Selamat Hari Guru, Trias!

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 November 2016
Selamat Hari Guru, Trias!

Seperti selamanya, ruang kelas IV dan V lebih mengharukan dari kelas lainnya. Ada White Board yang belum dihapus oleh petugas piket. Ada karya seni dari kertas yang dilipat dan dilem dengan teliti. Ada enam meja kelompok yang duduk tanpa suara. Ada tas anak-anak SD yang kesepian bersandar di dinding karena ditinggal jajan pemiliknya, dan   berkas cahaya matahari pukul 15.30 yang menebus jendela. 

Barangkali, gravitasi bumi esok, lusa dan seterusnya akan terasa lebih berat. Pembulatan 10m/s mungkin tidak berguna lagi untuk perasaan yang sudah tak akurat. Membuat wajahku tertunduk semakin merendah ke bawah. Membuat air mataku jatuh ke tanah.

Barangkali kini kalian berhenti membuat kepalaku nyaris pecah; pusing mendengar teriakan sekaligus langkah lari kalian. Mengintip dari kejauhan kalian yang tengah bermain kartu naruto diam-diam, atau sesekali menguping perdebatan kalian soal siapa yang baru saja menyontek saat ulangan dengan gumam pelan-pelan.

Barangkali kini aku tak akan mendengar lagi pertanyaan kalian tentang obat sakit gigi yang ampuh. Atau keluhan tentang beberapa anak laki-laki yang usil. Atau cerita panjang tentang anak perempuan yang main musuh-musuhan karena sebab yang tak berdalil.

Barangkali sore tadi adalah terakhir kali aku mendengar kalian membaca huruf Arab dalam al-Quran yang sesekali tertukar panjang dan pendeknya. Mengamati kalian yang mengeja huruf Arab pelan-pelan, dengan beberapa nada yang sumbang.

Barangkali kalian tidak sadar jika sore tadi aku memperlambat jam belajar karena ingin berlama-lama dan bersama-sama untuk terakhir kalinya. Mengamati ekspresi wajah kalian yang sibuk menunduk dan menunjuk buku iqra dengan semangatnya. Kemudian di akhir bacaan kalian sibuk memilih kejadian di sekolah atau di rumah untuk diceritakan. Membuat mataku berkaca-kaca lebih kuat, membuat nafasku naik dan turun dengan cepat.

Barangkali kalian tidak melihat jika sore tadi aku memalingkan wajah untuk menyembunyikan haru, menyamarkan getar bibir demi menahan pilu. Sesuatu seperti menyaksikan kalian belajar dalam bangku kelompok seperti biasanya. Bercanda dan menggoda seperti biasanya. Seolah kalian tak pernah membayangkan jika ada saatnya aku pergi dan untuk beberapa saat yang lama tak akan kembali.

Barangkali kalian akan kaget atau biasa saja, jika Jumat tadi adalah hari terakhirku mengajari. Doa mendengar petir dan doa ketika hujan yang dibaca berulang sebagai pelajaran terakhirnya. Sebuah doa yang kelak tidak bisa kalian baca sekalipun hujan deras air mata membasahi pipi kalian karena tahu aku akan lama kembali.

Jangan sedih, jangan menangis. Tahanlah air mata kalian, seperti mendung yang menahan air di dalamnya untuk turun sebagai hujan. Simpanlah keharuan kalian layaknya malam yang menyimpan semua keheningan.

 Jika kalian rindu tentang omelan “jangan makan sambil berdiri.” Atau pertanyaan,”sudah shalat Ashar atau belum?” jangan tanyakan di mana aku pada guru lainnya. Perasaan mereka segera akan diliputi rasa haru dan pilu.

Karenanya, doakan aku dengan kalimatmu yang sederhana dalam shalatmu yang kadang dikerjakan dengan tergesa-gesa. Agar aku bisa kembali, dengan kualitas guru sekelas negara maju. Berbagi cerita apa saja, keadilan Nabi Sulaiman AS, keindahan surga, kengerian neraka, atau cerita apa saja yang sesekali membuatmu jemu.

Jadilah anak baik nak. Yang haus dan lapar untuk belajar apa saja. Yang gatal untuk segera mengaplikasikan kebaikan dalam bentuk apa saja.

Sekalipun jarak, waktu, dan realita memisahkan kita. Sebait doa akan melipat semuanya. Menjadikan jarak tak berarti dalam hubungan dua untai doa. Sebisa mungkin aku mendoakan kalian di sana, pun semoga kalian mendoakanku agar senantiasa dibimbing dalam jalan kebenaran yang Allah restui untuk kita semua.

Akhirnya semoga kita semua selalu diberi kebaikan , di dunia dan di akhirat. Sebagaimana yang selalu kita ulang dalam daftar doa setelah shalat. Sebagaimana harapan yang kita “aamiin” kan bersama, selepas mendiskusikan bagaimana keadaan surga dalam kitab suci-Nya. Semoga kelak kita kita berjumpa dalam keadaan yang baik-baik saja, baik di dunia ataupun di surga sana.

BANDUNG

TRIAS ABDULLAH

gambar diambil dari sini