[Project] PART 4 (FINAL) : Kabul untuk Doamu

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Juli 2016
Semoga

Semoga


Kisah Ilyas dan Riana; dua orang yang terpisah dalam jarak namun bersama dalam doa.

Kategori Cerita Pendek

3.5 K Hak Cipta Terlindungi
[Project] PART 4 (FINAL) : Kabul untuk Doamu

Riana,  barangkali ini kabul untuk doa-doa kita.

Selepas pulang dari rumahmu, aku menaiki kereta dan tertidur lelap pada salah satu kursinya. Aku tertidur selama lima atau sepuluh menit. Seperti yang kamu tahu, Riana, aku selalu tertidur jika menghadapi masalah berat. Mungkin ini bentuk melarikan diri dari kenyataan, Ri.

Aku terbangun dan mendapati seorang perempuan sedang duduk tepat di depan kursiku. Ia bersebelahan dengan seorang laki-laki yang sejak tadi menyumbat telinganya dengan earphone.  Aku membetulkan posisi dudukku. Sementara rel kereta menjerit diinjak besi-besi tua, jendelanya tak lagi menampilkan sawah dan rumah-rumah yang saling berkejaran. Mereka telah berganti menjadi bulan atau planet venus; tengah mengintip di dasar langit yang kesepian.

Senja akhirnya datang menjelma suara azan pada ponsel yang terbenam di saku celanaku. Aku berusaha merogoh ke dalam saku, untuk mematikan notifikasi itu. Kemudian bersiap shalat Magrib dan Isya dengan jama’-qashar [1].

Aku berhasil mengeluarkan ponsel dalam saku saat azan tengah melantunkan kalimat hayya ‘alas shalah. Ada beberapa notifikasi di layarnya; informasi cuaca, SMS berisi ucapan selamat karena telah menjadi pemenang undian –yang pasti kuhapus--, dan satu chat yang belum dibaca. Chat itu datang darimu, Ri. Tiba-tiba aku ingat setiap detik di rumahmu tadi sore. Punggungku yang tak lagi menemukan sandaran, wajah ayahmu yang  merasa bersalah itu, dan dirimu yang berubah menjadi pemurung.

“Maafkan aku...” Katamu dalam ponsel, “aku yakin, kamu akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku.” Aku memasukan lagi ponsel ke saku. Aku tak ingin menjawab pesanmu sekarang. Aku harus salat, Ri. Aku ingin menenangkan hatiku. Kini, malam mulai jatuh di ufuk gunung yang gelap. Sementara aku hampir menyelesaikan shalat.

Aku membaca isi pesanmu sekali lagi. Sementara ingatanku sedang terbang kembali ke masa lalu, saat kita berbincang siang itu.

“Mengapa Tuhan tidak mengabulkan doa kita? Bukankah semesta ini kepunyaan-Nya? Harusnya mudah untuk-Nya mengabulkan doa kita, kan?” katamu waktu itu sambil menekuk wajah.“Ini agak misterius.” Jawabku,”Tuhan itu Maha Tahu. Termasuk mengetahui hal apa yang baik untuk kita. Hmmm... mungkin Ia punya sesuatu yang lebih baik dari permintaanmu. Aku tak tahu kenapa, tapi tunggulah sebentar lagi.” Kamu diam saja saat itu. Sementara aku hanya bisa memandangimu.

Aku masih mengingat dengan baik percakapan kita siang itu. Tak kusangka, jawabanku untuk pertanyaanmu akan kembali padaku. Kini, aku menemukan kata-kata untuk membalas pesan singkatmu, Ri.

Kini aku tak sabar bertemu perempuan yang lebih baik darimu itu, Riana.”

***

Pagi esoknya, sebuah stasiun menghentikan kereta yang kutumpangi. Aku sudah pulang, Ri. Kini ranselku terasa lebih ringan, karena kenangan kita telah kutanggalkan satu per satu sepanjang perjalanan. Sekalipun tak semuanya.

