[Project] PART 3 : Ruang Tamu di Rumahmu

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Juli 2016
Semoga

Semoga


Kisah Ilyas dan Riana; dua orang yang terpisah dalam jarak namun bersama dalam doa.

Kategori Cerita Pendek

3.5 K Hak Cipta Terlindungi
[Project] PART 3 : Ruang Tamu di Rumahmu

Riana, aku menemukan senyummu siang itu. Di suatu taman dengan rumput dan bunga. Kamu tersenyum manis, sambil setengah berlari. Sementara jemarimu terbuka seperti berkata,”ayo kejar aku!” Aku tersenyum, kemudian mengejar punggungmu. Berusaha menggapai lenganmu, mengisi ruang kosong di antara sela-sela jari-jarimu. Kamu masih berlari, sambil melambaikan tangan ke arahku. Kamu terus menjauh, sambil tersenyum padaku. Kita bahagia terbang di taman bunga sebagai sepasang kupu-kupu.

“Kamu tidak akan pergi kan, Ri? Jadi kemarin itu mimpi buruk?” tanyaku.

Kamu mengangguk, tak berkata apa-apa. Aku tersenyum, bersyukur lega.

Lalu pelan-pelan senyummu hilang. Langkah-langkah kakimu semakin jauh. Bayanganmu semakin samar. Aku berteriak memanggilmu. Kamu tak menjawab. Aku berusaha mencarimu, dengan gelisah. Kemudian kamu semakin menyamar, akhirnya hilang. Menjadi hening. Menyisakan suara jerit di hatiku dan pertanyaan yang terus kuulang dengan gelisah,”Riana, kamu di mana?

***

Aku beranjak dari tempat tidur, setelah alarm membangunkanku pagi itu. Melepaskan kantuk yang memeluk mataku sejak tadi. Kemudian lampu belajar yang menyala remang-remang menyapaku dari sudut meja, bersama emailmu yang sejak tadi malam belum sempat ku balas. Saat membacanya, nafasku sesak untuk kedua kalinya. Aku menghela nafas panjang. Ternyata suratmu itu bukan mimpi buruk, Ri.

***

Pagi-pagi sekali, tas ransel sudah mengemasi barang-barangnya. Kini ia sedang duduk di dekat pintu, menungguku yang belum selesai mendoakan kebahagiaanmu.

Aku harus bicara pada orang tuamu, Riana. Aku akan menemui mereka hari ini.” Ketikku dalam ponsel. Kamu tidak menjawab apa-apa. Sekalipun Aku tahu kamu membacanya.

Akhirnya, sore itu aku tiba di depan rumahmu. Ada sepatu kets yang menyambutku dari sudut halaman. Itu milikmu. Mereka sedang menunggu di rak; bersama sandal-sandal adik atau ibumu. Dadaku bergemuruh saat pertama kali menginjak teras rumahmu, berdiri di depan pintunya. Kemudian ia bertambah hebat saat tanganku memulai ketukan pertamanya.

Assalamualaikum....” kataku sambil mengetuk pintu. Aku menunggu sambil sesekali menghela nafas panjang.

Assalamualaikum...” kataku di ketukan kedua. Kini, aku mulai merasakan ada derap langkah yang datang dari dalam. Aku berdiri lebih tegap, kemudian berusaha merapikan lipatan baju yang tak kusut.

waalaikumsalam....” jawab seorang perempuan berjilbab dari dalam. Ia membuka pintu sambil tersenyum. Senyum ibumu mirip dengan senyummu, Ri.

Mau cari siapa?” tanya ibumu.

Bapaknya ada bu? Saya teman Riana” kataku dengan senyum yang tak natural.  “oh ada. Silakan masuk dulu” kata ibumu.

Aku masuk ke ruang tamu rumahmu. Menjejak keramiknya yang dingin, mencium wangi rumahmu. Kemudian mencari posisi duduk yang nyaman untuk dadaku yang sejak tadi berdebar. Ada fotomu menggantung di tembok, ada foto keluargamu di sisi lainnya. Apakah fotoku juga nanti akan ada di sana? Aku mulai memperhatikan setiap sudut rumahmu yang bisa kutangkap dengan lensa kacamataku. Lalu, entah mengapa, aku merasa rumah ini sangat akrab denganku. Padahal aku baru pertama kali mengunjunginya.

ooooh...ini nak Ilyas.” Tiba-tiba suara ayahmu mencuri fokusku.

Iya pak.” Kataku setengah tersenyum. Aku berdiri, kemudian menyalaminya. Rupanya kamu menyampaikan kabar ini pada ayahmu, Ri.

Kami berbincang sebentar tentang perjalanan, pekerjaan, atau apa saja yang bisa dibicarakan oleh dua orang laki-laki. Sampai akhirnya, aku menyampaikan tujuan utamaku. Ketika itu, ayahmu menatapku dengan serius. Tapi pandangannya tetap menenangkan. Ia ayah yang bijak, Ri. Aku tahu dari tatapannya.

Dengan niat mematuhi perintah Allah, dan menjalankan sunah Rasulullah, saya bermaksud untuk melamar Riana, anak bapak.” Kataku. Ayahmu kelihatan kaget. Aku bisa melihat dari wajahnya.

begitu....” kata Ayahmu. Kali ini, ia memegang dagunya. Sementara itu, aku mengambil nafas panjang, berusaha menyamarkan debar jantungku.

“Bapak sangat menghargai niatan baikmu itu.” jawab ayahmu,”tapi, mohon maaf nak Ilyas... Riana sudah dilamar laki-laki lain.”

