dari ketinggian.

“Woooooy!” kamu berteriak keras ke arah kota.

“Woooooy!” seseorang yang suaranya sepertimu berteriak balik dari arah langit.

kamu mengambil jeda. Pelan-pelan, angin meniup rambut ponimu.

“Apa kabaaaaar?” kamu berteriak untuk kedua kalinya. Kini lebih keras.

“apa kabaaaaar?” seseorang yang suaranya sepertimu bertanya balik. Dengan suara yang lebih keras juga.

Trias kecil, apa yang ingin kau buktikan? Kerja-kerja Tuhan membuat gema? Itu memang ada. Itu nyata.

Ketika kamu dewasa, dalam beberapa hal, kamu akan sadar begitu juga cara lingkunganmu bekerja. Jika kau memulai senyum pada orang-orang, mereka akan balas tersenyum. Sebaliknya, jika kau melempar kata-kata kasar, hal yang sama akan kau dapatkan.

Di kelas 2 muallimien* nanti, kamu akan belajar tentang hukum Newton III. Aksi sama dengan reaksi. Aku tahu, kamu membutuhkan alasan-alasan semacam itu.

Namun ketika kamu lebih dewasa lagi, kamu akan mengerti kalau manusia kadang berbeda dengan alam. Ini sedikit rumit. Tidak semua kebaikan yang kau berikan pada orang-orang akan langsung kembali seperti gema. Bisa jadi kebaikanmu itu dibalas dengan perbuatan buruk. Dan perbuatan burukmu malah dibalas dengan hal baik.

Barangkali, Tuhan ingin kamu belajar bahwa  ada hal-hal yang di luar kendalimu...

Kau tak harus membentak jika ada seseorang yang membuatmu marah. Kau bisa diam, minum jus buah ditambah es batu, atau pergi ke kamar mandi untuk wudlu.

Sebaliknya, kau bisa memilih banyak ekspresi ketika banyak orang memperlakukanmu dengan baik. Kau bisa tersenyum, menyalami tangannya, atau mendoakannya.

Trias kecil, apa kau percaya bahwa Aku pun pernah berteriak di atas bukit?

“Kamuu kereeeen!”

teriakku, memuji diri sendiri.

Seperti kamu, suara gema menjawab teriakanku.

“Dasar Narsis!”

sebenarnya itu bukan gema,

itu teriakan orang di kedai bawah bukit.

 

Benar kan?

Manusia agak berbeda dengan semesta. 

 

~~~

*Muallimien : jenjang sekolah setingkat dengan SMA.

Foto adalah karya Pexels, karya-karyanya yang lain bisa klik di sini

  • view 219