Tiga Tugas Guru

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Agustus 2016
Tiga Tugas Guru

Di siang yang mendung, aku berdiri di sebuah ruangan besar mirip kelas. Pelan-pelan udara dingin membelai tanganku, sementara pewangi ruangan menguar di hidungku.

“Di mana ini?” batinku. Kini mataku mulai menerawang ke sekeliling. Ada papan tulis, spidol, lemari, dan jam dinding. Kemudian, Aku menjadi heran pada diriku sendiri yang memakai batik, celana katun dan sepatu pantofel.

“Aku jadi guru?” batinku, penuh ragu. Tiba-tiba ada suara riuh di ruangan. Rupanya suara itu datang dari puluhan anak yang tepat berada di depanku; Beberapa di antara mereka sedang menyalin tulisan di papan tulis, sedangkan sisanya nampak tak peduli, dan mulai mengobrol.

Ada seseorang yang menarik perhatianku.  Dia ada di sudut kelas, duduk sendirian. Pandangannya menunduk, sementara dua tangannya dijulurkan ke bawah meja. Ia sedang memainkan ponsel dengan sembunyi-sembunyi.

“Hei!” kataku sambil menepuk pundak anak itu. Benar saja. Anak itu sedang memainkan ponsel, nampak menonton sesuatu.

“Apa yang kamu tonton?” tanyaku, masih memegangi pundaknya. Tiba-tiba ia menghempaskan tanganku, pandangannya tajam menatap mataku. Kemudian ia berlari ke arah pintu keluar sambil memanggil seseorang.

“Hei! Mau ke mana?” kataku setengah berteriak. Anak-anak lainnya masih mencatat sesuatu di papan tulis, nampak tak peduli. Kemudian ada seseorang masuk dari pintu kelas. Seseorang berbadan tegap, lengan yang bertato dan sedikit luka di wajahnya.

Perlahan, ketakutan mulai merambati tubuhku. Sementara laki-laki itu terus mendekat ke arahku. Lalu dengan mudah, ia mencengkeram pundak kiriku dengan kuat. Sementara tangan satunya mengepal, bersiap meninju sesuatu.

“Kenapa kamu?” teriakku, panik. Aku memandang sekeliling, anak-anak lainnya tetap sibuk menyalin tulisan di papan tulis. “Hei! Anak-anak!” teriakku lagi. Mereka tetap diam, tak mendengar suaraku.

“Ayo cepat lari!”

***

Pukul 04.35, Aku terbangun. rupanya sudah pagi. Tenyata tadi itu hanya mimpi.

Seperti Minggu sebelumnya, aku membaca berita pagi dari ponsel. Sambil ditemani teh hangat dan embun pagi yang segera menghilang. Di ujung layar, aku mendapati sebuah judul berita menusuk dadaku. Sedangkan thumbnail-nya mengoyak perasaanku; seorang laki-laki tengah tertunduk, sementara darah kering membekas di baju putihnya.

Aku tak percaya. Kemudian mengabaikannya. orang-orang jaman sekarang, sering sekali menulis berita yang mengada-ngada.

Keesokan harinya, masih ada berita lanjutan tentang laki-laki itu. Rupanya ia seorang guru. Beberapa hari yang lalu, ia dipukul tepat di wajah oleh seseorang yang masuk ke kelasnya.

“ah yang benar?.” Kataku pelan. Aku mulai membaca isi beritanya perlahan. Ternyata berita itu memang nyata. Ada korban yang dipukul, dan ada seseorang yang tega melakukannya.

Usai membaca berita tentangnya, diiring nafas yang tertahan, aku membuat sebuah kesimpulan—setidaknya untuk diriku sendiri ; Sekolah tidak hanya harus nyaman untuk siswa. Lebih dari itu, ia harus nyaman untuk guru. Aku sadar, tugas guru itu sulit. Jadi, kurasa wajar saja jika sekolah pun harus nyaman untuk guru.

Pagi berikutnya, Dr. Dedeng Rosidin, M.Ag berkata padaku tentang 3 tugas guru dalam bukunya Konsep Pendidikan Formal Islam. Begini kata beliau :

Guru sebagai pengajar. Ini seperti aktivitas pengajaran seperti biasanya. Guru membuat skenario bagaimana cara mengajarkan materi, kemudian melakukannya di ruang belajar, lalu memberikan penilaian.