Kini kakiku memulai langkah pertamanya keluar dari gerbong kereta. Aku melihat sekeliling. Stasiun ini masih baik-baik saja. Orang-orang berjalan menyebar, loket-loket karcis berdiri memanjang, laki-laki dan perempuan sibuk dengan ponsel atau korannya masing-masing. Aku terus berjalan, dan tersadar ketika melewati tempat kita berpisah tiga hari yang lalu. Saat angin-angin itu mengibaskan kain kerudungmu, menjauhkan punggungmu dari langkah kakiku, dan memulai kepergianmu yang tiba-tiba itu.

Di sana, mataku terpejam sebentar. Aku ingin mengenang sekaligus melupakannya dalam waktu yang bersamaan. Sampai seseorang menabrakku dari belakang.

 “Maaf.” Kata orang itu. Nampak menyesal. Ternyata seorang ibu tua dengan tas besar di dua tangannya. Ia nampak repot membawanya.

“Tidak apa-apa bu. Saya pun salah, karena berhenti di tengah jalan.” Jawabku, “Ibu mau ke mana? Biar saya bawakan tasnya.” Aku tak tahan melihat tangannya yang bergetar dan kerepotan itu, Ri. Bahkan ia berjalan membawa tas besar itu sejak tadi.

Ke sana” kata ibu tadi sambil menunjuk ke arah peron. Ia nampak bahagia. Aku mengangguk dan mulai berjalan.

“Di sini bu?” kataku sambil  menurunkan tas besar sembilan menit kemudian. Akhirnya kami sampai di peron dengan tiang-tiang berjajar. Ibu itu tersenyum. Nampak bahagia.

“Terima kasih banyak.” Kata ibu itu, “Semoga kamu sukses nak...”

“terima kasih atas doanya bu.” Jawabku, “semoga ibu selamat sampai tujuan.”

Tanpa alasan yang begitu jelas, aku senang membantunya, Ri. Aku membayangkan kalau dia adalah ibuku atau ibumu. Kamu tak akan tega melihatnya kan?

Sekarang aku harus meninggalkan peron. Aku sadar masih ada yang harus kuselesaikan; sejumlah perasaan padamu, beberapa rindu yang tertinggal di stasiun itu. Kemudian aku mengemasi langkah-langkah untuk kembali ke tempat mengenangmu.

Puluhan langkah kakiku akhirnya mengantarkan ke tempat itu lagi. Tapi kini ada yang berbeda. Orang-orang bergerombol membentuk lingkaran sedang mengobrol sesuatu, nampaknya mereka semacam rombongan traveler atau pecinta alam. Aku tak peduli. Aku memalingkan pandanganku ke sebelah kiri. Ternyata di sana ada seseorang yang mengalihkan fokus lensa mataku, Ri. Seorang perempuan mengenakan kerudung ungu. Dengan tas ransel cukup besar memeluk punggungnya. Mengenakan jam di tangan kirinya.

Aku memperhatikannya dari jarak delapan langkah. Ia sedang menunduk memandangi ponsel. nampak sedang memastikan sesuatu. Sesekali ia menoleh ke arah kiri dan kanan, atau membenarkan posisi kacamata dengan dua jarinya. Aku suka bingkai kacamatanya.

Tanpa sadar, aku terus memperhatikannya. Aku merasakan debar itu lagi. Debar yang sama saat pertama kali melihatmu, Ri. Sulit mengatakan apa sebabnya. Ada banyak perempuan cantik di majalah, di televisi, di spanduk atau papan reklame. Tapi mereka tak membuatku jatuh cinta. Seperti kamu, Riana,  perempuan ini pun berbeda. Mungkin ia istimewa.

Aku maju tiga langkah. Sambil berpura-pura berjalan ke suatu arah mendekatinya. Sementara kepalaku sedang membuat ide bagaimana caranya untuk mulai menyapa. Haruskah kutanyakan sekarang jam berapa? Kemudian menanyakan siapa namanya? Atau haruskah aku berpura-pura menjadi orang asing yang bertanya di mana tempat membeli tiket? Kemudian menyimpan nomor ponselnya?

Aku memulai langkah pertamaku mendekatinya. Dengan banyak pertanyaan yang sudah aku siapkan, dan memberi ruang ingatan untuk merekam apa saja tentangnya; suaranya, senyumnya, atau rute terdekat menuju rumahnya.

