Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 29 Agustus 2016   21:25 WIB
Tabung Reaksi

Senin pagi yang lalu, aku sedang duduk menyender pada sebuah bangku dekat kaca. Aku berada dalam perjalanan menuju sekolah.

Dari balik jendela bus kota, aku memperhatikan awan-awan tengah berkumpul; sedang menyatukan diri satu sama lain. Membuat gumpalan-gumpalan besar membentuk kapal pesiar, sapi atau imajinasi apa saja tentangnya. Awan-awan itu terus bergerak mendekat satu sama lain, dan sering berubah bentuk karena ditiup angin.

Aku mendongak ke atas, melihat ke sekeliling langit. Awan-awan itu memang membentuk banyak benda. Tapi pagi itu, mereka membentuk benda yang tak asing bagiku. Awan itu membentuk tabung reaksi.

“Mengapa ia membentuk tabung reaksi? Mengapa tak membentuk benda lain?” tanyaku pada awan-awan. Aku tahu akan diabaikan.

Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya memegangi tabung reaksi dengan sarung tangan karet. Kemudian menuangkan cairan berwarna-warni ke dalamnya. Jika aku beruntung, percobaan pertamaku tidak menghasilkan ledakan ringan.

Pelan-pelan, awan-awan itu membiaskan kejadian dua bulan yang lalu. Kejadian yang menggoyahkan kakiku, sekaligus menghancurkan mimpiku. Awan-awan itu memutar kembali kejadian siang itu, di ruang guru.

“Kalau masuk jurusan bahasa, bakatmu akan berkembang pesat.” Kata guruku waktu itu,” jadi, maaf kamu tak bisa masuk ke jurusan IPA. Kamu akan masuk jurusan bahasa.”

“Saya akan berusaha keras pak! Izinkan saya agar masuk IPA!” kataku, tak bisa menerima. Kini mataku mulai berkaca-kaca.

“Tetap tidak bisa, nak. Hasil tes psikologi menunjukkan bakatmu tidak untuk jurusan IPA.” Kata guruku lagi. Tanpa sebab yang jelas, kata-katanya terdengar lebih tajam dibanding siapa pun. Aku menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri sendiri. Sementara air mata pelan-pelan meleleh di tebing pipiku.

Mengingat kejadian itu, hatiku sakit untuk kedua kalinya. Rasanya tidak seperti patah hati, ini sedikit berbeda. Ini rasanya seperti kecewa pada seseorang. Tidak, ini lebih sakit lagi. Jauh lebih sakit. Mungkin karena aku bukan kecewa pada orang lain, tapi aku kecewa pada diriku sendiri. Mengapa bakatku tak berada di jurusan IPA? Mengapa aku tak seperti mereka yang bisa masuk dengan mudahnya? Mengapa?

“ongkosnya dek.” laki-laki tua tiba-tiba menyadarkanku dengan tepukan pelan. Dia kondektur bus kota.

Oh iya pak... maaf.” kataku, sambil memasukan tangan ke saku baju. Bapak itu menyobek tiket, kemudian menukar dengan uang recehku. Aku menatap awan-awan itu lagi. Membiarkan mereka terus bergerak dan memberikan ruang untuk pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalaku,

Mengapa aku tak bisa masuk kelas IPA? Apakah aku seburuk itu? Mengapa aku berpikiran seperti ini? Mengapa aku bisa sekecewa ini? Mengapa?

Andai saja aku bisa masuk kelas IPA, tentu aku bahagia... andai saja aku sebahagia orang lain.

 

Pekerjaan paling

Sia-sia adalah

Menakar kebahagiaan

Orang lain

(PerahuKayu)  [1]

***

[1] Via akun [email protected] kumpulan puisi

[2] Gambar gratis diambil dari sini

Karya : Trias Abdullah