[Project] PART 1: Perpisahan di Stasiun Kereta

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juli 2016
Semoga

Semoga


Kisah Ilyas dan Riana; dua orang yang terpisah dalam jarak namun bersama dalam doa.

Kategori Cerita Pendek

3.8 K Hak Cipta Terlindungi
[Project] PART 1: Perpisahan di Stasiun Kereta

Di suatu siang, kita berdiri bersebelahan di ujung stasiun kereta. Kulihat tangan kirimu menahan kain kerudung yang berusaha disingkap angin. Aku berusaha membantumu, tapi tak bisa.  Karena angin pun menerbangkan hampir semua ingatan yang ada di kepalaku. Menerbangkan semuanya, kecuali pikiran-pikiran yang sejak tadi mencemaskanmu.

Siang itu, seberkas cahaya berpendar di antara jendela stasiun dan kacamataku. Kemudian sebagian kecilnya mengenai kepalamu. Membuatmu nampak lebih cerah dari biasanya, membuat jantungku berhenti berdebar beberapa detik saja. Lalu lensa mataku menjadi sangat fokus, membiaskan bayangan apa saja selainmu. Lalu semuanya menjadi melambat, menjadi tanpa suara....

“Yas, kamu yakin gapapa? Tanyamu.

Yas....? Kok ngelamun?” kini kamu bertanya dengan lebih keras. Aku tercekat mendengar suaramu, dan nyaris saja berteriak.

Engga ngelamun kok.” Sanggahku. Aku berusaha membereskan ekspresi gugup di wajahku, “nanya apa tadi?” tanyaku.

Tuuuuh kan ngelamun!” Kamu menekuk alismu.

“Emangnya nanya apa tadi?” tanyaku lagi.

Kamu tak menjawab apa-apa, lalu menunduk. Dalam beberapa detik, kita segera didekap diam. Aku berusaha mencari pandanganmu. Kamu masih menunduk, tak mau menatapku.

“Sebentar lagi aku akan pergi ke luar kota. Kita akan lama terpisah satu sama lain. Kamu yakin gapapa?” tanyamu lirih.

“Ga apa-apa.... tenang aja.” Jawabku lagi. Aku menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya bersama semua cemasku.

“Aku pamit...” katamu. Kamu berusaha menatapku dalam 2 detik, kemudian menunduk lagi.

“hati-hati ya...” jawabku 2 detik selanjutnya. Aku tak tahu jawaban lainnya.

Pelan-pelan kamu mengangkat wajahmu, menatap ke arahku. Aku tersenyum. Kamu tersenyum. Sementara itu, angin di antara lorong stasiun masih meniup kerudungmu pelan-pelan.

“Jaga dirimu....” katamu lagi. Terdengar seperti mencemaskan sesuatu.

“Kamu juga....” Aku pun tak kalah cemasnya denganmu,“kamu juga, harus jaga diri.” Kataku lagi.

Kamu mulai mengambil langkah mundur menjauhiku,”Assalamualaikum...” katamu sambil menggigit bibir bagian bawah. Aku tahu itu salam perpisahan.

“waalaikumsalam...” Jawabku sambil melambaikan tangan.

Langkahmu semakin menjauhkan jarak kita. Aku masih menatap punggungmu yang pergi menjelma sunyi, ditelan kerumunan, ditelan keramaian orang-orang.

Aku belum bisa bergerak ke mana pun. Tiba-tiba semuanya menjadi kembali melambat, menjadi tanpa suara. Kemudian Langkah-langkahmu menjadi paragraf-paragraf dalam surat yang kuselipkan diam-diam ke dalam tas ranselmu.  

Riana,

Kusebut namamu dalam doa-doa malamku. Aku mendoakanmu karena aku tak tahu cara lainnya. Aku tahu, ke depan, kita akan tinggal di kota yang berbeda. Tapi aku percaya, doa bisa melipat semuanya. Karenanya, aku ingin kamu melakukan hal yang sama; bertukar perasaan dalam sebait doa, bertukar rindu dalam pinta-pinta.

Aku sengaja tak berkirim surat antar kota. Selain terlalu banyak, aku takut ia tak datang tepat waktu. Karenanya, aku berdoa pada Tuhan. Aku tahu ia akan selalu berada di dekatmu. Dan tentu saja Ia akan menjawab semua doa tentangmu.

Suatu ketika, mungkin saja kamu akan merasa ragu. Ketika jawaban atas doamu tak juga sampai. Tak apa-apa, tunggulah sebentar lagi... kabul untuk sebuah doa selalu datang tepat waktu, sekalipun kita kadang terlambat menyadarinya. Tuhan selalu punya rencana untuk doa-doa kita. Boleh jadi Ia mengabulkan doamu dengan cepat. Dan boleh jadi Ia mengganti doamu dengan sesuatu yang lebih baik.

Mengapa kita harus berdoa? Bukankah Tuhan mengetahui segalanya, termasuk keinginan kita? Riana, Doa tidak ditujukan agar Tuhan mengetahui apa kebutuhan kita. Sebenarnya, kita berdoa agar Tuhan ridha dengan pinta-pinta kita.

Suatu ketika, mungkin saja kamu akan ragu,”apakah doaku akan dikabulkan?” Sebabnya karena kamu merasa kesalahanmu terlalu banyak. Kamu mengira Tuhan sedang membencimu. Tenang saja... tak seperti manusia, Tuhan itu Maha Baik. Ia tak pernah membencimu. Bahkan Ia akan memaafkan kesalahanmu karena doa-doa yang terus kamu baca.

Jika suatu hari nanti kamu merasa hidupmu tak bisa diubah, atau antara mimpi dan keadaan saat ini punya jurang pemisah, tetaplah berdoa. Percayalah, doa itu bukan tentang siapa yang mengucapkan, tetapi tentang Siapa yang mendengarkan...[1]

Riana,

Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu [2]

BANDUNG

TRIAS ABDULLAH

***

Baca lanjutannya : [Part 2] Surat Balasanmu, Riana 

[1] terinspirasi oleh kata-kata Fahd Pahdepie

[2] Puisi Sapardi Djoko Darmono; Dalam doaku


  • senyuman sijingga
    senyuman sijingga
    1 tahun yang lalu.
    penulis itu bagaimana buku yang ia baca. fansnya bang Fahd yaaasaya jugaa... ceritanya dan gaya bahasanya mirip. kereennn lanjutkann yaa. salam kenal

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Belum baca. Mau baca dari part 1 sampai final ah. Komentarnya nanti aja. Baru nemu project ini

  • Ressa Nur Oktiani
    Ressa Nur Oktiani
    1 tahun yang lalu.
    Tak ada yg lebih manis dari pasangan yg saling mendoakan... Kisah yg manis

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    ini cerpen dari true story penulisnya, Pak?
    *ehh

    • Lihat 11 Respon