Di langkah kedua, seseorang memanggilnya dari belakang. Ia menoleh lalu tersenyum girang. Seperti menemukan sesuatu yang sudah lama hilang. Sementara semua kata-kata dalam kepalaku yang sejak tadi sedang menyusun pertanyaan, memudar kemudian hilang tak bersisa. Aku tahu ia akan segera pergi, Ri.

 “Hei!” katanya. Suara perempuan itu menghentikan debarku untuk pertama kalinya. Lalu ia Melambaikan tangan pada dua orang di ujung gerbang stasiun yang tadi memanggilnya. Ia setengah berlari mendekati mereka. Meninggalkanku bersama angin stasiun yang sejak tadi membelai rambutku, dan menyamarkan debar jantungku yang belum hilang. Untuk kedua kalinya, aku kehilangan dua orang yang kusukai di tempat yang sama.

***

SEBULAN KEMUDIAN...

Usai salam salat subuh, aku mundur ke belakang mendekati dinding masjid. Keluar dari barisan jamaah yang masih belum selesai mengeja masing-masing doa mereka. Aku ingin menyender ke pinggir dinding masjid dengan bahu kiriku, sambil melepas kacamata yang sejak tadi lelah membantu penglihatanku. Lalu memulai wirid dengan memohon ampun tiga kali sambil menunduk, dilanjutkan dengan doa dan seterusnya.

Aku mengangkat kepala ketika doa subuh itu kututup dengan aamiin pelan. Kemudian bersiap menuju pintu keluar, sambil memasukan tangan ke dalam saku; untuk mengecek kunci motor yang lupa kusimpan di saku kiri atau saku kananku. Aku masih mencari kunci itu sampai ada tepukan pelan di pundak kananku.

“Nak Ilyas?” aku menoleh lambat ketika seseorang memanggil namaku.

“Iya?” kataku setengah bingung. Memandang laki-laki berumur sekitar 48 tahun berada tepat di samping kananku. Wangi parfum di jaketnya menguar di hidungku, “ada yang bisa saya bantu pak?”

“ah ya tentu saja.” jawab bapak itu, “duduk dulu di sini nak, sebentar saja.”

Aku kembali duduk bersila. Sementara bapak itu bersiap memulai sesuatu yang ingin dikatakannya.

“Kurang lebih tiga pekan ini bapak memperhatikanmu...” Kata bapak itu, memulai pembicaraan. Nampaknya Ia bukan tipikal orang yang suka basa-basi. Aku memperhatikan wajahnya. Bapak ini serius.

“Rupanya nak Ilyas tak pernah ketinggalan saf salat subuh...” lanjut bapak ini lagi. Aku masih mendengarkan. Sementara pikiranku tak berhenti bertanya; siapa bapak ini? Apa yang dia inginkan?

“Bapak punya anak perempuan...” katanya lagi. Aku masih diam mendengarkan, “apa nak Ilyas bersedia jika dijodohkan?”

Seketika aku kaget dibuatnya. Benar-benar di luar dugaan. Kupikir bapak ini menawari untuk mengajar les matematika anaknya, atau apa saja semacamnya. Sementara pikiranku berusaha membuat hubungan sebab akibat dari perkataan bapak itu. Bagaimana bisa? Tiba-tiba bapak ini membuat hubungan antara salat subuh dan mencarikan pasangan untuk anak perempuannya?

“Bagaimana nak Ilyas?” tanya bapak itu sekali lagi. Aku masih belum menjawab apa-apa, “ya sudah. tidak apa-apa, pikirkan saja dulu...”

“Mengapa bapak bisa seyakin itu? Kataku meragukan, “Bapak belum mengenal saya dengan baik, kan?”

“Benar nak. Bapak belum begitu mengenalmu” Jawabnya, “tapi bapak yakin, jika nak Ilyas bisa menjaga salat subuh berjamaah seperti ini, nak Ilyas pun bisa menjaga anak bapak dengan baik.”

Aku tak bisa menjawab apa-apa, selain terus bertanya-tanya. Bapak itu masih terus menatapku. Kali ini masjid sudah agak sepi. Menyisakan beberapa orang saja di antara dindingnya. Sementara matahari sedang mengintip melalui cakrawala. Lalu ayam-ayam sudah bersahutan sejak lama.

“Apa anak perempuan bapak sudah mengetahui kalau dia akan dijodohkan?” tanyaku. Tiba-tiba aku mengingatmu, Ri.

