Pernikahan (kalian)

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kolaborasi dengan Sarah R Putri   Kategori Kolaborasi
dipublikasikan 06 Agustus 2016
Pernikahan (kalian)

Aku bangun

Dengan cinta

Kau rawat

Dengan doa

Demikianlah kita

Berumah tangga

Menuju surga [1]

 

Bagaimana perasaanmu?

Barangkali kali ini dadamu menyimpan degup yang lebih kencang dari biasanya. Membuatmu cukup gugup. Lalu kamu jadi sering menggerak-gerakkan tangan tanpa sadar, atau sering menarik nafas panjang. Tak apa-apa, kawan. Sekalipun aku belum pernah mengalaminya, aku berusaha paham. Kita tahu, hal seagung pernikahan adalah urusan yang besar. Yang menjadi saksi bukan hanya benda-benda yang sering disebut dalam puisi. Tapi, juga langit. Dan bumi.

Ke depan, kalian akan memulai perjalanan hidup berdua. Dalam berkah yang menjadi nafas setiap detiknya. Saling menyatakan cinta atau rindu dalam bentuk apa saja yang diridhai-Nya. Barangkali, pernikahan selalu istimewa. Walaupun sebagian besar manusia sudah melangsungkannya sejak lama; di semua negara, pada hampir semua peristiwa.

Apa kabarmu?

Kamu mungkin sedang gelisah saat ini. Membayangkan peristiwa apa saja yang ada di depan, lalu berpikiran ada hal yang tidak baik-baik saja di masa depan sana. Tak apa-apa. Kita memang tak pernah bisa melihat masa depan. Itulah mengapa harapan selalu ada.

Aku punya sesuatu untukmu...

Siang ini aku membaca sebuah tulisan tentang doa. Awalnya dimulai dengan barakallahu laka...

Kawanku, Doa ini biasa ditujukan untuk mempelai pria dan wanita. Dari sumber yang kubaca, ini doa Nabi kita, doa Nabi Muhammad Saw. Konon, doa ini beliau baca ketika pernikahan Ali dan anaknya, Fathimah.

Tuhan memang mengetahui apa maksud kita, dan Ia selalu mengetahui segalanya. Namun, berdoa dengan kata-kata Nabi Muhammad, kekasih-Nya, kupikir itu luar biasa. Dan aku ingin berdoa dengan kata-kata yang pernah Nabi ucapkan juga.

Pelan-pelan, aku mengucapkan bait-bait doa yang mulia itu sambil menuliskannya. Aku mengingat setiap kalimat dalam bahasa Indonesia dan jumlah mufidah dalam bahasa Arabnya. Ribuan doa yang sama ini kelak akan tertuju pada kalian berdua. Semoga kamu bisa membacanya dengan perlahan :

Barakallahu laka, Semoga Allah memberkahimu. Untuk apa? Untuk apa saja yang bisa kita syukuri; Rumah yang tenteram, tangga yang kokoh, atau kebahagiaan apa saja yang membuatmu merasa jadi orang yang paling beruntung di dunia.

Wa baraka alaika, Dan semoga Ia tetap memberikan keberkahan atasmu. Untuk apa? Untuk apa saja yang harus kita sabari; pertengkaran, musibah, atau apa saja yang membuatmu merasa jadi orang yang paling menderita di dunia.

Wa jamaa’ baina kuma fi khair, dan semoga Dia mempersatukan kalian berdua di dalam kebaikan. Mengapa? Karena hanya dengan kebaikan, dua orang yang bersama akan tetap baik-baik saja.

Demikianlah, kawanku. Aku mengambil setetes dari lautan makna dan hikmah doa yang diucapkan Nabi kita. Kalian bisa membaca makna lengkapnya sendiri, tentu saja.

Kawanku,

Jika nanti di hari pernikahanmu aku hanya datang dalam bentuk kata-kata dalam paragraf—yang kaku dan dingin berdiri di sepanjang layar atau surat, maafkan aku. Tapi, kupastikan doa-doa tetap ditujukan untuk keselamatan kalian berdua; semoga Allah memberkahi dalam senang dan susah, dan semoga kebaikan selalu melingkupi kalian berdua yang sedang menjalin cinta, lillah.

---

[1] Fahd Pahdepie (Rumah Tangga, 2015)