“Benar begitu pak?” kataku tak percaya. Aku tahu sekarang diriku tidak baik-baik saja. Punggungku rasanya tak kuat lagi menahan tubuhku. Kakiku tak lagi merasa sedang menapaki sesuatu. Aku berusaha terus menarik nafas panjang, membuat diriku sendiri lebih tenang.

“Iya nak. Riana akan menikah, tiga bulan lagi.” Kata ayahmu.

Jadi begitu...” kataku pelan sambil menunduk.

“Bagaimana nak? Bapak tidak mendengar apa katamu.” Kata ayahmu. Barangkali ia masih merasa bersalah.

“Bukan apa-apa pak.” Jawabku,”Setelah langkah pertama saya keluar dari rumah ini, InsyaAllah saya akan mencari perempuan lainnya.”

Aku mengatakannya dengan sisa-sisa tenagaku. Aku sudah tak bisa menyembunyikan perasaanku lagi. Mungkin saja ekspresi wajahku terlihat menyedihkan bagi ayahmu; sebagai laki-laki ia pasti paham, Ri.

Kalau begitu, saya pamit sekarang pak. Saya kira tujuan utama saya datang ke sini sudah tersampaikan.” Kataku. sekuat tenaga berusaha menatap wajah ayahmu sekali lagi. Ia tak bicara apa-apa.

Dengan berat, aku mengangkat punggungku. Mengumpulkan pecahan perasaan yang sejak tadi sudah remuk dan berserakan, kemudian mengaisnya satu per satu.

“Mah, nak Ilyas mau pamit.” Kata ayahmu sambil menengok ke ruang lainnya. Kemudian pintu ruang sebelah terbuka. Ada ibumu keluar dari sana dengan ekspresi murung. Sambil berusaha membetulkan posisi jilbabnya.

“Pulang sekarang nak Ilyas? Kenapa buru-buru?” tanya ibumu. Aku tahu itu bukan pertanyaan sebenarnya.

“Iya bu, saya khawatir pulang terlalu malam.” Jawabku sambil menjinjing tas ransel. Ayah dan ibumu kini menatapku bersamaan. Mirip seperti orang tua mengantar anaknya yang akan pergi ke luar kota.

“Semoga perjalananmu lancar.” Kata ayahmu lagi.

Tiba-tiba kamu datang dari dalam rumah. Berdiri di sela-sela pundak orang tuamu. Matamu sembab, seperti telah menangisi sesuatu. Wajahmu sedikit memerah. Kemudian tanganmu memeluk tangan kanan ibumu. Lalu pundakmu dirangkulnya erat. Sementara aku hampir selesai mengikat sepatuku.

 “Semoga kamu selamat sampai tujuan....” katamu. Dengan mata yang berkaca-kaca.

“terima kasih. Semoga kamu bahagia.” Jawabku. Masih berusaha tersenyum.

Sore itu kita bertukar doa sekali lagi. Seperti surat-surat kita di masa lalu. Bertukar harapan satu sama lain, memanjatkan doa yang sama; agar kita masing-masing saling bahagia. Aku tahu, Tuhan selalu berkata “Ya” untuk doa-doa kita, Ri. Aku yakin.

***

Langkah pertama keluar dari rumahmu, aku ingat bagaimana caramu tersenyum padaku untuk pertama kalinya, Ri. Matamu mengecil. Ada lesung pada salah satu pipimu. Senyum yang sering mencuri debar jantungku.

Langkah kedua menjauhi blok rumahmu, aku mengingat lagi mimpiku tadi malam. Langkah kakimu di taman berbunga itu. Tanganmu yang melambai. Kejaran tanganku yang tak sampai. Dan kakiku yang tak bisa mengejar langkahmu.

Langkah ketiga masuk ke gerbong kereta, aku membayangkan bagaimana ekspresi wajahmu tiga bulan mendatang. Kamu memakai gaun warna kesukaanmu dengan banyak riasan perempuan. Menggenggam erat tangan seorang laki-laki beruntung itu, sambil tersenyum pada tamu-tamu. Apakah aku akan jadi salah satu tamu pernikahanmu, Ri? Aku tak tahu.

Kini, biarkan aku melepas semua tentangmu dalam derit gerbong kereta api. Kemudian melupakannya perlahan dalam pemandangan-pemandangan; sawah, rumah, tiang listrik, awan-awan yang berlarian di bibir jendela. Barangkali perpisahan memang selalu menyebalkan sekaligus seperti tidak punya perasaan. Tapi rupanya ini jawaban doaku untukmu, dan doamu untukku. Aku tahu, Tuhan selalu tepat memutuskan sesuatu.

Setelah semua perjalanan ini, aku cukup lelah, Ri. Aku ingin tidur sebentar, membuat bahuku berhenti memikul masa lalu sejak tadi. Menunggu semua hal tentangmu berguguran di antara rel-rel kereta. Aku ingin tertidur sebentar saja, setidaknya sampai perasaanku baik-baik saja. Semoga kamu bahagia, Riana....

BANDUNG

TRIAS ABDULLAH

---

Baca Lanjutannya : Part 4 (FINAL) Kabul untuk Doamu


  • Simfoni Negeri
    Simfoni Negeri
    1 tahun yang lalu.
    penggunaan metafora yang pas dan menggelitik. cerita tentang lamaran yang ditolak membuat saya merasa menjadi pengamat di dalam rumah Riana. sakit. cukup mengharu biru part 3 ini. smile

    • Lihat 1 Respon