“Justru anak bapak yang minta dijodohkan.” Jawab bapak itu, “Dulu ia pernah memilih calonnya sendiri, namun rupanya di tengah jalan mereka berpisah.”

“Begitu...” kataku, sambil menunduk. Menatap karpet masjid yang sejak tadi mendengarkan percakapanku.

“Begini saja nak Ilyas, tak usah buru-buru.” Rupanya bapak ini sangat mengerti apa yang sedang kurasakan. Kurasa ia tahu dari ekspresi wajahku, “Hari Sabtu nanti, nak ilyas main ke rumah bapak, ya? Sekali-kali kita minum kopi.”

***

Riana, setelah pagi itu, hari-hariku diisi perasaan yang tak menentu. Setiap subuh, aku harus menyetel ulang niatku sambil melangkahkan kaki ke masjid. Niatku bukan untuk dilihat siapa-siapa selain-Nya, langkah kakiku bukan untuk siapa-siapa kecuali untuk-Nya. Sementara itu,  aku terus diingatkan soal ajakan minum kopi di hari Sabtu. Aku tak punya pilihan selain menerima ajakannya, Riana, sekalipun aku lebih suka teh manis atau susu cokelat.

Aku tak tahu apa yang sedang Tuhan rencanakan. Tapi aku berprasangka baik. Kalau Tuhan sudah mengabulkan doaku tentang kebahagiaanmu. Barangkali, sekarang waktunya Tuhan mengabulkan doamu yang kamu ketik untukku; menghadirkan perempuan yang lebih baik darimu.

***

Sabtu itu, aku datang ke rumahnya. Ini jadi perjalanan yang panjang, Ri. Jarak dari rumahku ke rumah bapak itu cukup jauh, walaupun tak harus naik kendaraan.

45 menit kemudian, akhirnya aku sampai di rumahnya. Dari kejauhan aku memandangi rumahnya yang besar, ada mobil terparkir di garasinya. Sementara terasnya nampak baru saja selesai dipel. Aku mendekati pegangan pintu pagarnya. Lalu membuka pelan-pelan, sambil mengambil langkah ragu mendekati pintu rumahnya.

Belum sempat mengetuk pintunya, seorang laki-laki keluar dari pintu rumah menuju pagar. Ia berjalan ke arahku. Ternyata itu bapak yang kutemui di masjid sepekan lalu, Ri. Aku tersenyum lega. Rupanya aku tak salah rumah.

“Eh nak Ilyas, bapak sudah menunggu sejak tadi.” Kata bapak itu menyambutku, “Ayo kemari, masuk.”

Aku hanya tersenyum pendek. Kemudian menyalami tangannya yang hangat, “Assalamualaikum, pak.” Kataku. “Waalaikumsalam.” Jawabnya. Kali ini ia memegangi pundakku sambil berjalan mengarah ke suatu ruangan. Mirip sepasang sahabat, atau ayah dan anaknya yang sudah besar.

Kurang dari sepuluh langkah, kakiku sampai di suatu ruangan yang bukan ruang tamu. Kurasa ini ruang tengah, atau ruang keluarga. Pantas saja tadi bapak itu mengambil rute memutar.

Silakan duduk nak Ilyas.” Katanya, dengan ramah. Aku hanya mengangguk pelan, dengan dada yang berdebar. Seperti selamanya, dua orang yang baru saja mengenal akan mencari topik yang punya irisan yang sama. Ia menanyakan apa saja yang bisa kujawab, lalu pelan-pelan semuanya jadi terasa lebih nyaman. Pundakku merendah, punggungku yang tegang mulai mengendur, dan aku mulai terbiasa dengan semuanya. Tiga toples kue kering duduk di atas meja, dua cangkir kopi yang setia menunggu, wangi rumah yang menguar di hidungku, dan setiap sudut rumah ini; yang entah mengapa serasa jadi rumahku sendiri.

Aku memperhatikan lemari yang berdiri berlawanan dengan tempat dudukku. Di sana ada sesuatu yang akrab dengan mataku; Secarik tiket kereta. Aku memperhatikannya sambil bertanya-tanya siapa yang suka naik kereta?

