Terima Kasih Karena Tak Menyediakan Televisi Di Rumah Kami

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 September 2016
Terima Kasih Karena Tak Menyediakan Televisi Di Rumah Kami

Speaker laptop masih menyelesaikan seperempat terakhir lagu Time yang dipetik oleh Duo Depapepe ketika aku sedang mengetik sesuatu. Sementara itu, pikiranku terlempar jauh ke belasan tahun yang lalu.

Siang itu, aku hanya bisa diam dan menunduk ketika teman kelasku melempar tawa dan senyum sinis ke wajahku. Mereka menertawakanku hanya karena aku gagal menceritakan ulang lanjutan episode film di televisi tadi malam.

“Bukan gitu kok ceritanya!” aku masih ingat bentakan mereka.

Aku diam. Ada gumpalan yang membesar di dalam dada. Itu rasa kesal.

“Ah iya laki-laki itu memegang potongan kepala manusia, kan?” pada setiap jeda cerita, aku selalu berusaha menebak bagaimana skenarionya. Aku masih belum menyerah. Dan seperti biasanya, tebakanku salah.

“Bukan gitu kok!” lagi-lagi aku terdiam. Dipermalukan dengan bentakan, dilempari dengan tertawaan dan senyum sinis kawan-kawan.

Bagi anak-anak di setengah dekade awal abad milenia, televisi adalah hiburan berbentuk kubus di ruang tengah rumah-rumah. Ada banyak film menarik di sana. Terlebih hari Minggu. Dari Subuh sampai Dzuhur isinya film kartun berseri. Kebanyakan film kartun impor dari Jepang.

Bagi anak-anak waktu itu, televisi adalah hiburan. Tapi bagiku, televisi adalah kemewahan; Karena tidak ada televisi di rumahku.

Ayah yang memutuskan untuk tidak menyediakan televisi. Bagiku yang waktu itu masih anak-anak, keputusan sepihak itu adalah keputusan yang tidak adil. Aku ingin memberontak, tapi aku takut.

Akhirnya, aku harus masuk ke rumah teman-temanku. Alasannya beragam; bermain, mengerjakan PR kelompok, atau apa saja. Ketika di rumah mereka, aku akan berusaha merekam dengan kepalaku bagian film yang sedang diputar atau iklan-iklan apa saja yang sedang tayang. Jika waktunya tepat, aku akan menceritakan bagian film atau iklan yang sudah kurekam sebelumnya pada teman-teman. Tujuannya agar mereka menyangka aku punya televisi seperti anak-anak normal lainnya.

“Kok kamu tahu ceritanya, sih? Kamu kan gak punya TV?” tanya teman saya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal di suatu pulang sekolah.

“Aku punya kantong ajaib!” Jawabku puas. Padahal aku hanya menebak-nebak isi ceritanya.

***

“Mengapa ayah tidak menyediakan TV?” Aku sering menanyakan pertanyaan itu pada diri sendiri. Aku tak cukup berani untuk menanyakannya langsung pada Ayah.

Meskipun aku tak pernah menanyakan pertanyaan itu, Ayah tak pernah memberi jawaban sedikit pun. Mungkin, ia ingin agar aku mencari jawabannya sendiri.

Ayah memang tidak menyediakan televisi di ruangan mana pun di rumah kami. Tapi, aku baru sadar kalau ia menyimpan rak buku panjang di ruang tamu. Rak buku itu panjang yang terdiri dari tiga lantai; lantai pertama diisi barang-barang yang jarang dipergunakan (aku tak tahu apa saja isinya), lantai kedua diisi dokumen-dokumen keluarga, dan lantai ketiga diisi buku-buku yang ayah beli seminggu sekali.

Aku memperhatikan deretan buku-buku itu. Ternyata isinya sebagian besar buku-buku agama. Seperti anak-anak pada umumnya, aku tak mengerti semua topik yang dibahas buku-buku itu. Kecuali enam buku yang berderet dengan warna sampul yang sama. Buku itu berjudul ‘Kelengkapan tarikh Nabi Muhammad Saw’.

Pelan-pelan, aku menarik satu dari enam jilid buku itu. Kemudian berusaha membukanya dari tengah. Ternyata isinya cerita. Kini aku mulai tertarik, kemudian mencari daftar isinya dan memilih judul yang ingin kubaca. Aku tahu itu bukan kumpulan cerita, kamu harus membacanya berurutan dari awal. Tapi, abaikan saja. Aku masih belajar membaca waktu itu.