Saat membaca penjelasan ini, aku berpikir guru adalah semacam sutradara. Ia membuat sebuah skenario bagaimana caranya mengajar dan bagaimana cara siswa menyerap pelajaran. Sutradara yang didukung aktor dan aktris yang jago, mungkin lebih mudah. Karena mereka akan bertindak sesuai dengan arahan. Tapi, lain halnya dengan guru. Aktor dan aktrisnya adalah para siswa; yang tindakannya kadang tidak bisa ditebak, dan kadang mereka bisa saja membantah atau menolak.

Guru sebagai pendidik. Tugas ini lebih rumit dibanding mengajar. Kali ini, tugas guru adalah mengarahkan siswa agar menjadi dewasa dan punya kepribadian insan kamil; manusia yang sadar untuk apa dia diciptakan.

Aku menarik nafas saat berhenti membaca penjelasan paragraf kedua. “Ini tugas luar biasa!” batinku. Mendidik siswa agar memiliki ‘kesadaran bertuhan’ adalah tugas mulia. bayangkan saja, berapa kebaikan yang didapatkan guru saat mendekatkan banyak siswa dengan Tuhannya? Sekalipun begitu, tugas ini mungkin berat. Karena semua kekuatan jahat di dunia ini akan menentangnya. Iblis, setan atau apa saja tidak akan senang kalau manusia dekat dengan Tuhan, kan?  

Guru sebagai pemimpin. Ini tugas yang terakhir dan juga lebih rumit. Tugas ini tentang bagaimana caranya agar semua orang yang terkait dengan pendidikan bisa bekerja sama. Jadi, guru bukan saja harus memimpin dirinya sendiri dan siswa di kelasnya. Masyarakat dan orang tua pun harus diatur dan diarahkan untuk kelancaran semua aktivitas belajar.

“Bagaimana caranya?” tanyaku pada diri sendiri. Memimpin diri sendiri saja kadang aku tak bisa. Belum lagi, kadang ada beberapa siswa yang tidak mau diarahkan. Dan ini, harus ditambah memimpin masyarakat untuk ikut bekerja sama mendukung aktivitas di sekolah. Tanpa berbekal ilmu yang cukup, mungkin tugas ini akan merepotkan.

Setelah membaca 3 tugas guru, mataku berkaca-kaca. Mereka harus melakukan tugas berat ini? Yang benar saja?  ditambah hari ini bukan hanya siswa yang berani melawan gurunya, orang tua pun beberapa ikut-ikutan tak percaya. Bahkan menyakiti guru dengan tega.

Dengan tugas seberat itu, rasanya wajar jika aku berpikir kalau sekolah tidak saja harus dibuat menyenangkan untuk siswa, tapi pun juga untuk guru. Guru harus dibuat senang. Dengan cara dibuat tenang; tak ada kekhawatiran di hati mereka tentang kemungkinan-kemungkinan akan mendatangi rumah sakit sebagai pasien, atau penjara sebagai tahanan.

Memikirkan hal itu, rasanya mataku jadi berat. belum lagi udara dari celah jendela mengusap-ngusap pipiku. Lalu pelan-pelan buku yang sejak tadi kupegang mulai menutup dirinya sendiri. Kini mataku mulai menutup, setengah mengantuk. Kemudian tiba-tiba terdengar suara paduan suara, sedang menyanyikan lagu yang tak asing bagi masa kecilku. Perlahan, suara-suara itu mendekat, bertambah keras dan akhirnya terdengar dengan jelas...

Terpujilah wahai engkau

Ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup, dalam sanubariku

Sebagai prasasti terima kasihku untuk pengabdianmu

Engkau bagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa, pahlawan tanpa tanda jasa. [1]

BANDUNG

TRIAS ABDULLAH

---

[1] Hymne Guru (diciptakan oleh Sartono, Guru seni musik asal Kota Madiun, lahir tahun 1936) Pemerintah mengganti lirik lagu hymne guru pada tahun 2015 yang awalnya ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ diganti menjadi ‘pembangun insan cendekia’.