Aku masih berusaha mengakrabi setiap dinding rumah ini. Sementara bapak itu belum lagi membicarakan sesuatu. Ia nampak gelisah. Ada sesuatu yang ia simpan, ada seseorang yang ia tunggu.

“Silakan diminum saja dulu kopinya, nak Ilyas.” Katanya. Lagi-lagi aku mengangguk pelan. Kemudian meraih cangkir kopi, untuk memulai tegukan pertamanya.

“Mi, ini nak Ilyas sudah datang.” Kata bapak itu. Rupanya seseorang yang ia tunggu adalah istrinya. Lalu dua orang perempuan datang dari dalam, satunya mengenakan kerudung warna Cream. Kurasa itu istrinya. Aku tersenyum berusaha menyapanya. Sementara satunya lagi memakai kerudung biru, dan mengenakan kacamata. Mungkin ini anaknya.

Hei, aku pernah melihat perempuan ini sebelumnya. Aku mengenal bingkai kacamatanya. Aku mengingat wajahnya.

Kini dadaku berdebar lebih cepat lagi, lalu ada perasaan yang sulit kujelaskan. Mungkin semacam de javu. Ini perempuan yang mencuri debar jantungku di stasiun itu!

Aku terkesima. “Tuhan, apa yang sebenarnya sedang Engkau rencanakan?” batinku. Aku Tak percaya, sekaligus bahagia. Perasaanku semakin tak menentu. Darah di dalam nadiku rasanya mengalir lebih lancar. Kemudian mengirimkan sinyal pada jantungku untuk berdegup lebih cepat.

“Jadi begini nak Ilyas” akhirnya bapak itu mulai lagi berkata sesuatu, “Hari ini kami ingin mengobrol banyak denganmu.”

Aku menatap wajahnya. Kulihat istri dan anaknya mulai duduk berdekatan. Istrinya nampak memperhatikanku. Sementara anaknya, perempuan yang mencuri debar jantungku di stasiun kereta, masih menunduk menatap meja. Mungkin sesekali ia sempat mencuri pandangan padaku.

Setelah itu, kami berempat melanjutkan obrolan hangat. Membincangkan apa saja yang ku suka, apa kegiatanku sehari-hari dan apa cita-citaku. Mungkin mereka berusaha mengenal diriku lebih dalam, Ri, mereka ingin ‘mengambil data’ tentangku lebih banyak lagi.

Dua jam kemudian, obrolan kami selesai. Aku pamit pulang untuk sebuah urusan. Lalu tersenyum sambil menyalami tangan ibu dan anak perempuannya dari jauh. Lalu aku diantar bapak itu ke halaman luar, sambil terus mengobrol.

Pada salah satu langkah mendekati pagar, aku berhenti. Bapak itu ikut berhenti.

“Ada apa nak?” kata bapak itu.

“Sebentar pak.” Kataku, “Jadi siapa nama anak bapak yang tadi itu?”

“ah iya iya....” jawabnya sambil tertawa, “Bahkan bapak lupa memperkenalkan namanya pada nak Ilyas.”

Aku menatap wajahnya. Menunggu kalimat selanjutnya.

“Nama putri bapak itu, Riana.”

***

Demikianlah, Ri. Kini Tuhan mengabulkan doamu. Doa kita berdua.

Setelah pertemuan pertama itu, ditambah mohon petunjuk pada Tuhan, aku yakin untuk menikahinya. Lima hari sejak pertemuan itu, aku melamarnya. Kemudian kami berencana menikah dua bulan kemudian. Mungkin waktu pernikahan kami akan berdekatan dengan hari pernikahan kalian, Ri.

Seperti selamanya, Tuhan selalu memiliki skenario terbaik. Sekalipun kadang kita gagal memahami awalnya. Setelah semua perjalanan ini, kurasa aku ingin bersyukur dengan cara yang sama saat aku meminta pada-Nya. Dengan doa-doa kita, dengan pinta-pinta kita pada-Nya. Kemudian Tuhan akan berkata, “Ya.”

BANDUNG

TRIAS ABDULLAH

 ---

[1] Shalat dengan cara menggabung dua shalat jadi satu (Dzuhur & Ashar, Maghrib & Isya) dengan sebab perjalanan jauh. Pembaca bisa mencari di buku-buku fiqh shalat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 587