Alarm Keluargaku Menuju Surga-Mu

tressa shufa
Karya tressa shufa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 September 2016
Alarm Keluargaku Menuju Surga-Mu

Alarm keluargaku Menuju surga-Mu

Bergelar S1 modal utama ayah sebagai guru di madrasah aliyah. Ayah usia 40 tahun itu gigih bekerja mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Tentunya menjadi seorang guru tak semudah dicapainya ketika dulu hanya mengandalkan penjualan meubel kayu dan ukir untuk mencukupi kehidupannya. Tempat tinggal kami berada di kota ukir tempat kelahiran pejuang kaum wanita, kartini. Istri kesayangan pagi itu membuka pagi yang agak mendung dengan pertanyaan penuh rasa hawatir “yah, mendung seperti ini apa kayu yang akan dibuat meja bisa kering?” kata ibu. Ayah menjawab dengan santai sambil menikmati sarapannya “ntahlah buk, semoga saja bisa, sudah berdo’a saja”. Dengan tutur kata halus sang suami mendatangkan sedikit ketenangan untuk nasib pekerjaan keluarganya hari itu. Maklum, ketika awal rumah tangga mereka, hanya bermodal meubel yang naik turun dan profesi istrinya sebagai tukang jahit kecil-kecilan.

Pagi itu sang mentari menyambut indahnya hari pertama masuk sekolah aisyah, nama anak pertama ayah dan ibu “syah, ayo bangun .. sholat terus berangkat sekolah sayang..” suara ibunya memecah mimpi anak pertamanya. Bergegas aisyah membersihkan diri, memakai seragam merah putihnya dan dasi mungil yang melingkar di lehernya. “ibuk.. ayah.. aku siap berangkat sekolah..” teriak aisyah kecil dengan penuh semangat. “ayok berangkat sekolah, ayah sudah pinjam motor pakdemu buat nganter anak ayah sekolah SD, minta do’a dulu sana sama ibukmu” kata ayah. Tiba-tiba aisyah mengelak “ayah, aku gak mau dianterin ayah pake motor butut gitu.. aku jalan kaki saja”. Ibunya tersenyum lembut padanya “nak, suatu saat nanti, kita pasti punya motor yang bagus, aisyah berdo’a terus biar Allah ngasih cukup rizki biar bisa beli motor baru, aisyah mau ya.. diantar ayah pake motor itu dulu..” Dengan sifat keras kepalanya itu aisyah tetap bersikukuh dengan pendapatnya. Akhirnya, dengan bersabar ayahnya menuruti keinginan anaknya, sambil menggandeng jemari mungil anaknya sang ayah melantunkan lagu-lagu mengiringi langkah pertama anaknya mencari ilmu.

Waktu berjalan begitu singkat, menginjak usia aisyah 12 tahun. Beralih dari sekolah dasar menuju sekolah menengah pertama. Bahagia rasanya bagi aisyah bisa menambah teman di lingkungan lain. Namun berbeda dengan ayah dan ibunya. Bertambah tingkat pendidikan anaknya maka bertambah pula biaya sekolahnya. Sedangkan keadaan ekonomi keluarganya mulai menurun bulan demi bulan. Dan kenyataan berkata benar, dengan terpaksa, ayah memberhentikan pekerjanya dan tidak lagi menekuni meubel kayunya, pabrik-pabrik besar telah berhasil merambat memenuhi permintaan konsumen dengan cepat. Tak pernah terfikir dalam benak ibu, memberi saran pada ayah untuk mencoba melamar disekolahnya dulu. Dengan bermodal ijazah S1 lulusan universitas swasta di jawa timur. Pagi itu dengan niatan mengamalkan apa yang telah ayah terima semasa belajarnya dulu, melamar pekerjaan di sekolahnya. “do’akan bapak buk, semoga do’a kita terjawab melalui pekerjaan bapak ini” kata bapak yang mulai melangkahkan kaki keluar pintu. “iya pak, ibuk hanya bisa mendo’akan”.

Tiga hari berlalu, tak pernah disangka ternyata jawaban atas do’anya terjawab sesuai harapan. Sujud syukur dan terimakasih serta haru mereka rasakan hari itu, memulai pekerjaannya sebagai pendakwah ilmu dan niat untuk mencukupi kebutuhan anak dan istrinya, gajipun tak menjadi masalah untuk ayah saat itu. Namun keadaannya masih tak sejauh dulu. Sekolahnya yang tak dekat dari rumahnya, menuntut ayah untuk berangkat lebih awal. Tidak menaiki motor pribadi, namun membonceng motor muridnya yang kebetulan adalah tetangga dekat. Berbulan-bulan berlalu masih dengan keadaannya itu, belum memiliki kendaraan sendiri dan mengandalkan muridnya. Namun ayah tak bisa menyerah dan menerima keadaannya itu, beliau adalah sosok yang selalu memotivasi dan harus merubah hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya. Pagi itu, informasi tersebar di kantor guru tempat ayah bekerja, pendaftaran pegawai negeri sipil. Ayah tak langsung mengambil keputusan seperti temannya yang lain. Sesampainya di rumah ayah berdiskusi dengan ibu, meminta saran untuk mengikuti pendaftaran tersebut atau menghiraukannya. Dan akhirnya dengan lembut ibu berkata “mencoba ikut tak ada salahnya, kalau itu akan membawa kebaikan untuk ayah kedepannya”. Ayah tersenyum lebar mendengar tutur kata bidadari surganya itu. Dan atas bujukan teman-temannya pula ayah ikut serta dalam pendaftran.

Tak disangka tak diduga atas do’a ayah dan ibu disepanjang sepertiga malam, mengantarkan mereka menuju jalan lurus. Betapa baiknya Sang Pencipta menuntun. Betapa sayangnya Allah menyebar rahmat-Nya. Nama ayah tercantum sebagai salah satu penerimanya. Berjalan beberapa tahun, kini ayah tak lagi mengandalkan murid sekaligus tetangga dekat, kini ayah diberikan rizki untuk mencukupi kebutuhannya. Sebagai wujud syukur, ayah selalu mengajak ibu dan anaknya untuk terus berbagi pada siapapun. Karena ayah dan keluarga paham bagaimana menjadi orang yang berada dibawah, jangan pernah menoleh keatas karena akan membawa kita semakin haus akan indahnya dunia, syukurilah ketika melihat keatas atas segala nikmat yang Allah berikan, tolehlah kebawah karena semakin menoleh kebawah akan membawa kita terus peduli dan simpati dengan orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Bukankah kita sekarang sehidup sedunia dan pasti menginginkan sehidup sesurga pula. Ayah dan keluarga kecilku yang selalu menjadi alarm untuk tetap bersyukur dalam keadaan apapun, menikmati segala kehendak Allah, karena yakinlah bahwa apapun hasilnya itulah yang terbaik untuk kita. Mengajak hal kebaikan dan selalu mengingatkan itulah kuncinya.

  • view 143