[Project] PART 2 : Surat Balasanmu, Riana.

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juli 2016
Semoga

Semoga


Kisah Ilyas dan Riana; dua orang yang terpisah dalam jarak namun bersama dalam doa.

Kategori Cerita Pendek

3.6 K Hak Cipta Terlindungi
[Project] PART 2 : Surat Balasanmu, Riana.

Suatu pagi, aku terbangun dan mendapati sebuah notifikasi pada kotak masuk emailku. Ternyata, itu datang darimu, Riana. Setelah shalat, aku membaca suratmu sampai akhir. Aku membawa ponselku ke atas tempat tidur. Kemudian membacanya sambil bersandar ke punggung bantal. Perlahan, aku membaca suratmu itu.

Ilyas,

Apa kabarmu? Kuharap kamu baik-baik saja. Aku kaget ketika mendapati sebuah kertas terselip di antara barang-barang ranselku. Seperti pencuri, suratmu menyelinap begitu saja. Kupikir, surat itu mewarisi sifat penulisnya. Seperti yang kamu lakukan dulu saat mengendap-ngendap di lorong hatiku, kemudian berhasil mencuri beberapa detak jantungku.

Aku suka suratmu. Kata-katamu menyihir lidahku untuk berkata,”iya. benar juga.” Atau memaksaku mengangguk tanda setuju. Aku pun suka bagian akhir suratmu... Karenanya, Aku akan terus berdoa Untuk kebaikanku, untuk kebaikanmu, juga untuk kebaikan kita.

Aku ingat pertama kali kamu mencurinya. Waktu itu, kita berkemah bersama teman-teman angkatan di kampus. Kemudian aku kedinginan karena dipeluk malam. Lalu kamu datang, memberi tahu caranya agar tubuhku tak terlalu dingin. “Tiupkan nafasmu ke tangan, kemudian usapkan ke pipimu. Lakukan itu sesering mungkin.” Aku ingat bagaimana caramu membungkuk di tempatku duduk saat menjelaskannya. Aku hafal bagaimana gerakan tanganmu mencontohkannya. Aku tak lupa gaya bicaramu saat itu. Aku mengingat semuanya, yas.

Bagaimana perasaanmu ketika aku hanya berkata,”aku akan pergi” tanpa menjelaskan ke mana tujuannya? Aku tahu kamu bingung, dan mungkin saja kesal. Tapi seperti selamanya, kamu memilih diam. Kamu berusaha bersabar. Aku tahu sifatmu, yas. Tapi, kini aku akan menjelaskannya. Aku berharap, kamu bisa membacanya dengan perlahan.

Ilyas,

Aku pergi ke rumah orang tuaku. Mereka menyuruhku pulang. Kata mereka, aku akan dijodohkan dengan seseorang. Saat mereka menyampaikan itu dengan telepon, dadaku bergemuruh. Ada sesuatu yang menggedor-gedor dari balik pintu perasaanku. Apakah kamu pun merasakan itu ketika membaca paragraf ini?

Aku tahu, ini mungkin tak adil untukmu. Tapi, kuharap kamu bisa memahaminya. Maaf jika aku tak menceritakan hal ini padamu di stasiun, kemarin. Aku takut aku akan menangis. Kemudian memaksa tanganmu untuk mengusap air mata di tebing pipiku, kemudian mengelus kepalaku dengan lembut. Tapi, kita tak bisa lakukan itu, yas. Ada norma yang kita pegang, ada kesucian yang kita jaga.

Konon, jodoh itu sudah ditentukan dan berada di suatu tempat yang misterius. Mungkin ini mirip perkataan filsuf Yunani tentang konsep “belahan jiwa”. Kamu sudah tahu itu, tentu saja. Tapi, kita tidak percaya konsep itu kan? Manusia tetap punya kehendak.

“Di mana peran Tuhan?” tanyaku waktu itu. Lalu Aku masih ingat jawabanmu,“Tuhan yang akan menentukan apakah setuju dengan pilihan kita, atau tidak. Bisa dibilang, kehendak Tuhan lebih kuat dari kehendak manusia.” Aku suka jawabanmu, sekalipun kamu sedikit ragu dan memintaku untuk bertanya pada orang yang lebih paham atau membaca buku-buku.