Dari sana, aku merasakan pengalaman membaca yang mengesankan. Kenikmatan membaca yang biasa didapatkan para kutu buku pelan-pelan membuatku kecanduan. Imajinasi tentang latar kejadian, menyaksikan banyak kejadian mengharukan, atau bahkan langsung merasakan menjadi pelaku utama cerita. Lalu, aku menjadi anak kecil yang mudah sekali terbawa perasaan; Tertawa, kesal, gelisah, bahkan marah hanya karena sebuah bacaan.

“Apakah aku boleh membeli buku itu?” tanyaku pada ayah di suatu siang.

“Tentu saja.” Jawab ayah.

Percakapan itu mendadak menjadi percakapan paling istimewa. Aku pun mulai melupakan pertanyaan,”mengapa di rumahku tak ada TV?”

Kemudian, melihat ayah yang sibuk mencari daftar isi, atau memasukan tangannya ke dalam saku saat memilih buku, atau membenarkan bingkai kacamata yang melorot dengan telunjuk saat membaca, menjadi pose yang paling kukagumi dari orang dewasa. Suatu saat, aku ingin berpose seperti itu. Aku ingin seperti ayah.

***

Aku yang sudah kembali dari masa lalu adalah aku yang sudah bisa menjawab pertanyaan, “mengapa tak ada televisi di rumahku?” jawabannya adalah agar aku mencintai buku, agar aku suka membaca. Sesederhana itu.

Televisi memang memuat banyak sekali cerita. Tapi, buku lebih kaya. Kamu bisa menjadi penonton, pelaku atau korban. Kemudian, karena beberapa alasan, buku memberikan kesan yang mendalam dibanding corong informasi lainnya.

Tiga jam yang kau habiskan menonton televisi, mungkin akan disesali. Tapi, tiga jam yang kau habiskan untuk membaca buku, sekalipun novel bahkan komik, itu adalah pengalaman. Dan mungkin bisa membuat lorong-lorong dalam otakmu terhubung satu sama lain. Dengan kata lain, buku bisa membuatmu lebih cerdas.

Tetapi, aku yang sudah kembali dari masa lalu adalah aku yang menyesali semuanya. Mengapa aku harus membeli buku setiap bulan, kemudian menyusunnya ke dalam rak seperti yang ayahku lakukan? Mengapa aku harus membaca buku? sementara teman-temanku bangga dengan pengalaman liburan ke luar negeri mereka? Mengapa aku bercita-cita untuk menulis sebuah buku kemudian menerbitkannya?

Iya, aku menyesalinya semuanya,

Karena kini, Ayahku tak akan pernah tahu buku apa saja yang sudah kubeli dan kubaca di rak buku kamarku.

Karena kini, ayahku tak akan pernah bisa mendengar atau mendiskusikan bagian mana yang menarik dari buku-buku yang pernah kubaca.

Karena kini, ayahku tak akan pernah bisa membaca atau memberi masukan pada draf-draf tulisan untuk buku yang ingin sekali kucetak dan disebar luaskan.

Karena Ayahku sudah lama meninggal; di tahun yang sama ketika teman-temanku membentak wajahku karena aku tak tahu bagaimana jalan cerita film yang sudah lalu.

Tapi aku tak menyesal walaupun ayah tak menyediakan televisi di rumah ketika aku kecil. Karena dengan hal itu, aku punya bekal untuk menjadi manusia maju dan berwawasan. Aku bisa mengamalkan perintah pertama yang Tuhan sampaikan pada Nabi-Nya; Membaca.

Ayah, terima kasih karena tak menyediakan televisi di rumah kami.

BANDUNG

TRIAS ABDULLAH

***

Foto karya 동철 이,  karya lainnya klik di sini


  • Siti Solihat
    Siti Solihat
    7 bulan yang lalu.
    Saya jadi ingat ayah saya, dlu menentang keras adanya televisi di rumah. Dan sekarang terasa manfaatnya.

    • Lihat 1 Respon

  • Kartini F. Astuti
    Kartini F. Astuti
    1 tahun yang lalu.
    Aku malah ngiri, ingin punya Ayah kutu buku dan mewarisi seluruh buku di raknya yang berdebu.