Harapan

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Project
dipublikasikan 29 Agustus 2016
Melipat Jarak Kecewa

Melipat Jarak Kecewa


Sebenarnya, kita takkan pernah kecewa. Jika saja tak meletakkan harapan di pundak manusia.

Kategori Fiksi Remaja

919 Hak Cipta Terlindungi
Harapan

Sudah sejak sepuluh menit yang lalu aku duduk di bangku bus kota. Di menit ke sebelas, klakson menjerit panjang. “Biarkan aku lewat.” Mungkin itu yang ia ingin katakan pada kendaraan di depannya. Kemudian aku mulai merasakan ban bergesekan pada aspal dengan kasar, dan putaran setir mengarah ke kanan. Di saat yang bersamaan, aku mulai membaca doa bepergian.

Sopir menginjak kopling di detik ke tiga belas, dan aku mengingat kejadian menyedihkan. Kejadian ini milik kakakku. Ia kecewa pada seseorang; pada teman karibnya sendiri.

Pada detik ke lima belas, sopir menarik persneling ke gigi satu,  pemutar ingatan di kepalaku maju ke arah file video kejadian siang itu; ketika aku hanya bisa memandangi punggung kakakku yang bergerak menjauh, dengan langkah yang tergesa dan tangannya yang tak henti menyamarkan air mata.

Akhir pekan lalu, teman dekat kakakku mencuri tabungan yang dikumpulkan sejak lama. Padahal kakak mengumpulkannya dengan susah payah, bahkan ia harus mencuci piring di dapur restoran setiap malam. Tabungan itu untuk makan sehari-hari dan ongkos bus kota, ketika kontrak beasiswanya telah berakhir nanti.

Kalau pencurinya adalah orang yang tak kau kenal, seperti copet di bus atau angkutan, mungkin kau hanya marah. Tapi kalau pencurinya adalah sahabatmu sendiri, kau akan kecewa.

Mengapa kakak bisa kecewa?” Batinku. Jendela bus kota menampilkan sepeda motor yang berencana menyalip mobil dari sisi kanan. Mobil itu ikut bergerak ke kanan, ia tak mau memberi jalan.

Sementara kendaraan-kendaraan itu saling mendahului, ratusan informasi di kepalaku sedang menyatukan dirinya satu sama lain. mereka sedang membuat hubungan sebab akibat, atau logika-logika lainnya.

Barangkali, kecewa tercipta dari jarak antara harapan dan kenyataan. Semakin lebar jarak di antara keduanya, maka semakin besar rasa kecewanya.” Kata kepalaku. Membuat kesimpulan pertama. Sebentar lagi ia membuat kesimpulan kedua :

Kakakku adalah orang yang baik. Ia sering membantu sahabatnya; Masalah tugas-tugas kuliah, atau tugas lainnya. Bahkan masalah yang membutuhkan uang pun ia bantu. Ia sering memberikan pinjaman.

Tapi, masalah sebenarnya ada di sini. Saat kakakku memberikan bantuan, diam-diam ada perasaan yang menyusup di salah satu ruang hatinya; harapan. Kakakku selalu berharap, kebaikannya selama ini dibalas oleh sahabatnya. Ia berharap, suatu saat ada seseorang yang menolongnya ketika kesulitan.”

Apa salahnya mengharapkan balasan dari orang yang sudah kita bantu?” salah satu bagian di dalam kepalaku tiba-tiba menanyakan pertanyaan ini.

Aku tak bisa menjawab ini ‘benar’ atau ‘salah’. Aku tak punya wewenang untuk itu.” jawab bagian kepalaku yang lain.

Aku masih mendengarkan percakapan di dalam kepalaku, sampai akhirnya sebuah informasi datang dan segera diputar ulang. Informasi ini berisi nasihat kakakku tentang persahabatan dan harapan. Pada bagian awal, ia menampilkan raut wajah kakakku yang kecewa dan bekas air mata di pipinya. Kemudian dilanjutkan dengan serangkaian paragraf informasi . Aku pun mulai membacanya dengan perlahan,

Adikku,

Seperti cinta, Harapan akan selalu ada di dalam hati manusia. Barangkali, itu yang menguatkan tungkai kaki orang-orang untuk mendaki gunung tertinggi. Atau menghadapi rintangan berat apa  saja di dunia ini.

Harapan memang sumber rasa kecewa. Tapi, kamu tak perlu membuangnya. Tak peduli berapa kali kamu menenggelamkan harapan ke dasar hatimu, ia akan kembali ke permukaan seperti semula.

Bagaimana kalau nanti aku kecewa? Aku tahu kamu akan menanyakan itu.

Yang harus kamu lakukan adalah mengubah letak. Iya, mengubah letaknya. Kita selalu kecewa, karena kita meletakkan harapan di pundak orang-orang. Mereka sudah keberatan menanggung harapannya sendiri, jika ditambah dengan harapan kita, mereka takkan sanggup. Pundak manusia itu terlalu rapuh.

Letakkan harapan di tangan Tuhan.

Harapan kita selalu terlalu kecil untuk Ia bawa. Selain itu, Ia tak akan mengeluh tentang harapan yang kita titipkan. Tak peduli harapan itu orang-orang sebut konyol; tak realistis dan berlebihan, Ia selalu mengapresiasi harapan-harapan kita. Ia tak pernah keberatan.

Saat kamu simpan harapan itu di sisi Tuhan, Ia akan memberikan sesuatu yang bisa kamu pegang. Mungkin itu semacam tanda terima, kalau harapan kita sudah aman di sisi-Nya. Tanda terima itu adalah ‘ketenangan’. Kamu tak akan merasa khawatir lagi. Dan yang lebih penting, kamu tak akan merasa kecewa.

Barangkali, itulah yang aku rasakan ketika mengubah tempat menyimpan harapan. Aku pernah menyimpan harapan di pundak sahabatku, dan aku kecewa, karena ia tak memperlakukan ku seperti aku memperlakukannya. Dan kini aku menyerahkan harapan pada Tuhan, aku pun merasa tenang. Aku tahu, Tuhan selalu bisa mewujudkan harapanku tanpa kekurangan.

Demikianlah, adikku. Gelas yang tak kau simpan dengan baik, suatu hari akan jatuh. Dan mungkin saja pecahannya akan menyakiti kakimu.

Jangan berharap padaku agar suatu hari aku jadi kakak yang baik. Aku takkan sanggup.

Berharaplah pada Tuhan, agar Ia menjadikanku kakak yang baik. Dengannya, Ia selalu punya cara untuk membuatmu menjadi seorang adik yang beruntung.

***

Mengapa aku kecewa?

Apakah karena tak masuk kelas IPA?

Bukan... Bukan itu.

Aku kecewa karena aku meletakkan harapan di pundakku sendiri, dan pundak orang lain.

***

Gambar gratis diambil di sini