Dan sekarang, inilah pilihanku, Ilyas. Aku memilih orang tuaku. Karena pada mereka ada ridha Tuhan untukku. Kalaupun aku tak setuju dengan permintaan mereka, aku  tetap perlu mendatanginya, mendengarkan apa pendapat mereka, kemudian menyampaikan apa keinginanku bila perlu. Seperti kamu, aku pun ingin menjadi anak yang baik. Urusan apa kehendak Tuhan, yang penting aku sudah berusaha. Biar Dia yang tentukan. Tuhan selalu tahu apa yang terbaik untuk kita berdua, kan?

Kini, aku tak bisa memaksamu, yas. Kamu boleh memilih siapa pun; aku tak mau menyakitimu lebih dalam lagi. Jika nanti ada seseorang yang kamu ajak masuk ke dalam hatimu, suruhlah ia untuk memakai alas kaki. Aku tahu, akan ada perasaan-perasaanmu yang pecah, dan aku tak mau pecahan itu mengenai kakinya. Aku tak mau ada sisa perasaanmu padaku, akan menyakitinya.

Ada banyak hal pada hidup ini yang tidak bisa kita pahami, yas. Tapi bukan berarti kita harus menyerah,kan? Kita harus menjalaninya dengan cara kita masing-masing.

Ilyas,

Kata-kata dalam surat ini adalah pecahan dari hatiku yang hancur. Karenanya, maaf jika membaca surat ini membuatmu luka. Tapi, aku pun sama terluka. Ada air mata yang mengintip di sudut mataku saat menulis surat ini.

Ilyas,

Bolehkah aku meminta doamu sekali lagi? Berdoalah untuk kebaikanku. Tepatnya, berdoalah untuk kebaikan kita berdua. Karena aku pun berdoa hal yang sama. Aku mendoakanmu, aku pun berdoa untuk kebaikan kita berdua. Karena aku punya alasan yang sama dengan alasanmu berdoa. Aku tak akan selesai mendoakanmu, karena aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan selesai mendoakan keselamatanmu. [1]

Salam,

Riana

 

Aku menutup emailmu dengan nafas yang tertahan. Bantal di punggungku harus bekerja keras menahan tubuhku yang lemas. Sekarang kabarku tidak baik-baik saja, Riana.

Aku merebahkan diri ke tempat tidur. Bantal itu sudah tak kuat lagi menahan punggungku. Kemudian menatap langit-langit kamar yang sejak tadi tak bergerak. Sementara semua ingatan tentangmu sedang menari-nari di bibir jendela, kemudian berpindah ke dalam kepalaku. Memainkan musik di sana. Kemudian kamu semakin menjauh. Musik yang kau mainkan semakin melambat, semakin tanpa suara. Kamu semakin menjauh. Kemudian hilang. Dan Aku tertidur sambil menggumamkan kalimat yang tak kusadari,” aku ingin bangun dari mimpi buruk ini, Riana....”

BANDUNG

TRIAS ABDULLAH

***

Baca lanjutannya : [Part 3] Ruang Tamu di Rumahmu

[1] Penggalan Puisi Sapardi Djoko Darmono; Dalam Doaku.

 

 

 

 

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang tak tanggung-tanggung dalam menguras kegetiran hubungan yang tidak berjodoh pada akhirnya. Apalagi ditulis dengan format menulis surat, karya ini semakin tegas mengungkapkan kesedihan baik dari Ilyas mau pun Riana. Bahasa yang lugas, tidak banyak menggunakan kiasan menjadi beberapa faktor tambahan yang membuat karya ini enak dibaca dan langsung mengena ke dalam hati siapa pun yang membacanya. Kepedihan ganda bisa dirasakan secara jelas, Riana yang memilih mau dijodohkan dengan pria pilihan orang tuanya sedangkan di sisi lain Ilyas "runtuh" merasakan patah hati yang teramat menyesakkan dada.

  • Akhmad Alvian Nanda
    Akhmad Alvian Nanda
    1 tahun yang lalu.
    Sangat menyentuh sekali.

  • Intan Retma
    Intan Retma
    1 tahun yang lalu.
    Aku seperti menjadi Riana menghadapi Ilyas yang lain :') Trimakasih sudah membuat baper hahaha Salam kenal

    • Lihat 4 Respon