Dua Laki-laki yang Saling Iri

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Renungan
dipublikasikan 06 Oktober 2016
Dua Laki-laki yang Saling Iri

Untukmu yang sedang lelah dengan kejadian berulang yang menimpamu beberapa kali--padahal itu mimpimu. Atau, untukmu yang merasa tak lebih bahagia dibanding siapa pun, padahal posisimu sekarang adalah keadaan yang dulu kau idamkan.

Cobalah baca ini, dengan perlahan...

Siang itu, laki-laki berumur 27 tahun-an sedang berdiri di ujung persimpangan. Ia menggandeng seorang perempuan. Itu istrinya. Mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyeberang.

Di seberang jalan, seorang laki-laki berkumis sedang duduk di restoran sambil memerintahkan matanya untuk melihat keadaan di luar jendela. Aku tak tahu apa yang ada di dalam kepalanya. Mungkin ia sedang menunggu pesanan atau sedang memastikan sesuatu; apakah awan-awan masih bergerak lamban? Apakah orang-orang masih menyeberang jalan? Atau apa saja yang aku tak mengerti.

Tidak lama kemudian, lampu hijau menyala. Sepasang suami istri itu berjalan lamban sambil membuat isyarat dengan sebelah tangan; agar motor-motor nakal itu berhenti atau sekedar memperlambat laju kendaraan.

16 detik kemudian, suami istri itu sampai di seberang jalan. Lalu mereka berpegangan tangan dan bersiap kembali melanjutkan perjalanan. Dua detik setelahnya, mereka menatap ke depan; menyaksikan laki-laki sedang duduk di restoran ditemani secangkir kopi dan beberapa mangkuk kudapan yang sedang ia pesan.

Dari balik jendela restoran, laki-laki berkumis masih mengamati pemandangan di luar ruangan, hingga matanya berhenti pada laki-laki dan perempuan yang sedang bergandengan tangan. Sampai akhirnya ‘jarak di antara’ mempertemukan pandangan mereka; untuk bertukar harapan dan beberapa pengandaian-pengandaian.

“Andai aku di restoran seperti laki-laki itu. Kami bisa istirahat sebentar sambil makan beberapa kudapan.” Kata si suami, dalam hati. Kemudian ia merogoh isi saku dengan dua tangannya. Lalu mendekatkan bibir ke telinga istrinya, “sayang, sisa uang kita hanya cukup untuk ongkos pulang. Kita makan di rumah saja, ya?” Istrinya hanya mengangguk pelan.

Dari balik jendela restoran, laki-laki itu pun melakukan pengandaian, “Andai aku jadi dia. Alangkah bahagianya bisa menggenggam tangan istrinya.” Katanya dalam hati. Lalu ia merogoh saku, mengeluarkan ponsel, lalu menatap foto istrinya sambil mengusap pipinya dalam gambar, kemudian tersenyum. Ada getar di ujung bibirnya, “aku rindu kamu, sayang.”

Beberapa detik kemudian, jalan dan restoran menjadi dua tempat yang kembali normal. Mereka menjadi saksi atas dua laki-laki yang saling iri, tentang hal-hal yang belum sempat mereka syukuri.

Dan kamu,

Sadarkah ada banyak orang yang iri

dengan keadaan yang kamu keluhkan hari ini?

BANDUNG

TRIAS ABDULLAH

***

Foto karya Unsplash. Karya lainnya klik di sini