Kawanku, Jadi inikah Jerman itu?

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Juli 2016
Kawanku, Jadi inikah Jerman itu?

Tepat pukul 20.14 WIB, ada satu pesan yang hinggap di ujung bilah notifikasi; membuat lubang-lubang speaker ponselku memunculkan suara pemberitahuan. Ternyata, satu dari banyak pesan Itu datang dari mu, kawanku.

Setelah pukul 19.30 WIB, memang Ada banyak notifikasi; informasi acara-acara virtual, layanan penyedia jaringan atau promo-promo ayam goreng di sekitar perumahan. Aku memutuskan mengabaikan mereka semua.

“Alhamdulillah...” kata syukur itu jadi kalimat awal pesanmu. Kubaca pukul 04.30 WIB dari ponselku.  Jempolku bergerak pelan mendekati layar ponsel. Di detik pertama, aku membuka kunci ponsel dengan sejumlah angka. Di detik kedua, aku menekan notifikasi pesanmu. Sambil batinku terus menebak-nebak apa isinya.

“Alhamdulillah... Aku lulus Yas!” katamu, mengucapkannya dalam bentuk kata-kata. Di detik ketiga, Isi pesanmu meledakkan semua rasa di dadaku. Lalu aku tak tahu perasaan apa yang sekarang tersisa; senang atau iri, bahagia atau bangga, ikut bersyukur atau segera membuat permintaan seperti teman-teman lainnya; minta traktir atau hal-hal semacamnya.

“Alhamdulillah” Jawabku di pukul 04.31 WIB. Di antara semua perasaan itu, akhirnya kupilih rasa syukur. Kamu belum membaca pesanku, kamu belum menjawab apa-apa.

Enam jam kemudian, kamu baru membuka ponsel. Di pukul 10.31 WIB kamu menjawab pesanku dalam tiga baris, “aku tak bisa percaya ini. Kemarin Aku nangis semalaman. Subhanallah....”

***

Kawanku,

Saat aku membaca berita baik itu, pikiranku tiba-tiba terlempar ke kota Munich; kota tempat kampusmu nanti berada. 4 detik kemudian, aku seperti sedang berdiri di salah satu titik koordinatnya. Sementara orang-orang tinggi--besar lalu lalang melewati bahu kiri dan kananku.

Aku sedang di Jerman?” batinku, tak percaya. Aku menghela nafas panjang, kemudian melepasnya pelan-pelan. Aku masih tak bisa percaya...

Aku melihat sekeliling. Ada sesuatu yang mencuri fokus lensa kacamataku; pegunungan Alpen sedang  berdiri. Ia sedang menjaga jarak dengan awan-awan, kemudian memeluk salju di atas pundaknya. Masyaallah... Aku takjub. Aku ingin berfoto di sana, membekukan semuanya dalam satu klik saja. Kemudian Aku berlari kecil. Aku ingin mendekatinya. Aku ingin berfoto di sana...

Di salah satu simpangan trotoar, kakiku berhenti di tumpuan kaki kanan. Langkahku dihentikan oleh sebuah sungai empat kali lebar badan jalan. Aku memperlambat langkah, memandangi air dan dedaunan. Lalu semua pemandangan itu berubah jadi bait-bait puisi; air sungai mengalir tanpa riak, dipagari batu tak bergerak, pepohonan berbanjar mengikuti arah sungai, kicau burung samar-samar terdengar.

Kawanku, Jadi ini yang disebut sungai Isar?”

Aku berjalan di sisi sungai, memandangi airnya yang berkilau dipantulkan cahaya matahari. Kemudian, salah satu pantulan cahayanya hinggap di tubuh monumen yang berdiri di ujung pandanganku; mungkin itu yang orang bilang monumen Angel of Peace, sebuah penanda peristiwa penting di sana. Tapi, Aku tak begitu tertarik dengannya.

Kali ini, Aku sedang berdiri di pedestrian Eropa. Syaraf-syaraf kulitku seolah merasakan semuanya; tumitku merasakan kasarnya gesekan batu trotoar, keningku menghangat diterpa udara sepanas Surabaya. Jari-jariku bergerak-gerak, sejuk menyentuh cipratan air mancur di plaza Karlplatz yang memesona.

kawan,

jadi ini kota yang akan kamu tinggali beberapa tahun ini?

Aku pun ingin pergi ke sana...

***

Dari semua cerita ‘sukses’mu itu, barangkali aku ingin menuliskan salah satu bagian terbaiknya. Bagian itu adalah proses kamu mencapai semuanya, kawan...

Terlepas dari lulus S1 dengan tepat waktu, atau IPK cum Laude pada ijazahmu, aku melihat ciri-ciri sukses pada sifatmu waktu itu. Jika harus diurutkan, mungkin jumlahnya ada lima. Inilah lima sifat itu.

Pertama, merawat antusiasme.

Kedua, tetap menjadi bodoh; Agar bisa terus belajar pada siapapun.

Ketiga, bersabar apapun kondisinya.

Keempat, tidak menyerah.

Kelima, memanjangkan doa.

Kurasa, aku tak perlu lagi menjelaskan bagaimana teknis lima hal tadi. Sudah sangat jelas. Nasihat selalu bekerja ketika kita menjalankannya.

Tapi, di luar kelima hal itu, ada satu hal lain yang menurutku jadi bagian terbaiknya. Itulah kata-katamu di ujung percakapan-chat ponsel kita pukul 10.31. Ku harap, aku bisa terus mengingatnya,”Aku yakin, Trias pun bisa lulus...”

BANDUNG

TRIAS ABDULLAH

 

 

 

 

 


  • Eva Zakiyah Nurhasanah
    Eva Zakiyah Nurhasanah
    1 tahun yang lalu.
    Semoga atrias dapat segera menyusulnya ya. Selamat Berjuang atrias!?

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Maasya Allaah ... saya merinding membacanya.
    Untaian aksara yang mengalir indah, membuat saya begitu menikmati tulisan ini.
    Saya suka cara penuturannya dan ramuan diksinya.
    Terutama kata " di ujung bilah notifikasi"

    Dan tentu saja saya turut merasa bahagia untuk kawan Anda, dan semoga Anda pun sukses menjejakkan kaki di sana!