Kejutan

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Project
dipublikasikan 29 Agustus 2016
Melipat Jarak Kecewa

Melipat Jarak Kecewa


Sebenarnya, kita takkan pernah kecewa. Jika saja tak meletakkan harapan di pundak manusia.

Kategori Fiksi Remaja

893 Hak Cipta Terlindungi
Kejutan

“Bagaimana cara Tuhan merawat harapan?”

Ada sebuah pertanyaan yang gagal kujawab sendiri ketika bus kota dihentikan lambaian tangan kanan orang-orang. Dengan cepat, mereka naik melalui pintu depan bus. Kemudian melihat sekeliling kursi, seperti sedang memburu sesuatu untuk diduduki. Aku kembali memalingkan muka ke arah jendela. Memandangi orang-orang berjalan di trotoar, dan motor yang meliuk di sela-sela mobil yang berdesakan. Sebentar lagi, aku harus segera turun dari bus kota.

Enam detik setelah kaki kiriku turun dari bus, kondektur memberikan isyarat kalau penumpang sudah turun semuanya. Bus itu kemudian segera pergi. Meninggalkanku yang masih berdiri di tepian jalan, dan bersiap untuk masuk ke halaman sekolah, kemudian menyimpan tas di kelas bahasa; kelas yang tak kuinginkan.

Sepuluh menit kemudian, bel masuk sekolah berbunyi. Kemudian seorang guru masuk kelas. Menjinjing tas di tangan kanannya, sambil memberi salam. Aku lupa pelajaran apa waktu itu.

“Al-Quran memuat kandungan sastra yang tinggi. Sekalipun ia kitab agama.” Kata guruku, memulai pelajaran.

“Ah yang benar?” batinku. Aku memang sering membaca al Quran, minimal di sekolah. Tapi aku baru tahu, kalau ia punya kandungan sastra.

Pelan-pelan, aku mengeluarkan al Quran dari dalam tasku. Sekolah ini memang punya peraturan wajib membawa al Quran, karena kami harus membacanya setiap masuk kelas. Diam-diam aku meletakkannya di atas meja bersebelahan dengan buku tulis. Kemudian aku mulai membukanya secara acak. Ternyata yang kubuka saat itu adalah surat al Baqarah.

Ada banyak ayat saat aku membukanya. Seperti mencari sesuatu, mataku berpindah-pindah dari satu ayat ke ayat yang lain. pelan-pelan aku membaca terjemahnya. Semuanya nampak biasa saja, sampai ayat ke 216 menghentikan mataku.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Deg! Aku tak bisa berkata apa-apa lagi usai membaca ayat itu. Dadaku bergemuruh. Melalui tarikan nafas panjang, aku ingin menyamarkan apa yang aku rasakan dari orang-orang. Kemudian ada seseorang yang berbisik di telinga kananku. Suara yang menenangkanku.

“Kamu memang masuk kelas bahasa, tapi mungkin sebenarnya itu baik untuk masa depanmu. Dan jauh di dalam hatimu masih ada keinginan untuk masuk kelas IPA, tapi mungkin itu sebenarnya buruk bagimu. Tenang saja... Allah akan selalu menyayangimu.”

 

***

Pukul 09.30, suara bel istirahat yang mengembalikanku dari ingatan menyedihkan itu. Saat aku tak bisa menerima keadaan tak diterima di kelas IPA.

Aku masih duduk di bangku, sementara kawan-kawanku mengajak ke kantin dengan isyarat tangannya.

“Duluan aja.” kataku. Hari ini ada sesuatu yang harus kuurus di ruang guru.

Aku tak sendiri di kelas. Ada beberapa siswa lainnya yang masih memasukkan buku ke dalam tas, dan guru yang masih memastikan sesuatu. Di luar, tempat-tempat yang tadinya sepi mulai ramai; kantin, toilet, halaman sekolah, dan kursi-kursi kosong segera dipenuhi orang-orang.

“Gimana persiapan untuk pertukaran pelajar? Udah bikin paspor?” Tiba-tiba pak guru menyapaku dengan antusias. Rupanya ia sudah selesai mengemasi barang-barangnya.

“Sudah pak.” Kataku. Tak kalah antusias.

“Oh begitu. Semoga semua persiapannya Allah lancarkan ya.” Jawab pak guru, sambil tersenyum.

“aamiin.” Kataku pelan. Sambil tersenyum.

“Jangan lupa. Hari ini pak kepala sekolah ingin bertemu denganmu.” Katanya lagi.

“Oh iya pak” jawabku, “sebentar lagi saya akan menemui beliau.”

Dua hari yang lalu, sekolah memilihku untuk student exchange ke Korea Selatan akhir semester ini. Aku tak tahu apa pertimbangan sekolah untuk memilihku. Tapi, kudengar pelajar dari seluruh negara di Asia Pasifik akan berkumpul di sana. Dan aku akan menjadi satu di antara mereka.

Kali ini kelas sudah benar-benar sepi. Menyisakan tiga siswi yang berkumpul sambil mengobrol sesuatu. Mungkin hari ini mereka akan makan bekal makan siang bersama. Aku mulai keluar kelas, kemudian menuju ruang kepala sekolah.

“Assalamualaikum...” kataku sambil mengetuk pintu.

“waalaikumsalam...” kata orang dari dalam. Itu suara kepala sekolah.

“Eh ada tamu. Ayo masuk!” kata kepala sekolah sesaat setelah membuka pintu.

Kami duduk di sofa. Kemudian mendiskusikan banyak hal tentang student exchange; berapa lama aku berada di sana, apa saja yang akan kulakukan, negara mana saja yang akan hadir, dan banyak hal lainnya.

Di sela-sela informasi yang kepala sekolah sampaikan, aku memberanikan diri untuk bertanya, “Mengapa bapak memilih saya untuk pergi ke sana?”

“Hmmm....” Kepala sekolah tiba-tiba menjadi tak lancar berbicara. Lalu menatap mataku dalam-dalam. Memberikan jeda untukku menarik nafas panjang.

“Kenapa pak?” tanyaku lagi.

“Karena kamu berada di kelas bahasa.” Jawabnya.

“eh?” aku heran.

“Iya, nak. Karena kamu berada di kelas bahasa, kamu terpilih untuk pergi ke Korea. Program ini tidak berlaku untuk kelas IPA atau IPS.”

***

Hari itu, aku belajar sesuatu. Kenyataan barangkali memang selalu tak sesuai dengan harapan. Namun, dibaliknya ada berjuta pelajaran yang ingin Allah sampaikan. Entah itu tentang kepasrahan, atau berhenti membuat sangkaan-sangkaan. Kita tidak pernah tahu hal mana yang baik dan buruk untuk kita jalani.

Masa depan seperti kabut pegunungan di ujung jalan setapak. Kita tak akan pernah tahu jalan mana yang akan membawa kaki ke puncak atau menerjunkan kepala ke dasar jurang. Tapi, ke mana saja kita diarahkan, hati akan tetap tenang jika kita memiliki keyakinan; Allah yang akan memilihkan jalan, Ia Yang Maha Mengetahui bagian mana yang harus kujalani atau kulewati.

Hari itu, aku menyadari sesuatu. Bahwasanya kecewa bisa kulipat jaraknya; dengan harapan yang tepat kuletakkan, dengan perasaan tanpa sangkaan-sangkaan.

BANDUNG

TRIAS ABDULLAH

***

Gambar gratis diambil dari sini