Mungkinkah kita bisa kembali ke masa lalu?

Trias Abdullah
Karya Trias Abdullah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Mei 2016
Mungkinkah kita bisa kembali ke masa lalu?

Jika bisa, aku ingin mengajakmu ke tahun 2001. Saat dirimu dengan kerudung biru mendarat di lensa kacamataku.

Kamu sedang membaca buku di seberang bangku, menyender ke dinding gerbong kereta. Aku pun begitu, menjadikan tumpuan berada di bahu kananku sambil menggenggam sebuah buku, yang tertutup dan kutandai dengan telunjukku.

Sawah, rumah dan awan masih berlarian di bibir jendela yang menghubungkan kita dalam satu garis lurus berlawanan arah. Setiap tiga lembar sekali, kamu memperhatikan sesuatu di luar jendela kereta. Perlahan pemandangan itu menjadi baris-baris puisi ; ada seberkas cahaya di wajahmu | yang dibalut kain kerudung berwarna biru | Membuat laju kereta melambat | membuat setitik perasaan entah apa namanya merambat cepat.

Siapa kamu? batinku. Kamu menoleh ke arah jendela, semua menjadi bergerak melambat, menjadi tanpa suara.

 “Hatciiiiiiiih....!” aku bersin. Dua tanganku menutup hidung dan mulutku. Kamu memandangiku, seperti menunggu sesuatu.

“Alhamdulillah...” gumamku. Aku masih menutup hidung, kali ini dengan lengan baju.

Yarhamukallah...” katamu.

yahdikumullah...” jawabku.

Pada satu titik waktu, pandangan kita bertemu. Dua setengah detik selanjutnya, pandanganmu jatuh di lensa kacamataku.

Siang itu, Kita bertukar doa dalam keadaan tak pernah mengenal sebelumnya. Kamu nampak menyembunyikan sesuatu di balik tatapan ke arah jendela, di balik lengan kirimu yang menopang dagu. Sementara aku, masih takjub bertemu seseorang berkerudung biru telah mendoakanku.

“Boleh tahu siapa namamu?” tanyaku. Kamu menoleh pelan. Memandangiku penuh ragu.

maksudku, boleh aku tahu alamatmu? Aku ingin berkenalan dengan orang tuamu.” Kataku.

Kini, kamu nampak semakin ragu. Sebenarnya lebih mirip kaget. “aku ingin tahu bagaimana cara Ayahmu mengajarkan agama padamu”

Kamu meraih buku yang aku serahkan. Nampak menulis sesuatu. Empat menit lima belas detik telah berlalu, aku meraih bukuku dari tanganmu. Ada namamu, nama ayahmu dan alamat kalian lengkap di sana, tanpa nomor handphone. Tentu saja.

Masa lalu tidak pernah hilang

Ia ada tetapi tidak tahu jalan pulang,

Untuk itu ia menitipkan surat-

Kadang pada sesuatu yang tidak kita duga Kita menyebutnya kenangan [2]

*** 

Mungkinkah kita bisa kembali ke masa lalu?

Jika bisa, aku ingin mengajakmu ke dua Minggu setelah perjumpaan kita di kereta, ke pagi itu. Pagi yang mengantarkan langkahku tiba di punggung pintu rumahmu.

Ada yang bisa saya bantu?” seorang bapak usia 55 tahun menyapaku sambil menggenggam daun pintu. Rupanya itu ayahmu.

Ayo masuk dulu.” Kata ayahmu. Aku duduk di kursi paling dekat dengan jendela.

Saya bertemu dengan putri bapak di kereta.” Kataku.

Ayahmu masih diam, nampak sedang menunggu sesuatu.

Putri bapak mendoakan saya saat bersin...” Lanjutku.

 “jadi, apa maksud ananda datang kemari?” potong ayahmu.

“Saya ingin banyak belajar pada bapak.” Kataku.

“belajar?” tanya bapakmu. Heran.

Saya ingin belajar banyak pada bapak, dengan cara menikahi anak bapak yang saya temui di kereta...” kataku.

Mungkin saat itu dirimu tengah menunggu di ruang lainnya. Mengintip dari balik dinding kamar.

“hmmmm... begitu.” Kata Ayahmu,“apa yang membuat Ananda begitu yakin?”

“saya sama sekali belum kenal anak bapak. Namun, entah mengapa saya begitu yakin setelah anak bapak mendoakan saya ketika bersin.” Kataku.

“Bapak bisa paham...” kata Ayahmu.

 Kelak akan datang seorang lelaki, entah siapa, menemui Ayahmu. Dan berkata:

Izinkan Aku menjadi imam anakmu di sajadah rindu.

Kelak akan datang seorang lelaki, entah siapa, menemui Ibumu. Dan berkata :

Izinkan anakmu menjadi Ibu untuk anak-anakku. [3] 

***

Mungkinkah kita bisa kembali ke masa lalu?

Jika tidak bisa, tak apa-apa.

Karena sekarang, Aku tak butuh itu. Karena perempuan berkerudung biru itu kini ada di sampingku, tengah menggenggam erat tanganku. Aku tak perlu kembali ke masa lalu, jika aku bisa mencintaimu sekarang.

Mungkinkah kita bisa kembali ke masa lalu?

Jika tidak bisa, tak apa-apa.

Karena kita hanya butuh masa lalu yang berkumpul menjadi masa kini, untuk saling mencintai. Dan hanya butuh masa depan yang bersiap menjadi hari ini, untuk saling memahami.

Aku bangun dengan cinta

Kau rawat dengan doa

Demikianlah kita 

Berumah di tangga

Menuju surga [4]

BANDUNG

TRIAS ABDULLAH

---

[1] gambar karya Yana8Nure. Selanjutnya klik di sini 

[2] Kukila, 2012 via akun Line@ kumpulanpuis

[3] karya oleh Rumahkrapyak via akun Line@ kumpulanpuisi

[4] Fahd Pahdepie, dalam buku Rumah tangga, 2015

PS : merasa familiar dengan cerita ini? tentu saja cerita ini cukup populer. Saya akhir-akhir ini mengetahui kalau kisah ini terjadi pada KH AL-Ny. Hj. SNA, Kedunglumpang, Salaman, Magelang. Saya memutuskan untuk 'mengemas' cerita itu dengan gaya saya sendiri, sekalipun ada perubahan di sana sini.

semoga berkenan dan semoga bisa tetap ada manfaatnya seperti kisah aslinya.